BAGIAN 8

22.6K 1K 5

SELAMAT MEMBACA

BONPICT DANIEL CEK MULMED DI ATAS

DANIEL ANGGARA POV

"Eh om kampret, kalo lo mau tidur. Lo bisa tidur di kamar tamu," ujar Rena yang tengah duduk bersantai sambil menonton televisi.

"Gue nggak mau tidur di kamar tamu," balasku menatap Rena dengan menyeritkan dahiku bingung.

"Lah kok lo nggak mau sih? Masa lo tidur bareng gue. Nanti lo apa-apain gue lagi. Lagi pula kita itu bukan muhrim," ujar Rena kemudian menatapku yang juga menyeritkan dahinya.

"Oh jadi kalo kita udah muhrim, lo mau kan tidur bareng gue," ujarku menatapnya jahil dan menaik-turunkan kedua alisku.

"Tergantung," balasnya.

"Tergantung? Maksudnya?" ujarku bingung.

"Ya tergantung lo ama gue nikah apa nggak. Belum tentu juga kan kita jodoh. Dan belum tentu juga gue mau nikah ama lo," ujarnya menatapku sambil menaikkan sebelah alisnya meremehkan.

"Ya udah kalo gitu kita nikah minggu depan. Gampangkan," ujarku menatapnya sambil tersenyum.

"Emang bisa?" balasnya meremehkan.

"Semuanya bisa kalo gue yang ngatur," balasku percaya diri.

"Gue nggak percaya ama lo." balasnya meremehkan lalu kembali menatap televisi.

"Oh lo nggak percaya ama gue. Ok." ujarku kemudian mengambil ponsel yang ada di saku celanaku lalu mencari kontak seseorang.

"Ngapain lo?" suara Rena tapi aku tak memperdulikannya dan terus mencari kontak seseorang.

Setelah aku menemukan kontak yang aku cari. Aku menekan tombol telfon lalu tidak lama telfon itu pun tersambung.

"Halo Dimas." ujarku pada seseorang di seberang sana.

"Iya tuan. Ada apa tuan menelfon saya? apa tuan membutuhkan sesuatu?" ujarnya di seberang sana.

"Saya mau, kau mempersiapkan pernikahanku untuk minggu depan, dan harus siap lengkap dengan catering, gedung, dan harus yang mewah. Jangan lupa hubungi ayah dan bunda. Katakan pada mereka bahwa saya akan menikah minggu depan." ujarku tersenyum kecil.

Ku rasakan Rena menatapku bingung. Aku hanya tersenyum kecil dan melirik kecil pada Rena.

"Baik tuan akan saya laksanakan." balasnya.

"Ok, kalau begitu saya tutup dulu." setelahnya aku memutuskan sambungan telponku lalu memasukkan kembali ponselku pada saku celana yang aku kenakan.

"Beres." ujarku tersenyum lebar lalu bersandar pada sandaran sofa yang aku duduki.

"Ngapain lo barusan?" ujar Rena menyeritkan dahinya menatapku dengan bingung.

"Nggak usah nanya. Intinya kita berdua menikah minggu depan." balasku tersenyum kemenangan.

"APA!! NIKAH. MINGGU DEPAN!" teriak Rena terkejut dan membulatkan matanya.

Aku hanya membalasnya dengan senyuman kemenangan kemudian menatap televisi yang masih terus menyala.

"ANJING LO, DASAR SETAN, BATALIN GAK!" teriak Rena dan memukulku berkali-kali dengan bantalan kursi.

"Addawww!! Berhenti nggak. Kalo lo nggak berhenti gue telanjangin lo di sini," ujarku dan berusaha untuk menghindari pukulan Rena yang brutal.

"IHHH DASAR MESUM LO." seru Rena tidak lagi memukulku dengan bantal melainkan memukulku dengan tangannya sendiri.

Dengan gerakan cepat aku langsung memutar pelan tubuhnya lalu memeluk tubuh Rena dari belakang yang tidak berhenti memukulku. Rena terus meronta tapi kekuatan tubuhku lebih besar darinya. Dia berhenti meronta dan menatap ke arah depan. Mungkin dia sudah jinak.

"Pliss gue mohon. Lo terima pernikahan ini. Ini juga demi kebahagiaan orang tua kita. Apa lo nggak mau ngeliat orang tua lo bahagia di alam sana," ujarku lembut.

"Tapi gue nggak cinta sama lo. Pliss ngertiin gue," ujarnya.

Aku mengarahkan badannya menghadap padaku. Aku menatap matanya yang mulai berkaca-kaca. Aku langsung memeluk tubuhnya dan merengkuhnya lembut. Rena membalas pelukanku dan ku rasakan Rena mulai sesegukan.

Awalnya memang aku juga tidak menyetujui perjanjian ini tapi setelah ayah menceritakan kisah orang tua Rena yang sangat baik dengan ayah, aku dengan perasaan yang tidak ikhlas menyetujui perjanjian ini dengan pasrah.

Tapi setelah aku melihat Rena. Entah apa yang ada dalam pikiranku. Tapi ada sesuatu yang membuatku untuk terus melanjutkan ini, Aku mulai merasa aneh ketika melihat dia dari kejauhan. Aku merasa bahagia setelah melihat senyumnya, ada sesuatu dalam diriku yang mendorongku untuk terus tetap menjaganya.

Aku memang selalu mengawasi Rena dari jauh. Aku juga mengawasinya dengan mata-mata yang aku tugaskan untuk memantau kegiatan keseharian Rena. Aku juga tau segala kekacauan yang di buat Rena selama di sekolah.

Dan harus kalian tau sekolah itu milik keluargaku. Jadi aku bisa dengan mudah memantau Rena selama di sekolah.

"Gue janji sama lo, Gue bakal buat lo cinta sama gue." ujarku sambil mengelus rambutnya pelan.

Rena terus menangis dan ku rasakan bajuku sudah basa akibat air mata Rena yang terus mengalir.

Selang beberapa menit, tangisan Rena sudah mulai meredah.

"Rena yuk ke kamar, besok lo masih harus sekolah." ujarku.

Rena menatapku lalu menghapus air matanya kasar. Selang kemudian Rena menatapku tajam.

"Lo tidur di kamar tamu titik nggak pake koma dan nggak ada negosiasi." ujarnya lalu berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan ku.

"RENA TAPI GUE MAU TIDUR AMA LO!!" teriakku tapi tak di perdulikan oleh Rena.

Aku hanya menggelengkan kepalaku singkat. Rena, suatu saat nanti kamu bakal cinta sama aku. Aku pastikan itu.










TERIMA KASIH UDAH MAU BACA CERITAKU

JANGAN LUPA VOMENT

MOHON MAAF JIKA ADA KESALAHAN

MY TEACHER IS MY HUSBAND [REVISI] (SELESAI)Baca cerita ini secara GRATIS!