1. Begin

233 45 31
                                        

"Rin."

Aku menoleh. Aku mendapati seorang yang memanggilku, dia sahabatku... Ruli. Dia berlari kecil dari gerbang sekolah menuju arahku berdiri.

"Hm?"

"Lo dapat ruang berapa UTS kali ini?" Tanyanya.

"Ruang 3."

"Eh, lo tau nggak? S-"

"Enggak," ucapku memotong.

"Ishh." ia berdecak kesal, "...katanya mau diacak gitu ruang UTS nya. Jadi, nanti ada yang di ruang 1 berapa orang doang dari kelas 11- IPS7 soalnya kekurangan ruangan, ya gitu deh pokoknya."

"Terus? Emang kenapa?"

"Gue cuma cerita sih. Gue berharap nanti Devan kebagian di ruangan gue." Dia mengulum senyum.

"Ya, ya, ya... terserah lo aja ngehayalnya nyampe mana ya. Gue mau belajar. Bye!" Ucapku.

***

Di ruang 3, ternyata Devan mengikuti UTS di ruang itu. Aku terkejut, pasalnya Devan duduk di sampingku.

Lelaki berkacamata, seorang ketua rohis, yang menurut Ruli tampan itu duduk di sampingku. Aku tidak tahu apapun tentang dia. Rumor yang kudengar hanya tentang dia sang ketua rohis yang tampan.

Selama satu tahun bersekolah disini, aku hanya tau banyak nama siswa-siswi sekolah ini, tapi untuk wajahnya mungkin sedikit saja, bahkan sebagian dari mereka belum kukenal.

"Hai."

"H-hai," ucapku gugup.

Hanya itu, ya, hanya itu yang dia ucapkan saat pertemuan pertama itu. Selama itu aku hanya diam, tak berani menyapanya lagi atau hanya basa-basi pun aku tak berani. Aku bukan takut berbicara dengannya, aku hanya tak berani untuk memulai percakapan.

***
Suasana kantin kini cukup ramai. Ruli dengan lantangnya meneriakiku dengan keras. Sehingga semua orang beralih menatapku.

"MEYRIN!"

"Lo kok bisa sih, sampe duduk sama Devan? Gimana ceritanya?" Tanya Ruli kepo.

"Nggak tau. Dia disuruh pilih sendiri. Eh... malah duduk sama gue."

"Bisa-bisanya dia ngedeketin cewek? Lo tau kan? Devan itu ketua rohis , otomatis harusnya dia agamis gitu, kok bisa ya?"

"Mana gue tau," ucapku.

"Ruli aja heran, liat lo biasa aja, Rin." Nada bicaranya seperti menyindirku.

"Ya, b aja lah. Sesama manusia doang kenapa harus heboh?"

"Secara ya, Rin. Nggak ada cowok yang pernah dekatin lo, apalagi itu cowok agamis? Lo masih tetap b aja, Rin?" Tanyanya seperti memastikan suatu jawaban.

"B aja."

"Lo masih nggak paham maksud gue ya, Rin? Omg! Lo tuh harusnya senang gitu, secara yang dekatin lo itu cowok agamis, bukan badboy apalagi playboy."

"Mana ada cowok agamis naksir gue? apalagi kalo sampai pacaran sama gue, think!" Ucapku.

"Dia juga manusia, Rin, punya hati punya rasa. Bisa aja kan, dia jatuh cinta sama lo. Mungkin dia bisa ngerasain aura kecantikan lo sebagai temen gue." Dia tertawa dengan gaya menutup mulutnya.

Aku hanya diam. Terserah saja apapun pikirannya tentang Devan yang menjadi teman sebangku ku di ruang 3, aku tak peduli. Soal percintaan, aku sudah tahu getirnya percintaan. Aku sudah tahu manisnya perasaan itu. Aku sudah tahu sakitnya kehilangan. Makanya, aku tak peduli.

ImpossibleStories to obsess over. Discover now