Bagian 1

366 50 67
                                        

Damn! Denara melirik arloji yang terpasang di lengannya. Jam tujuh kurang lima belas menit. Bagus Denara, Kamu telat. Denara mempercepat langkahnya, dan mulai menunggu angkot lewat. Tak berapa lama, sebuah angkot lewat. Denara dengan cepat menyetop angkot itu dan menaikinya.

Setelah hampir dekat dengan sekolahnya, Denara menyetop angkot itu, lalu turun dan langsung memberikan uang pada supir angkot yang dinaikinya. Denara berlari menuju gerbang sekolahnya. Dan ternyata gerbang itu sudah ditutup. Denara kelimpungan disana, mondar-mandir mencari cara agar bisa masuk.

Sebuah ide muncul dibenaknya. Dia menghampiri sebuah warung kecil di seberang jalan.

"Pak, saya pinjam tangganya bentar boleh?" izin Denara cepat pada pak soman, pemilik warung kecil itu. Pak soman menoleh ke arah dirinya.
"Eh iya ndok,, ambil saja. Tapi nanti jangan lupa dibalikin ya" pak Soman memberi izin dengan logat jawanya.

Setelah mengucap Terimakasih pada pak soman, Denara dengan cepat mengambil tangga itu. Dan menyandarkan tangga itu di tembok belakang sekolah. Denara mulai menanjaki anak tangga itu. Setelah hampir sampai di ujung, Denara berteriak pada pak soman.

" Pak~~, tangganya ambil sendiri aja yaa.. Hehe" Denara langsung lompat dari tangga itu. Pak Soman yang melihat itu hanya geleng-geleng melihat tingkah Denara.
" Ck, ck, ck, Anak jaman Now, ada-ada saja kelakuane" ujar pak soman pelan.

Denara merasa bersyukur masih hidup setelah melompat dari tembok sekolahnya yang tinggi itu. Denara tersenyum. Sebelum dia ketahuan oleh guru BKnya, Denara langsung berjalan cepat menuju kelasnya yang tak jauh dari TKP.
-*****-

Dengan hati-hati, ia mengintip kelasnya lewat jendela, ia menghela napas lega. Dia membuka pintu kelas dengan hati-hati, jaga-jaga kalau tiba-tiba ada guru yang nongol. Denara membuka lebar pintu kelasnya itu setelah dipastikan tidak ada guru di kelasnya.

Saat Denara memasuki kelasnya, semua mata menatap kearahnya. Membuat Denara diam di ambang pintu. Dan setelah itu, mereka menghela napas lega.

"Apa?" tanya Denara polos dan masih berdiri mematung di ambang pintu.
"Kita kira yang masuk Bu Neni Ra" jawab Andre, ketua kelas di kelas ini. Semua yang melihat mengangguk setuju. Denara yang paham akan hal itu hanya ber'oh'ria, Denara melangkahkan kakinya menuju tempak duduknya. Kelas kembali ribut seperti sebelumnya.

Ada yang mengelompok, ada yang belajar dengan serius, ada anak cowok mengelompok di pojok sedang menonton video kesukaan mereka. Anak cewek yang sedang ngerumpi, Teman sebangku Denara? Dia lagi ngebo, kebiasaannya kalau tidak ada guru, Belia namanya. Kebiasaan yang HQQ :).

Wait. Denara merasa bangku sebelahnya ada yang menduduki. Denara menoleh ke bangku tersebut. Disana, ada cowok yang sedang menatap dirinya intens. Denara merasa risih ditatap seperti itu.

"Lo,, anak baru ya?" Denara memberanikan diri untuk bertanya.
"e, eh.. Iya. Gue anak baru disini" Jawab cowok itu gugup dan langsung tersenyum setelahnya.
"Dikelas ini?" tanya Denara lagi.
"Iya, disini. Di samping Lo" balas cowok itu dengan menahan senyum.
"Yakin? Dikelas ini?" Denara memastikan lagi.
Dahi cowok itu mengernyit bingung. Denara hanya mengangkat satu alis.
"Lah, emang kalo gue disini kenapa?" tanyanya sambil tersenyum.
"Nggak. nggak papa" jawab Denara akhirnya. Dan memalingkan wajah dari cowok itu.

Pintu kelas terbuka, membuat semua aktifitas dikelas ini terhenti. Semua mata mengarah kesana. Bu Neni,Guru Bahasa Indonesia. Guru Killer disekolah ini. Mendengar ketokan sepatu haknya saja membuat aktivitas murid di sekolah ini di urungkan sementara.

"Selamat pagi anak-anak" sapa Bu Neni.
"Selamat pagi bu..." jawab mereka serempak.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Bu Neni.
"Alhamdulillah baik bu.."
"Buka buku paket kalian halaman 37" perintah Bu Neni.

Semua menurut, Cepat-cepat membuka paket mereka sesuai halaman yang diperintahkan.Wajah tegang, takut, tergambar di wajah mereka. Horror. Itulah suasana saat ini.

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

"Nara.." tegur Belia, teman sebangku Denara. Oh, jangan lupakan dia. Belia tadi tidur,hampir kena hukuman bu Neni. Tapi untungnya dia memiliki alasan yang logis. Ratu Drama. Itulah sebutan yang pas untuk Belia.

"Apa Bel?" Denara mendongak, sembari menutup buku sejarahnya.
"Kantin yuk.. Temenin gue" pinta Belia dengan wajah memelas.
"Gue males,nitip aja deh gue" ucap Denara.
"Ish! Lo mah.. Udah telat, gamau bangunin gue, untung Bu Neni percaya sama alasan gue" oceh Belia. Denara hanya memutar bola matanya malas. Denara mengambil Novel yang ada di tasnya.
"Yaudah, kalo lo gamau nemenin. Gue sendirian aja. Bye!" lanjutnya sambil menhentakkan kakinya keluar kelas.

Denara hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya. Denara melanjutkan aktivitas membacanya yang sedari tadi terabaikan. Namun, seseorang menggeser kursi dan duduk dihadapan Denara. Karena Denara merasa diperhatikan, Denara mencoba melihat kedepan. Seorang laki-laki yang sedang tersenyum padanya.

"Hai" sapa Delvin, laki-laki yang tengah tersenyum pada Denara. Denara hanya mengabaikan sapaan laki-laki yang tak dikenalnya itu, dan lebih memilih melanjutkan membaca novelnya.

"Kenalan dong.. Kan kita belum kenalan tadi pagi" ucap Delvin, namun Denara tetap mengabaikannya. Delvin tersenyum kecil. Dia berdiri dan berjalan kearah Denara. Tanpa aba-aba Novel Denara di ambil oleh Delvin. Membuat Denara melotot tajam kearah Delvin.

"Balikin nggak!" bentak Denara,dan berusaha mengambil kembali novelnya. Delvin meninggikan tangannya.
"ih.. Balikin!" Denara terus berusaha mengambil novelnya itu. Tapi,itu sia-sia. Tubuh Delvin lebih tinggi darinya.
"Dasar pendek" ejek Delvin sambil tersenyum mengejek kearah Denara. Membuat Denara kesal setengah mati. Denara mencoba mencari cara untuk bisa mengambil lagi novelnya itu. Dan sebuah ide muncul di benaknya.

Tbc

Bagaimana?? Wkwkwk

PeterPan [On Going]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang