part 22

1.1K 101 8
                                    

"Kamu gak papa? Wajahmu pucat." Nick menatap Tiffany khawatir.

Tiffany menggeleng pelan dan mengalihkan perhatian Nick dengan menyuapinya sepotong sushi. Kejadian beberapa menit lalu masih segar di kepalanya dan akan terus melekat. Dia tidak percaya dengan takdir yang seakan ingin mempertemukan Ella dengan Helen. Untung saja tadi Helen segera pergi karena ponselnya berdering.

"Besok ... aku mau mengajakmu ke rumah." Ucapan Nick menarik kepala Tiffany untuk menghadapnya sehingga tatapan mereka bersirobok. "Aku ingin memperkenalkanmu dengan papa."

Seulas senyum terbit di wajah Tiffany. Dia memilih untuk tidak memikirkan kejadian tadi sebelum pikiran itu pelan-pelan membunuhnya.

**

Sebelum memasuki rumah bergaya mediterania itu, Nick menggenggam tangan Tiffany. Sedangkan sebelah tangannya menyelipkan helaian rambut Tiffany kebelakang telinga. "Kamu selalu cantik ... tidak ada yan perlu dikhawatirkan."

Tiffany berdecak kemudian melengkungkan bibirnya. Hiburan Nick cukup membuat dirinya sedikit tenang. "Baiklah Pangeran, ayo kita masuk menemui Raja." Dia tersenyum geli dengan ucapannya sendiri.

Nick ikut terkekeh lalu membuka pintu depan rumahnya. "Silahkan, Tuan Putri."

Setelah masuk, mereka berjalan ke arah ruang makan di mana terdengar suara pria paruh baya yang sedang menyuruh kokinya agar menyiapkan hidangan yang lezat.

Pria yang kerap dipanggil Satrio itu langsung menyambut mereka dengan senyum hangat saat Nick menyapa, "Pa, iniTiffany, pacarku."

Tiffany menyalami tangan Satrio. "Halo Tiffany, Om sudah dengar tentangmu dari Nick."

Satrio mempersilahkan mereka duduk sebelum kembali berbincang. "Kalian satu dapur, kan?"

"Iya, Om. Saya sebagai pastry chefnya."

"Berarti saya harus berterima kasih padamu karena telah menjadi tangan dari Value Hotel."

Tiffany tidak tahu harus berekspresi seperti apa karena jujur dia bingung kenapa Satrio yang berterima kasih padanya. Kalimat Satrio selanjutnya berhasil mengganti kebingungannya menjadi keterkejutan.

"Kalau sekarang Nick juga ikut menjadi bagian dari tangan Value maka nanti dia akan menjadi otak Value ketika Om gak ada." Dia melihat raut terkejut Tiffany lalu terkekeh pelan. "Sepertinya Nick tidak memberitahumu."

"Sudahlah Pa, ayo kita makan dulu," sela Nick.

"Eh, tunggu. Kita masih harus menunggu seseorang lagi." Satrio menatap Tiffany kembali. "Maaf ya, mungkin dia sedang mempercantik diri untuk pertemuan ini."

Tiffany ikut tersenyum karena dia tahu orang yang sedang mereka tunggu adalah calon ibu Nick. Satrio kembali melontarkan pertanyaan seputar dirinya seperti, sekarang tinggal di mana, ada berapa saudara dan ingin mencicipi kue buatannya.

Ketukan heels terdengar semakin mendekati mereka. "Maaf ya Mas, tadi kejebak macet."

Satrio berdiri untuk menyambut perempuan yang akan dinikahinya. "Gapapa kok, mereka juga belum lama datangnya."

Ketika Nick berdiri, Tiffany masih duduk mematung. Dia memberanikan diri untuk menengadah ke atas saat Nick menggenggam lengannya pelan. Dia bangkit dan matanya bertemu dengan mata melebar milik seseorang.

"Ini Helen, calon mama Nick dan ini Tiffany, calon menantu kita," ujar Satrio sambil tersenyum manis.

Helen yang awalnya membisu sesaat segera mengubah ekpresinya. "Senang bertemu denganmu." Kini dia terlihat lebih tenang dan menyapa Tiffany seolah mereka baru pertama kali bertemu.

Sama halnya dengan Helen, Tiffany hanya bisa menyembunyikan perasaan gundahnya dan berpura-pura tidak mengenal Helen.

Mereka melewati makan malam dengan sedikit membahas masalah pekerjaan. Dari sana, Tiffany mengetahui kalau sekarang Helen seorang pemilik perusahaan real estate. Dia juga bisa melihat bagaimana Helen terlihat lebih berkuasa dan berdaya dibanding Helen yang dulu dia kenal.

"Nick, ayo ikut papa bentar." Satrio mengajak Nick untuk berbicara berdua setelah mereka menyelesaikan santapannya.

"Tunggu bentar ya," ujar Nick pada Tiffany kemudian meninggalkan Tiffany dan Helen dalam kebisuan.

Setelah didengar suara pintu kamar tertutup, Helen meneguk minumannya kemudian berkata lirih, "Aku ingin mengutuk takdir dan memintanya agar kita tidak pernah dipertemukan."

Tiffany hanya memandangnya dengan batin berkecamuk. "Satrio dan aku akan segera menikah. Sepertinya dia sudah mengakuimu sebagai menantu." Dirinya kehilangan kata untuk membalas ucapan Helen maka dibiarkannya perempuan itu melanjutkan kalimat yang menohok hatinya. "Aku harap kamu tidak menjadi batu hambatan agar kamu dan Nick juga bisa hidup dengan tenang."

Helen menatap Tiffany dengan tajam dan berucap pelan, "Aku harap kamu mengerti maksudku."

**

Dalam perjalanan pulang, Tiffany hanya menjawab iya dan hm ketika Nick berbicara padanya. Sesekali juga dia memaksakan senyum agar Nick tidak khawatir.

Tapi Nick tidak bisa dilabui seperti begitu. Setelah tiba di depan rumah Tiffany, dia menangkup wajah perempuan itu dengan kedua tangannya. "Kamu sakit? Dari kemarin, wajahmu terlihat tidak baik."

"Mungkin hanya kecapekan," jawab Tiffany dengan tegar agar Nick bisa segera pergi dan membiarkan dia bergelut dengan pikirannya sendiri.

"Yauda, kamu langsung tidur ya. Kalau ada apa-apa, telepon." Nick mendaratkan sebuah kecupan di dahi Tiffany.

"Hati-hati," lambainya memerhatikan Nick yang mulai berjalan keluar dari gangnya.

Dia masuk kedalam rumah setelah sosok Nick menghilang. Keadaan rumah sudah sepi dan lampu sudah dimatikan. Saat masuk ke kamarnya, dia duduk di ranjang sambil memandang Ella yang memeluk gulingnya.

Dielusnya rambut Ella pelan agar tidak membangunkan gadis kecil itu. Jika suatu saat orang tua kandungnya ingin membawanya kembali, kamu harus mengembalikannya. Ucapan Yuni kala itu mengiang di kepalanya. Rekaman perkataan Helen tadi juga ikut berputar di otaknya.

"Apa yang harus kulakukan?"

Chasing RainbowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang