1 // C

17.5K 381 5
                                        

"Ayah bercanda ya?"

"Ayah tidak pernah seserius ini, Kezia."

"Mengapa tidak Kak Riana saja? Ia lebih tua dariku dan ia lebih siap untuk menikah!"

"Ayah dan Bunda merasa kamu akan lebih cocok dengan dia."

"Tapi Ayah, aku baru 22 tahun."

"Ayah tak mau mendengar penolakan. Ini yang terbaik buat kamu."

"JADI MENIKAHKANKU PADA ORANG ASING YANG TAK KUKENAL ADALAH HAL YANG TERBAIK UNTUKKU?"

"Kezia! Jaga bicaramu! Beliau Ayahmu! Dan kamu sudah mengenalnya saat kecil!" Bunda yang berada di samping Ayah memarahiku. Cukup sudah. Aku berdiri meninggalkan mereka lalu berjalan menahan amarah ke arah kamarku. Sesampainya di kamar aku mengunci kamar dan menimpakan tubuh pada kasurku. Aku menangis sejadi-jadinya. Jadi ini rasanya ketika orang tuamu menjodohkanmu, sementara kau menyukai orang lain. Hmph. Sekarang aku tahu apa yang dirasakan tokoh-tokoh di cerita-cerita Wattpad yang suka kubaca. Tidak kukira akan sesakit ini. Aku tak tahu mengapa, hanya saja dadaku terasa sesak dan dihujam beribu-ribu jarum. Mungkin hati ini terasa sangat sakit mengingat cintaku ini bertepuk sebelah tangan pada sahabatku, Andre.

Aku mengedipkan mataku. Aku merasakan pusing dan sakit di kepala. Aku terlalu banyak menangis sepertinya dan tertidur. Kulirik jam yang ada di nakas. Jam 5 pagi. Hari ini hari Sabtu, jadi kupikir aku bisa kembali bermesraan dengan guling. Sayangnya, baru saja aku berpikir seperti itu, sebuah ketukan di pintu membuyarkan pikiranku.

"Kezia, kamu sudah bangun? Bunda boleh masuk?"

Aku mengangguk. Lalu tersadar bahwa Bunda tidak mungkin melihatku, dasar bodoh! Aku mengutuk diriku sendiri.

"Udah, masuk aja Bun."

Kulihat pintu bergerak dan Bunda muncul dari belakangnya. Bunda menghampiriku lalu duduk di sisi samping tempat tidur.

"Sayang, Bunda harap kamu mau menerima pernikahan ini," Bunda mengelus kepalaku lembut, "Bunda tahu Nathan adalah anak yang baik dan penyayang. Ayah dan Bunda sayang sekali kepadanya. Kami sudah menganggapnya anak kami juga. Kamu bahkan sering bermain dengan dia. Waktu kita pindah, kamu nangis kencang sekali karena kamu tak mau berpisah dengan Nathan. Ayah sampai kerepotan mengurusi kamu."

Aku menatap Bunda tak percaya. Aku tak mengingat satu pun kejadian yang baru saja Bunda beritahu. Aku terdengar seperti anak yang manja sekali waktu kecil. Sekarang juga masih manja sih, hehe.

"Asal kamu tahu Kezia, orang tua Nathan, Om Christo dan Tante Lia adalah orang tua yang keras. Karena Nathan anak tunggal, mereka memiliki harapan yang tinggi terhadap Nathan. Karena Nathanlah pewaris tunggal perusahaan mereka. Tentunya mereka sayang pada Nathan, tapi mereka pikir Nathan bahagia dengan uang yang mereka dapatkan, oleh karena itu mereka memilih bekerja lebih giat dan jarang membagi waktu kepada Nathan, walau tindakan mereka itu malah membuat Nathan tidak bahagia."

"Bagaimana Bunda bisa tahu itu semua? Lalu apakah Bunda memberitahu Om Christo dan Tante Lia tentang semua itu?"

"Darimana Bunda tahu itu rahasia. Dan Bunda sudah memberitahu Om Christo dan Tante Lia dengan cara yang halus, tapi mereka tidak begitu menghiraukan perkataan Bunda. Mereka sebenarnya sayang sekali dengan Nathan, walau cara mereka berbeda untuk mengekspresikannya. Tidak ada kata untuk terlambat, Ayah dan Bunda sayang dengan Nathan maka kami berniat untuk menjodohkan dia dengan kamu sayang. Bunda yakin kamu bisa membawa perubahan dalam hidup Nathan."

Melting My Husband's Cold Heart {ON HOLD}Stories to obsess over. Discover now