Bruak..
Telapak tangan lembut Anita dibenturkannya pada meja Rasya. Dan tentu saja kelakuannya itu telah menghancurkan lamunan Rasya yang berkelana tak tau arah.
"Kantin yuk! laper nih perut gue," kata Anita menampakkan wajahnya.
"Biasa aja kali, hampir aja jantungan gue," jawab Rasya mengelus dada.
Dua sahabat itu meninggalkan kelas XII IPS 2 dan mengayun langkah ke kantin.
"Nit, salah gue apa sih?"
Suara pasrah Rasya menggetarkan gendang telinga Anita. Ia pun menghentikan langkahnya. Ia menatap wajah sahabatnya khawatir.
"Hah? maksud lo apaan sih, gue gak ngerti,"
"Gue capek Nit, gue dah gak sanggup nahan sakit hati gue." jawab Rasya lirih.
"Soal Andre? Kan gue dah bilang, lo lupain aja tuh si Andre, percuma Ras hati Andre udah membatu, lo kejar dia sekenceng apapun tetep aja kan dia gak hirauin lo," jawab Anita menjelaskan sambil merangkul pundak perempuan berambut ikal itu.
"Terus gue harus gimana? Gue suka sama Andre, Nit,"
Rasya melepas rangkulan Anita dan menggandengnya melanjutkan langkah ke kantin, sebab Anita hanya terdiam tak menjawab.
Mereka duduk di kursi yang masih kosong. Anita meninggalkan Rasya di meja kantin bersponsor teh botol sosro itu untuk mengambil makanan. Ya memang begitu. Biasanya juga begitu, Rasya duduk manis, dan Anita yang memesankan makan.
"Nih kesukaan lo, nasgor tanpa kecap," kata Anita meletakkan piring berisi makanan di hadapan Rasya.
Sekejap Anita memperhatikan mata Rasya. Rasya bahkan tidak menyorot makanan kesukaannya itu.
"Ras, aduh lo jangan ngelamun terus dong, entar kesambet loh," kata Anita melambaikan tangannya di hadapan wajah Rasya.
"Ah, lo apaan sih, siapa juga yang lagi ngelamun," jawab Rasya memanyunkan bibir beroleskan lip balm aroma cherry.
"Yaudah terserah lo, ini nasgornya lo makan gih,"
"Iya iya, makasih Anita!" seru Rasya.
Perempuan berkulit sawo yang terlalu matang itu menunjukkan deretan balok-balok gigi putihnya. Jemarinya mencubit pipi Anita dengan gemas.
"Ih, lo kenapa sih Ras, tiba-tiba begitu," cengir Anita melanjutkan mengangkut suapan nasi ke dalam mulutnya.
"Nit, gue lagi seneng sekarang," seru Rasya tersenyum lebar.
"Gila emang, habis sedih tiba-tiba seneng aja tuh ati," jawab Anita menaikkan alis tipisnya.
"Lo liat deh, itu loh yang lagi makan bakso di meja 4,"
Rasya merendahkan kepala Anita dan telunjuknya mengarahkan mata Anita pada sosok laki-laki.
"Aduh.. sahabat gue pengen sama adek kelas ini ceritanya?" goda Anita mencolek dagu Rasya dengan mengedipkan mata kanannya.
"Ganteng kan?"
Belum Anita mengangguk, Rasya merogoh saku roknya dan mengambil ponsel ber-casing goldnya.
"Eh, lo mau apa?" tanya Anita menahan tawa.
Ujung jempol Rasya mengetuk aplikasi kamera dan mengarahkannya pada sosok laki-laki tadi. Zoom... dan cekrek, dapat!
"Yes, dapet!" girang Rasya berdiri meninggalkan kursi kantin.
"Lo bayarin nasgor gue ya, bye.." tambah Rasya meninggalkan Anita.
"Kebiasaan tuh anak, kalo lagi sedih aja nempel sama gue, tapi kalo udah seneng lupa sama gue," gerutu Anita sambil mengeluarkan dompet dari sakunya.
Ia pun kembali ke kelas seorang diri dan dari balik pintu kelas, muncullah Rasya.
"Dor! Kaget kau!" seru Rasya menghibur Anita.
"Aduh, daku terkejut," cengir Anita menunjukkan sifat lebay karena ia sama sekali tidak terkejut sebenarnya.
"Ih Anita jangan marah," goda Rasya mengikuti Anita.
Anita duduk di kursinya dan memberikan ponsel dari genggamannya kepada Rasya.
Layar yang belum terkunci itu menunjukkan bahwa ponsel itu baru saja digunakannya. Rasya menerima ponsel itu. Matanya tajam membaca tulisan-tulisan yang tertera di layar ponsel.
"Reno Aditya? Kelas XI IPS 1? What?!"
Seketika Rasya memeluk tubuh kurus Anita. Dekapannya sangat erat.
"Makasih Anita!" teriak Rasya yang masih loncat-loncat gak jelas.
"Ini gue sempetin tanya ke dia buat lo" sahut Anita.
"Beneran? Lo tanya langsung ke dia? Kenapa ga ngajak gue sih?!" protes Rasya dengan melipat kedua tangannya di dada.
"Ya Tuhan tolonglah hambamu ini.."
Anita yang refleks berdoa seperti itu membuat Rasya mengerutkan keningnya. Memangnya Anita kenapa? Dengan polosnya, Rasya justru mengelus pundak kiri Anita seolah memberi semangat ketabahan.
"Nit.. yang sabar ya.. Tuhan pasti nolong lo kok, rajin sholat ya Nit.." ucap Rasya tersenyum tulus.
"Lo kapan sih Ras pinternya? bikin gue naik darah aja!" Nada bicara Anita seperti kesal sungguhan.
"Ah, gue ga paham Nit, yang jelas dong kalo ngomong" Rasya memanyunkan bibir tipisnya dan menyipitkan matanya.
"Ya Allah.. gini Ras, lo tadi kan ninggalin gue di kantin, dan barusan lo protes kalo gue ga ngajakin lo ke Reno. Otak lo tolong dikondisikan deh" jelas Anita panjang hingga mulutnya berbuih.
Dan lebih mengesalkan, yang diberi penjelasan malah nyengir polos bagai tak punya dosa. Lalu sedetik kemudian terkekeh geli.
"Ahahahah maaf deh.. dimaafin ya Nit?"
"Anita? Kok diem aja?"
"Anita Paradya Naura?"
"Nit?!"
Saking jengkelnya, Rasya memutuskan pergi meninggalkan Anita yang masih manyun seperti anak balita yang lagi ngambek.
"Bukannya dibujuk, malah ditinggal! Untung sahabat!" gerutu Anita sambil menghentakkan kakinya ke lantai beberapa kali.
Informasi singkat. Tapi dapat menutupi luka sebentar. Sebab apa? Cinta sebelah pihak 'semoga' mulai usai. Beralih mata ke hati lain itu sulit. Dan semoga juga, ini yang disebut peralihan hati.
YOU ARE READING
Move On Mode On [REVISI]
Teen Fiction"Benar, kamu hal terbaikku, namun juga menjadi yang terburuk." Bercerita tentang gadis SMA bernama Deandra Arasya yang menyukai Andrean Nauval, lelaki yang bahkan tidak pernah meliriknya sedikitpun. Sudah berulangkali Rasya patah dibuatnya. Rasya me...
![Move On Mode On [REVISI]](https://img.wattpad.com/cover/132104309-64-k99971.jpg)