Memoir of You

1.8K 18 0
                                        

Untuk : Kim

Jika kau melihat ke depan, kau akan melihat masa depan. Jika kau melihat ke atas, kau akan melihat harapan. Jika kau melihat ke bawah, kau akan melihat orang-orang yang menyayangimu. Jika kau melihat ke belakang, kau akan melihat masa lalu.

Masa lalu ada bukan untuk dilupakan, melainkan utnuk dikenang. Dikenang sebagai pelajaran agar tidak melakukan kesalahan yang sama dan petunjuk untuk hidup yang lebih baik.

Sepertinya aku sudah memberikan kado ulang tahun terburuk untukmu dan aku sepertinya mimpi buruk bagimu. Bukankah aku tampak seperti dewa kematian di matamu?

Aku... benar-benar minta maaf untuk semua yang telah kulakukan, terutama yang menyakitimu. Jika kau tak bersedia menerima ini tolong jangan dibuang. Simpanlah di tempat yang tak mungkin kau melihatnya lagi. Abaikan saja, tapi jangan kau buang.

Kenangan-kenangan yang menyakitkan adalah apa yang dapat membantu kita membuat masa depan dan membuat kita kuat. Itu berlaku untuk semua orang, kan?

Dari : Nico

Napasku terengah membaca surat itu. Aku tidak tahu sejak kapan membaca menjadi aktivitas melelahkan seperti itu. Dadaku kembang kempis entah karena apa. Wajahku mungkin sangat aneh saat itu. Rasanya sakit sekali, seperti disiksa sebelum dibunuh.

Tanganku gemetar menggenggam kertas itu. Perlahan tenagaku habis, kertas itu meluncur dari tanganku. Air mataku mengucur deras tapi bibirku hanya bergetar tanpa suara bisa kukeluarkan. Rasanya sakit sekali, aku meremas kepalaku yang serasa mau meledak dengan kedua tanganku. Aku berteriak sekeras kubisa, melepaskan semua yang sudah tertahan.

Aku tidak tahu, aku tidak bisa mengingat rasa sakit apa yang kurasakan. Tak kusangka orang sepertiku memendam begitu banyak rasa sakit. Mungkin seseorang pernah terluka. Terluka karenaku. Sisi lain dari diriku pernah melukai seseorang, hanya aku tak bisa ingat. Siapa? Suara pintu kamar terbuka terdengar. Suara panik orang-orang rumah menjadi saura terakhir yang kudengar sebelum semuanya menjadi gelap.

.......

Ponsel di meja belajar itu terus bergetar sambil berputar-putar. Namun pemiliknya hanya menatapnya dingin dari tempat tidurnya. Mungkin orang yang menghubungi itu lelah, jadi ponsel itu berhenti berputar-putar. Namun tak selang waktu lama, getaran itu kembali. Seolah orang di seberang sana tidak mau menyerah.

Itu sudah terjadi berulang kali. Namun Nico hanya duduk di atas ranjangnya sambil membaca majalah dan mendengarkan musik dari earphonenya. Setelah kesekian kalinya, kini Nico bergeming. Ia berdecak, mungkin sudah bosan dan merasa terganggu dengan tingkah ponselnya. Ia bangkit, meraih ponselnya, lantas mematikannya. Ia menganggukkan kepala sambil tersenyum senang. Tidak ada yang mengganggunya lagi, pikirnya.

"Nico! Ada temanmu datang!" teriak ibunya dari lantai bawah. Nico membelalakkan kedua matanya, "Aiih! Cowok keras kepala." umpatnya. "Nico!" panggilan ibu kembali terdengar. Kemudian hening. Namun Nico paham itu berarti ibunya menuju ke kamarnya atau mengutus Alma, kakak perempuannya untuk datang ke kamarnya.

Nico cepat-cepat ke luar menuju balkon kamarnya yang menghadap halaman belakang rumah. Melalui pohon mangga yang cabangnya condong ke balkon kamarnya ia turun. Begitu menginjak tanah ia langsung melesat menuju gudang milik Alfa, kakak laki-lakinya. "Syukurlah..." Nico mengelus dadanya begitu sampai di gudang yang dijadikan bengkel motor oleh kakak pertamanya, "Bang Alfa pasti masih di kampus atau ngelayab. Untung nggak dikunci." ia terkikik pelan, gembira.

Cerita di Ujung WaktuDes histoires addictives. Découvrez maintenant