Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

Prolog

7.3K 185 12
                                        

'Karena saat bersamamu, menjadi angin pun aku mampu, asalkan itu membuatmu menyadari arti hadirku di setiap hembusan nafasmu'

~Kinala~

***

​"Bimo..."

​"Bimo..." panggil gadis itu untuk yang sekian kalinya. Namun yang dipanggil justru tak menyahut sedikit pun.

​Gadis itu melirik ke arah telinga Bimo yang terpasang headset. Sedetik kemudian, ia tersenyum usil.

​"Aa Bimo!" teriak gadis itu tepat di telinga Bimo.

​Kinala tersenyum menatap Bimo. Bimo mendengus kesal. "Apa lagi sih, Kutil? Lo nggak bisa ya lihat gue tenang sehari aja?"

​"Ish, Bimo. Nama aku Kinala, bukan Kutil."

​"Peduli amat."

​Bimo kembali memasang earphone-nya, bersandar di bawah pohon, lalu memejamkan matanya kembali.

​"Bimo, aku mau cerita..."

​Bimo tak merespon, tapi Kinala tahu ia sudah kebal dengan si pangeran es yang irit bicara itu. Kinala melanjutkan ceritanya.

​"Bimo tahu nggak, di kelasku ada murid baru lho, dia cowok," lanjut Kinala dengan menekankan kata cowok pada kalimatnya.

​Ia sedikit melirik ekspresi wajah Bimo, berharap ada sedikit perubahan di sana. Namun, cowok itu tetap memejamkan mata dan tampak tak peduli.

​Kinala tidak menyerah. Ia merebut pemutar MP3 dan earphone di telinga Bimo, lalu menyembunyikannya di balik tangan.

​"Bimo..."

​"Ish, rese lo. Balikin nggak!"

​"Makanya dengerin dulu aku cerita. Tahu nggak, anak baru di kelasku itu cowok."

​Kinala mendekatkan wajahnya ke arah Bimo. "Dan dia jauh lebih ganteng dari kamu..." bisiknya.

​Bimo tetap memasang wajah datar.

​Kinala masih belum menyerah dan melanjutkan kata-katanya. "Dan dia... beda sama kamu. Dia baik, nggak jutek, dingin, datar, kaku kaya kamu. Hayo..." Kinala semakin mendekatkan wajahnya ke Bimo.

​Bimo tetap bergeming.

​"Terus, apa hubungannya sama gue?"

​Kinala akhirnya menghela napas pasrah. "Ck, kamu nggak cemburu gitu? Gimana kalau dia suka sama aku, gimana... gimana?"

​"Masa bodo."

​"Kalau aku... pindah ke lain hati, ke hatinya dia, gimana?"

​Wajah Bimo sedikit terkejut mendengarnya. Kemudian, ia tersenyum simpul.

​"Kalau aku nggak suka kamu lagi, gimana... hayo?"

​Bimo berdiri dan merebut pemutar MP3 serta headset dari tangan Kinala.

​"Masa..."

GUMADDICTCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang