Never click suspicious links
Reminder: Wattpad will never ask for passwords, payment information, or other sensitive account security details.

Sera Anjani

12K 425 13
                                        


Ini sudah terlalu malam bagi orang awam untuk menghabiskan semangkuk sereal. Tapi Sera masih saja menekuni mangkuk nya dengan earphone yang menyumpal telinga.

I watched you die
I heard you cry every night in your sleep
I was so young
You should have known better than to lean on me

"Kamu lapar?" tanya Gina yang berjalan menuruni tangga dengan balutan baju tidur navy nya, "Kenapa nggak bangunin Bunda, nak?"

Sera menyendok kembali serealnya, "Aku masih bisa bikin sereal sendiri," kata Sera yang kemudian menenggak air putih dalam gelas.

"Bunda pulangnya kemaleman ya?"

"Hmm," gumam Sera dengan tangan dan mata tertuju pada ponsel.

Gina menghela nafas, tangannya terulur menyingkirkan mangkuk sereal yang sudah kosong  lalu menarik perlahan ponsel Sera, "Kalau Bunda bicara, jangan diacuhin begitu nak, Bunda pulang kemaleman?" ulang Gina atas pertanyaannya.

"Aku ngantuk, Nda. Mau tidur" ujar Sera yang siap meninggalkan meja makan setelah mendapatkan kembali ponselnya.

"Sera" cegah Gina menahan tangan anaknya, "Lampu kamar jangan lupa dimatikan,"

Sera mengangguk sambil menarik tangannya lepas dari cekalan Gina. Dia melangkah cepat meninggalkan meja makan namun langkah itu melambat saat melewati ruang keluarga menuju tangga.

Hati Sera bimbang, satu sisi dia ingin kembali menghampiri Gina dan meminta maaf atas sikap acuhnya namun sisi Lucifer dalam hati Sera menolak.

"Kenapa nak?" Sera menoleh, "Kenapa berhenti disitu? Katanya mau tidur,"

"Nggak apa-apa," canggung Sera yang kembali melangkah meninggalkan Gina di ruang keluarga.

Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba saja Sera merasa menjadi medusa, apa karena Gina yang membawa pulang anak angkatnya? Akh, Sera meringis dalam hati.

Namanya Rafa, bayi 5 bulan yang Gina adopsi dari sebuah panti asuhan tidak jauh dari komplek perumahan mereka. Lucu, bagaimana bisa Sera merasa tersaingi dengan anak yang bahkan belum mampu berjalan?.

Lucifer mempengaruhinya, karena selama 16 tahun kamu menjadi puteri rumah, menjadi puteri Sera satu-satunya.

Sera menghela nafas dengan bantal yang menopang dagunya.

Rafa.

Kenapa Sera tidak lahir saja sebagai seorang bayi lelaki? Bayi yang diingini oleh seorang pengusaha furniture yang kini tengah tertidur dikamar Gina bersama bayi itu.

Tidak tidak! Bukan berarti Adnan memperlakukan Sera dengan buruk sebagai anak yang tidak diharapkan. Adnan menyayangi Sera, tentu saja, tapi ada tatapan berbeda saat keduanya bertemu dan tertawa.

Seperti ada yang mengganjal.

Berbeda sejak Gina dan Adnan pulang bersama Rafa dua hari yang lalu, Sera melihatnya, Sera melihat tawa berbeda yang tidak pernah dilihatnya di wajah Adnan.

Tawa yang menunjukan bahwa pria itu adalah pria yang bahagia.

Suara tangis bayi.

Sera membekap telinganya dengan bantal sebanyak mungkin. Cukup, cukup dua hari Sera mendatangi sekolah dengan kantung mata hitam. Dia ingin tidur nyenyak malam ini, karena besok ada 40 soal matematika yang perlu Sera selesaikan.

Tangisan itu makin keras seiring Sera mengeratkan bekapan telinganya "Nda, berisik!" jerit Sera yang tentu saja tak mungkin didengar.

Mana mungkin Sera sanggup merusak jalinan kasih antara Adnan dengan anak baru pria itu.

♣♣♣

SERAGA (Completed)Stories to obsess over. Discover now