Kesalahan (Part I)

445 69 11
                                    

Author's Note: Oke, ini dah kebablasan banget buat ngincer plot jalannya lebih jauh. Lol. Soal gambar, yang di atas itu gambar Pangeran Alvaron by P3ndrag0n. Kalo yang di bawah, lagi-lagi nyomot dari google, lagi-lagi si Uther dari Merlin. Wkwkwk. Well, rata2 casting-nya ini nyomot dari sana mulu :v

Prev Chap: Sesuai perintah raja, Leonore membujuk Putri Ester untuk menerima lamaran dari kerajaan Magna. Namun, hal itu memicu kemarahan sang putri. Ketika mereka ke desa utara, kesedihan Putri Ester memuncak hingga dia menunggangi kuda dan keluar dari desa tanpa Lumeprodia. Leonore terpaksa mengejar dan terluka dalam proses. Ketika Droxa-droxa sudah siap menyerang, mereka ditolong oleh seorang pria misterius.

******

"Ada apa ini?"

Beberapa suara tapak kuda mengalihkan perhatian ketiga orang yang tengah berdiri. Dari belakang si pria misterius, dua buah kereta kuda mendekat. Putri Ester mengenali salah satunya. Hanya keluarga bangsawan Had yang memakai cat pink terang mencolok untuk warna kereta. Bahkan kuda mereka berpelana pink.

Dari balik jendela kecil di sisi kereta, seorang pria berkumis tipis menyembulkan kepala. "Apa Anda baik-baik saja, Tuan Pangeran Alvaron?"

Leonore tertegun mendengarnya. Dia sudah bersiap melangkah, tetapi pergerakan malah semakin meningkatkan rasa sakit. Pemuda itu jatuh pada lutut, masih sambil menggenggam pedang Lumegladio, menancapkannya di tanah seolah itu bisa mencegahnya terjatuh lebih jauh.

Sementara Putri Ester memegangi Leonore dengan tatapan khawatir, Pangeran Alvaron mengamati.

"Tuan Pangeran?" tanya si pria berkumis lagi.

Butuh beberapa saat untuk Pangeran Alvaron menatap si pria. "Ada orang yang harus saya tolong. Mereka tidak punya Lumeprodia."

Si pria berdecak sebal. Siapa orang gila yang berani keluar dari Lumeprodia? Mereka malah menghambat perjalanan. Tanpa berniat turun untuk memeriksa, pria itu menanyakan sekadarnya ke kusir.

"S-saya rasa itu ... Tuan Putri Ester dan Tuan Leonore."

"Hah?!" Si pria kembali menyembulkan kepala dari kereta, tetapi mata birunya tidak menemukan sosok yang dimaksud. Dengan tergesa-gesa dia keluar. Begitu melihat kedua orang yang dimaksud, pria itu membeliak. "Tuan ... Tuan Putri Ester?!"

"Paman Had! Leon ... Tolong bantu Leon!" Setetes airmata turun membasahi pipi Putri Ester. Ketakutan terpancar di wajahnya.

Ketika Paman Had masih terdiam—bingung harus berbuat apa—Pangeran Alvaron mengambil inisiatif. "Tuan Kusir, tolong bawa pemuda itu ke dalam kereta saya."

Kusir di kereta hitam bercorak emas itu bergegas turun. Paman Had juga menyuruh kusirnya untuk membantu. Mereka membawa Leonore ke dalam kereta hitam, mendudukkannya di sana dengan hati-hati. Tentunya Leonore sudah melepas pedang Lumegladio hingga menghilang. Namun, kewaspadaannya tetap terjaga, terutama setelah Putri Ester dan Pangeran Alvaron ikut masuk.

Di dalam, Putri Ester berniat merobek rok gaunnya ketika Pangeran Alvaron menyodorkan selembar kain.

"Terima kasih." Putri Ester mengambilnya dengan ragu. Teksturnya lebih mirip handuk, kasar dan mudah menyerap air.

"Maaf, saya cuma punya itu, soalnya saya sering muntah ketika berkendara."

Putri Ester membelalak. "Aku pakai punyaku saja kalau begitu."

"Ah! Tapi saya belum pernah memakai kain itu!" Pangeran Alvaron mencegah sang putri yang kembali berniat merobek gaun.

Putri Ester menyipitkan mata. "Benarkah?"

Exolia (Trace of A Shadow #1) - [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang