-Meow- 2

3.9K 199 384
                                    

"Hai, Galen."

"Pagi, Galen."

"Mau kemana nih ketua?"

Sapaan cempreng dari orang yang lalu lalang hanya dibalas Galen dengan senyuman kecil di bibirnya.

Dia menghela napas dan terus berjalan melewati cewek-cewek yang kadang menyapanya lagi dan cowok-cowok di sekolahnya yang sok akrab menepuk punggung lebar Galen.

Tujuannya ke Ruang Kepala Sekolah. Dia akan mengajukan pengadaan acara amal yang belum pernah dilakukan oleh SMA Harapan Nusa.

Tok Tok Tok

Acara ini juga merupakan kegiatan amal yang baru diusulkan tahun ini oleh Galen. Acaranya bertakjub keakraban siswa seluruh SMA Harapan Nusa di malam hari. Seperti pensi pada umumnya.

"Permisi Pak." Galen berkata tersebut kepada kepala sekolahnya setelah menutup pintu ruangan tersebut.

"Galen, ada apa? Mari duduk dulu." kepala sekolahnya berkata sambil menyesap secangkir kopi. Di tangan kiri pria paruh baya itu terdapat berkas-berkas berlogo sekolahnya.

"Saya akan mengonfirmasi ajuan acara amal dari anak-anak sebulan lalu. OSIS sudah membahasnya akhir-akhir ini dan kami memutuskan acara tersebut akan dilaksanakan Pak," jawab Galen lugas dan mantap. Dia duduk tegap di sofa empuk ruangan Kepala Sekolah.

"Ide acara amal memang bagus mengingat sekolah belum pernah mengadakannya." Pak Agung sang kepala sekolah kembali menimpali. Dia menaruh cangkirnya di meja dan meletakannya bersamaan berkas-berkas di tangan satunya.

"Tapi apa kalian sudah membuat proposal? " Kepala sekolah kembali melanjutkan.

"Sudah, Pak, sekarang saya bawa," ujar Galen sambil menyerahkan laporan kepada Pak Agung, "Silahkan dicek dulu, Pak."

Pak Agung membaca dengan teliti proposal tersebut sedangkan Galen dengan sabar menunggu.

"Ya...," gumam Pak Agung lirih sambil membuka halaman selanjutnya.

Namanya Alister Galen. Ketua OSIS SMA Harapan Nusa, dia populer karena kewibawaanya sebagai ketua OSIS sehingga banyak disanjung oleh teman-temannya.

"Bagus. Jadi ini akan diadakan malam minggu satu minggu dari sekarang?"

"Iya, Pak. Itu rencana kami, apa Bapak bersedia? Kami juga sudah meminta izin pada Pak Teguh." Galen membawa nama Pembina OSIS di akhir kalimatnya.

"Saya setuju. Adakan saja acara ini. Dan setidaknya setiap kelas ada perwakilan untuk hadir di acara ini."

Parasnya biasa saja. Galen bukan termasuk jejeran anak terganteng di sekolah. Namun karena wajahnya yang mulus tanpa noda sedikitpun membuatnya terlihat bersih dan cenderung menjaga diri.

Padahal dia menyukai bermain taekwondo di hari liburnya. Alasan mengapa dia dihormati karena dia pintar, berkharisma, dan pastinya ramah pada semua orang membuat orang lain ikut tersenyum saat dirinya tersenyum.

"Terima kasih, Pak." Galen berkata sambil menunggu Pak Agung menandatamgani proposal tersebut.

Galen keluar ruangan tersebut sesaat bel berbunyi. Galen hendak menaruh proposal itu kembali di Ruang OSIS saat mendengar suara aneh dari ujung koridor yang mulai sepi.

"Duh, cepetan Fik jangan lama." Suara cewek yang setengah berbisik itu dapat didengar Galen yang sudah dibalik tembok ujung koridor.

"Iya bentar napa. Masukinnya susah nih." Suara cowo menimpali dengan serak.

Galen menaikkan sebelah alisnya mendengar pembicaraan mereka berdua yang ambigu tidak mau menuduh, cowok itu kembali mendengarkan.

"Cepet dah keburu ada orang lewat bisa gawat."

Galen tidak pernah sekepo ini kepada siswa lain. Ya, kayanya mereka lagi ngelakuin...

"Tuh udahhhh." Nada akhir cowok itu, membuat Galen was-was bersiap membawa mereka berdua ke Ruang BK.

"Ahhh," desahan Cewek itu keluar. Suaranya seperti ditahan keluar sejak tadi.

Tidak menunggu waktu lama dan tidak peduli jika mereka berdua sedang telanjang Galen langsung memasuki lorong kecil ujung koridor dan memberi tatapan seram kepada keduanya.

"Ha? Galen," pongah cewek bercepol itu. Cowok di sebelahnya dengan segera menutup laptop berlogo buah apel tersebut.

Galen amat bersyukur, setidaknya mereka berdua tidak sedang melakukan hal tersebut. Tapi sedang menonton hal tersebut.

"Kalian berdua ikut gue ke Ruang BK," tukas Galen cepat. Dia menunjukkan kekuasaanya sebagai Ketua OSIS.

"Tapi kita nggak ngapa-ngapain. Gue kan cuma masukin fd," timpal cowok di sebelahnya percuma.

Padahal Galen sudah mengetahuinya dengan amat jelas.

"Ya tapi kalian baru nonton bokep kan? Dikira gue nggak tau. Ngapain coba temen lo mendesah abis nonton sesuatu di fd yang baru lo masukin itu, ha? Cepet ikut gue sekarang ke BK," kata Galen sambil mengambil laptop dari tangan cowok itu dengan mudah.

"E... enggak semudah itu. Gue nggak mau nama gue tercemar." Cewek tersebut kembali menyanggah Galen dan ikut melotot ke arahnya.

Cewek dan cowok itu a.k.a Renata dan Fiko langsung merinding diberi pelototan oleh Galen. See, Galen tidak pernah melotot pada siapapun dia selalu baik pada semua orang.

Hanya karena Renata dan Fiko menonton bokep, Galen berubah jadi orang yang beda. "Pertama, mau nama lo tercemar apa enggak itu bukan urusan gue. Kedua, gue Ketua OSIS di sini, gue nggak mau sekolah gue jadi sarang penyamun kayak kalian."

Dengan kalimat itu, kedua orang itu menyerah dan mengikuti Galen ke Ruang BK. Galen terlalu baik selama ini kepada teman-teman sekolahnya. Jadi, saat dia marah orang-orang segan saat balas memarahinya.

Seperti apa kata orang. Kepribadian membuat orang lain nyaman di sekitarmu. Itu perumpamaan yang cocok untuk Galen.

Itulah Ketua OSIS SMA Harapan Nusa, Alister Galen. Selamat datang di kehidupannya yang penuh dengan sapaan ramah dan pujian.

* * *

Meow [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang