Happy Reader's teman-teman.
Rasa tak pernah meminta untuk melukai, tapi luka yang membuat sepatah ampau menjadi tergores.
Rasa tak hanya bahagia, melainkan cahaya yang selalu menerangi titik hitam.
Bukan titik hitam tentang kegelapan, melainkan kisah yang sempat ternoda.
Bukan ternodai, melainkan melukai.
Bukan juga luka, tapi yang jelas semua orang terlalu memperlihatkan kehitaman itu. Mungkin benar, bahwa rasa tak harus terbagi, melainkan membagi.
--------
Aku masih penasaran dengan sikap Reynar belakangan ini. Beberapa perubahan darinya membuatku bertanya-tanya.
Hari ini adalah hari terakhir latihan pentas musik untuk besok. Tapi keadaan semakin kacau. Para anggota semakin hari semakin susah untuk diatur. Begitupun dengan Reynar, dia ngatur-ngatur posisi kami harus beginilah harus begitulah.
Pertama memang semua anggota menurutinya, tapi lama kelamaan kami semua tak ingin diatur seenaknya saja. Katanya kita itu harus kompak, harus bisa bekerja sama antara satu dengan yang lainnya. Tapi pada kenyataannya dia malah diskusi dengan orang-orang yang mempunyai bakat dalam musik. Contohnya saja Nita. Dia sangat diakui keberadaannya oleh Reynar. Berbeda dengan diriku dan teman-teman yang lain yang tidak mempunyai keahlian dalam bidang musik.
ini namanya tidak adil, semacam pemisahan ras. Alias berkubu.
"Woy. Gue harap semuanya latihan. jangan mau enaknya saja. Kita sekolah bukan buat main, tapi buat belajar." Teriak Reynar dengan muka sangar dan intonasi yang sangat menjengkelkan.
Suara Reynar membuat semua orang yang berada di kelas menatapnya dengan tatapan kesal.
"JAWAB!!!!" bentaknya kembali membuat semua terdiam serentak.
"Woy, kalian pada niat kagak sih latihan." Teriaknya kembali sambil menggebrak meja dan berdiri diatas kursi.
"Lo bisa kagak sih jangan teriak-teriak kayak gitu. Kuping gue kepanasan denger suara cempreng lo yang bikin gue muntah." Kataku sambil berdiri dari posisi duduk yang sedang menonton film Train to busan. Dan maju kearah depan untuk beradu mulut.
Aku dan Reynar memang sering adu mulut, sekalipun itu masalah kecil.
"Apa lo bilang?"
"Jangan teriak-teriak. Mereka juga denger. Ngerti malahan." Kataku sambil maju berhadapan dengannya. Tetapi wajahku saja yang memalingkan dari hadapannya.
"Woy Tomi, gue bilang akhiri dulu film tersebut. Atau gak, gue pecahin tuh laptop." Katanya dengan menunjuk ke arah Tomi.
Tomi tak menjawab perkataannya, dia malah asyik dengan film tersebut. Begitupun dengan para anggota lainnya. Mereka menghiraukan apa yang dikatakan Reynar.
"Pikir sama lo. Kita disini bingung lagi nyari-nyari nada yang tepat. Sedangkan lo semua malah asyik nonton film. Pikir dong pake otak. Kalian bisanya cuman diam dan diam saja." Katanya sambil menunjuk orang-orang yang satu kelompok. Termasuk diriku.
"Oh ya?" Kataku sambil tertawa sinis. "Bilangnya sih bingung, mana ada bingung tapi malah nyuruh-nyuruh mereka. Dasar cuman omong kosong doang." Kataku dengan pelan.
Hatinya semakin memanas. "Apa lo bilang? Bisa sekali lagi depan gue ngomongnya?"
"Oh pengen didepan lo? Baik gue ulangin sekali lagi. Dasar omong kosong doang lo, bisanya nyuruh-nyuruh orang. Puas lo." Kataku sambil berbicara didepan mukanya dengan menjulurkan lidah yang bikin dia semakin jengkel.
"ANJIS." Hardik Reynar tak bisa berkata-kata lagi.
"Sudah-sudah, kita latihan kembali. Jangan memperdebatkan ini. Waktu kita sebentar lagi. Besok sudah harus tampil." Kata salah seorang anggota dari kami.
"Ada apa? Kok mukanya pada kesal sih." Kata seseorang yang sedang meminum-minuman Cup.
"Ini lagi, malah jajan. Yang lain latihan. Lo enak enak jajan." Ucap Reynar kembali dengan nada tinggi.
"Suka-suka gue dong. Emang lo siapa gue. Suruh siapa latihan malah memihak sama yang punya bakat." Respon dari Anis dengan cekikikan.
"Ada apa sih Len?" Tanya Anis menyenggol pergelangan tanganku.
"Biasa nyonya yang didepan ngedumel terus."
"Oh, kirain gue lo kagak berani sama tuh cewek. Eh ternyata lo berani juga. Setelah sekian lama memendam."
"Bukannya gue berani, cuman gue gak suka dengan sikapnya yang so inilah so itulah. Lo juga tau sendirikan gimana satu kelompok sama dia. Yang waktu itu kita nangis bareng dan ujung-ujungnya kita sendiri yang mengerjakan. Tapi dia? Dia bisanya hanya berkoar dan berkomentar tanpa mengerjakan. Lebih baik kitakan, banyak bicara banyak komplen, tapi kita sendiri sambil mengerjakan."
Sudah hampir sore, tapi latihan masih berantakkan. Entah apa yang akan di tampilkan untuk ujian besok. Konstum penampilanpun belum ditentukan, posisi para penyanyi juga belum diatur, bahkan alat masih kurang. Berbeda dengan kelompok Tomi yang sudah serba siap.
"Gue iri sama kelompok lo yang mudah untuk diatur dan saling mengerti satu sama lain. Nah kelompok gue, belum prepare apa-apa. Lo liat sendiri hasil latihan hari ini. Gak beda dengan latihan kemarin. Sama-sama hancur." Aku mendengar suara Anis di sebalahku yang sedang berbicara dengan Tomi.
"Sabar aja. Lo juga taukan sikap Reynar seperti apa. Ikutin saja alur ceritanya. Demi kebaikan anggota jugakan." Kata Tomi sambil menepuk bahu Anis.
Kebisingan dari setiap kelas memang sudah tak nampak. Hanya kelas kami satu-satunya yang belum pulang. Entah sampai kapan latihan itu berakhir. Aku ingin segera kabur dari keberadaannya. Tapi apa boleh buat, ini adalah tugas dari sang guru yang wajib dituruti demi memenuhi nilai ujian praktek.
"Gimana kalau besok kita pake batik?"
"Tapi saran gue sih bagusnya pake hitam putih."
"Kalau gue sih bebas."
"Gue gak punya kemeja putih."
"Mending batik saja."
"Atau gak baju kotak-kotak. Kan semuanya pasti punya."
"Uh brisik malah memikirkan kostum. Penampilan saja masih berantakan." Oceh Reynar kembali.
A/N : don' forget votement nya kakak. Sorry, saya gak maksud bikin cerita ini tersinggung dengan skenario yang apalah.
YOU ARE READING
Relationship
Teen Fiction[TAHAP REVISI] Seandainya dulu aku lebih mementingkan kedepannya seperti apa. Mungkin hari ini kita masih berteman baik, dan tak akan ada perasaan canggung diantara kita berdua. Seandainya saja dulu aku tidak seegois itu, mungkin sekarang kau masih...
