1 - Get To Know

574 26 7
                                        

Proses saling mengenal membutuhkan dua hal; waktu dan temu.

**

Namanya Linggar Aji Pradikusuma. Salah satu murid paling berpengaruh di SMA Jaya Baya. Ia baru kelas XI namun sosoknya terkenal di seluruh penjuru sekolah, bahkan beberapa sekolah tetangga pun tau sosok seperti apa Linggar itu.

Rokok dan adu jotos menjadi sahabat dekat Linggar. Hidup Linggar jauh lebih berantakan daripada rambutnya. Dalam satu minggu, ia bisa bolos tiga hari dan saat tidak bolos pun, ia lebih memilih tidur di dalam kelas.

Linggar berasal dari keluarga utuh, ia masih punya Papa dan Mama. Dipta Pradikusuma –papa Linggar- adalah sosok pengekang, menjadi penguasa ketika berada di rumah dan tak pernah punya banyak waktu untuk  istri dan anak-anaknya. Dipta sering berada di luar kota atau bahkan luar negeri untuk urusan kantor. Sulit untuknya membagi waktu dengan keluarga.

Geraldy Ari Pradikusuma atau biasa di panggil Geri, yang merupakan kakak dari Linggar juga mempunyai sifat tak jauh berbeda dari adiknya itu. Geri sudah kuliah, beberapa bulan lalu ia resmi jadi mahasiswa Teknik di salah satu perguruan tinggi yang berlokasi di Jakarta Barat. Dulu saat masih sekolah, Geri juga merupakan pentolan dan ia sering sekali adu balap dengan Marco serta anak Dwitama Nusantara lainnya.

Geri sering menghabiskan harinya di luar rumah, ia juga tak pernah absen untuk pulang pagi.

Jadilah Ananta Aryani -sang mama- kesepian di rumah. Ananta merasa sifat Dipta yang keras itu membuat watak kedua anak laki-lakinya jadi tidak baik. Bahkan tak jarang, Ananta lebih memilih curhat dengan Mbak Nina, asisten rumah tangga di keluarga Pradikusuma.

Kembali ke Linggar yang saat ini masih meringkuk di bawah selimut tebal berwarna merahnya. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 7 pagi namun kamar yang di dominasi warna merah marun itu masih gelap. Hanya ada cahaya yang masuk dari gorden kamar yang sedikit terbuka.

Ananta berkali-kali mengetuk, atau bahkan menggedor pintu kamar anak bungsunya dan masih belum ada respon. Ananta adalah tipe ibu yang kelewat sabar, ia lebih banyak tersenyum meskipun kesal meladeni tiga lelaki di rumahnya itu.

"Udah, Ma, gak akan bangun dia."

Ananta menoleh, mendapati Geri yang sudah rapi dengan kemeja biru laut yang ia gulung sampai siku. Cowok yang berdiri di belakang Ananta itu sudah wangi dan siap untuk berangkat ke kampus. Tak peduli dengan roti di tangan kanan dan mulut yang sibuk mengunyah, Geri merangkul sang Mama.

"Mama bakal disini sampe dia bangun, Ger."

Ananta mengulurkan tangannya lagi untuk mengetuk pintu kamar bercat putih tersebut sampai Geri bersuara, "Gak usah di paksain Ma. Biarin aja, Linggar kan kalo tidur kayak orang mati."

Satu pukulan mendarat di lengan Geri, "Huss, kamu kalo ngomong ya."

Geri terkikik, ia mengusap kedua telapak tangannya dan memastikan kalau tangannya sudah bersih dari remah-remah roti tawar tadi. Geri menjauh dari mamanya dan meraih susu putih di atas meja makan lalu meneguknya habis.

"Aku berangkat deh, ada kelas pagi."

Cowok yang rambutnya kecoklatan itu lalu menarik tangan kanan Ananta dan menciumnya. "Assalamualaikum, selamat berjuang buat bangunin Linggar, Ma." Ledek Geri sambil tertawa.

CRUELWhere stories live. Discover now