Di bawah teriknya matahari, Vragas berlatih basket dengan penuh percaya diri di lapangan sekolah. Gerakannya yang luwes dan terarah membuat banyak siswi terpesona, tak lepas menatap setiap aksinya.
"OMO OMO! Vragas ganteng banget!" Teriak beberapa siswi histeris ketika Vragas berhasil melempar bola ke dalam ring.
Vragas tersenyum tipis, mengacak rambutnya yang basah keringat, lalu mengangkat kausnya untuk mengelap wajah. Aksi kecil itu membuat para siswi semakin berteriak heboh.
"Vragas, oper bolanya!" Teriak Zayn, yang sudah siap menerima operan di dekat ring lawan.
BRAKK!
Alih-alih mengoper ke Zayn, bola itu meluncur ke arah lain—dan tepat mengenai kepala seorang gadis asing.
"Mampus, gue salah oper bola," Gerutu Vragas sambil menepuk jidatnya. Ia berlari mendekat dan melihat seorang gadis dengan sweater, bukan seragam sekolah, berdiri sambil menatapnya datar.
Ya cewek itu adalah Xairin.
Dan Xairin langsung mengambil bola basket yang kena kepalanya sembari menatap kearah cowo yang ada di hadapannya dengan tatapan datar.
"Siniin bolanya." Pinta Vragas yang sudah mengulurkan tangannya ke arah Xairin.
Xairin memutar bola matanya dengan malas, lalu melemparkan bola itu kembali ke arah Vragas, cukup keras untuk membuatnya meringis kesakitan. "Aduh, anjing!" Rutuknya sambil mengusap kepalanya.
Ketika Xairin berbalik untuk pergi, dan mengutuk dirinya sendiri karena salah ambil jalan. Saat melihat cewek tersebut sudah kabur, Vragas langsung mengejarnya. "Tunggu!" Ucap Vragas yang sudah menahan tangan cewek asing yang sudah berani melempar bola basket kepadanya.
Xairin menghembuskan napasnya dalam-dalam, setelah itu ia dengan cepat menghempaskan tangan Vragas dengan kasar.
"Lo anak baru?!" Tanya Vragas yang memperhatikan penampilan Xairin dari atas kepala sampai ujung kaki.
Xairin tidak menghiraukan ucapan cowok asing yang ada di depannya, ia harus segera pergi dari cowok sialan ini. Karena cowok yang ada dihadapannya ini, ia menjadi pusat perhatian, Xairin tidak suka itu.
"Dih anak baru aja so ngartis banget lo!"
Xairin mendengar dengan jelas teriakan cowok asing itu, ia harus segera mencari ruang kepala sekolah untuk meminta seragam dan menanyakan kelasnya berada dimana.
Vragas tersenyum smirk saat melihat belakang punggung Xairin, "Baru kali ini gue dikacangin sama cewe!" Batin Vragas.
♡♡♡
Tok..tok..
Pak Aldo selaku wali kelas Xairin langsung membuka pintu ruang kepala sekolah dan mengajak Xairin untuk ke kelas barunya. "Nak, Xairin ayo ikut saya untuk ke kelas kamu!"
Xairin mengangguk dan mengikuti Pak Aldo dari belakang, memperhatikan langkahnya agar tidak tersesat di jalan menuju kelas. Saat memasuki kelas, Pak Aldo menyapa siswa-siswanya dengan hangat, "Pagi anak-anak!"
Xairin memandang sekeliling kelas dengan rasa lelah, seolah-olah berada di kelas ini sangat melelahkan baginya. Meskipun guru mereka sudah tiba, suasana kelas masih cukup berisik, dengan siswa-siswa yang masih bercengkerama.
"Kita kedatangan anak baru, silahkan perkenalkan nama kamu nak." Lanjut pak Aldo memberitahu.
Mereka semua langsung pada diam karena mendapat pelototan dari ketua kelasnya, dan tentunya mata mereka menjadi tertuju ke arah depan.
Xairin menganggukan kepalanya dan tersenyum tipis ke arah teman kelasnya. "Xairin Adeva Lova."
Seluruh siswa di sini melototkan matanya tidak percaya saat mendengar ucapan Xairin, Xairin langsung menyebut nama panjangnya tanpa ada kata sapaan "Hallo".
YOU ARE READING
Vragas Obsession
Teen FictionVragas Kafka Algibran, ketua tim basket SMAN Taruna yang memiliki visual menawan dan tampan serta populer, memiliki reputasi sebagai sosok yang karismatik dan percaya diri. Namun, ketika Vragas bertemu dengan Xairin Adeva Lova, siswa baru yang canti...
