Senyuman?

1.9K 161 17
                                    


Veranda keluar dari kamar dengan langkah yang diseret. Sekilas ia melirik jam dinding yang menunjukan pukul tiga sore. Ia akan pergi menjemput gadis menyebalkan itu, tanpa sebuah perjanjian atau rencana sebelumnya. Pandangannya langsung tertuju pada Aron yang sedang duduk dengan menggenggam figura foto keluarganya, hatinya terenyuh melihat pemandangan yang entah kenapa terlihat sangat menyakitkan itu.

"Aron? Kamu sudah pulang?" Tanya Veranda duduk disamping Aron

Aron hanya mengangguk sekilas tanpa menoleh. Ia masih terpekur memandangi foto keluarganya itu

Veranda mendesah lemah, perlahan tangannya terangkat mengusap lembut rambut adik kesayangannya itu dengan penuh kasih sayang. Hanya Aron yang ia miliki saat ini dan ia berjanji, akan menjaga Aron sampai kapanpun.

"aku merindukan mereka" lirih Aron pelan, setitik airmata keluar dari kelopak matanya.

Veranda mengangkat dagu Aron agar bisa menatap kearahnya, ia menggeleng pelan dan langsung menghapus sisa airmata yang berada dipipi Aron. "kita tidak bisa terus menangis"

"siapa yang tega menghancurkan keluarga kita?"

Sebelum menjawab, Veranda menarik tubuh Aron kedalam pelukannya untuk sedikit memberi kekuatan dan meyakinkan bahwa ia masih disini, masih akan selalu ada disamping Aron

"apa kakak juga akan meninggalkanku?" tanya Aron melingkarkan sepasang tangannya dipinggang Veranda

"tidak akan" jawab Veranda mantap

"bagaimana jika takdir memisahkan kita? Seperti takdir memisahkan ku dengan kak Randy dan Mama Papa?"

"kita harus bagaimana lagi? takdir tidak mengikuti jalan manusia tapi manusia yang mengikuti jalan takdir, jadi apapun itu, kita hanya perlu menerimanya dengan ikhlas"

Veranda bangkit mengecup singkat dahi Aron kemudian berjalan keluar rumah. Setetes airmata keluar dari kelopak matanya, melihat Aron dalam keadaan masih berkabung, tentu melipat gandakan rasa sedih yang ia rasakan saat ini

*

Jam kerja sudah berakhir. Setelah membereskan semua barangnya, Naomi keluar dari Kantor Polisi berjalan menuju pakrikan. Matanya memicing melihat seorang gadis berambut panjang berkacamata sedang berdiri dibawah pohon. Ia langsung menunduk ketika menyadari siapa orang itu dan berjalan cepat mencari mobilnya sambil berharap gadis itu tidak menyadari keberadaannya

"Nona!"

Naomi mengumpat dalam hati mendengar seruan itu. Ia menarik napas lalu berbalik mendapati Veranda sedang berdiri dihadapannya entah sejak kapan.

"kenapa menjauh?" tanya Veranda membuka kacamata hitamnya

Naomi melipat kedua tangannya didepan dada, "aku tidak menjauh. Kau mungkin sedang berkhayal"

"apa?! Kau pikir ak----"

"baiklah baiklah, lupakan soal khayalan. Katakan ada apa?" sela Naomi dengan cepat. Ia sedang tidak ingin bertengkar hanya karena masalah sepele seperti ini

Veranda mendengus kesal sambil memakai kembali kacamata hitamnya, "bukankah kita akan pergi bersama?"

"kemana?" tanya Naomi pura-pura tidak tau. Bukan berniat jahat, ia hanya merasa tidak enak badan. Mungkin Veranda akan amnesia dan melupakan tujuan utamanya kesini hingga ia bisa melarikan diri dari jangkauan gadis angkuh ini

Tanpa meminta izin, Veranda langsung menarik tangan Naomi dan berjalan menuju mobilnya

"aku bukan kambing, kenapa kau menarik tanganku seenaknya?" sergah Naomi berusaha melepaskan genggaman tangan Veranda dipergelangan tangannya

Waktu (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang