PROLOG

323 101 61
                                        

Sebuah keluarga kecil berisikan ayah, ibu, dan seorang anak laki-laki sedang memetik buah bluberi dari tanaman bluberi yang dijadikan pembatas antara rumah mereka dengan rumah kosong di samping mereka oleh pemilik rumah mereka sebelumnya. (mulmed)

Setiap tanaman bluberi itu sudah siap untuk panen, keluarga kecil ini akan memetiknya bersama-sama.

Mereka segera memulai pemanenan bluberi dengan bersemangat, tanpa menyadari sebuah truk besar berhenti di depan rumah kosong di sebelah rumah mereka, yang disusul oleh sebuah mobil sedan hitam yang berhenti di belakang truk itu.

Si anak laki-laki yang pertama kali menyadari ada dua mobil berhenti di depan rumah kosong di sebelah rumah mereka.

"Wah! Ada orang datang!" Kedua orangtuanya segera menoleh ke arah yang ditunjuk anak itu.

"Hmm, sepertinya akan ada tetangga baru." Sang ayah anak itu berjalan menghampiri mobil sedan hitam yang berada di depan rumah samping mereka, yang disusul oleh istrinya, namun anak mereka tetap saja tidak menghiraukan dan melanjutkan memetik buah bluberinya.

"Aam! Nyam, nyam! Enak sekali! Manis!" ujar seorang gadis kecil yang sedang mengunyah bluberi yang barusan ia petik.

"Hey, kamu tidak boleh mengambilnya, semua bluberi ini milikku!" tegas anak laki-laki itu saat melihat ada gadis kecil seumurannya, mencuri lalu memakan buah bluberi miliknya.

"Ih, dasar pelit!" ucap gadis itu kemudian terisak keras.

"Hey, jangan menangis!" Si anak laki-laki itu merasa bersalah. Ia mendekati gadis itu seraya menepuk pundaknya.

Tak menghiraukan, gadis kecil tersebut hanya terus merengek tanpa memerdulikan anak laki-laki itu yang sudah panik dibuatnya.

"Eh, eh, ada apa ini? Sayang, kamu kenapa menangis?" ujar seorang wanita yang diyakini oleh anak laki-laki itu adalah ibu si gadis kecil.

Kedua orang tua anak laki-laki itu serta ayah si gadis kecil menghampiri mereka bertiga.

"Dia jahat, Ma. Aku hanya memakan buah bluberi itu, namun dia memarahiku." adu gadis kecil itu pada ibunya sambil menunjuk si anak lelaki dengan jari telunjuk.

"Eh, Adek kok gitu sih, gak boleh pelit dong, dia kan akan tinggal di samping rumah kita, jadi harus saling berbagi." ibu si anak laki-laki yang sedari tadi mendengar percakapan mereka, menasehati anak laki-lakinya.

"Iyaa Ma." jawab anak itu sambil menunduk.

"Nah, gitu dong, itu baru anak Papa, harus nurut. Yaudah, ajak kenalan gih, harus bersahabat ya, gak boleh musuhan."

Anak itu menuruti perintah ayahnya. "Halo, aku Sebastian, nama kamu siapa?" ucapnya seraya mengulurkan tangan kanannya.

Gadis kecil itu awalnya ragu, namun ia segera membalas jabatan tangan lawan bicaranya, ketika sang ibu memberi anggukan padanya. "Aku Ashley."

"Oke, mulai sekarang kita temenan ya. Kamu juga boleh kok, mengambil bluberi ak- eh, kita maksudnya." Anak laki-laki itu menampilkan senyum lebarnya.

Gadis kecil itu mengangguk sambil membalas senyuman sahabat barunya.

"Nah gitu dong daritadi!" ucap ayah si gadis kecil.

Dan dua keluarga itu tertawa melihat tingkah lucu anak-anak mereka, yang sedang tersenyum malu.

(a/n)

New project! Don't forget to Vote, Share, and Comments. Thank you!

01-04-2017

P H I L O C A L Y [ON HOLD]Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora