20

2K 342 77
                                    

Home • Dua Puluh

Aku bergegas menuju ruang ICU, dan aku terkejut ketika aku melihat orang-orang yang menunggu disana.

Orang tua Louis, dan Megan?

Ada urusan apa dia disini?

"Tante?" sapaku pada Johannah, ibu Louis.

Dia menyadari keberadaanku lalu memelukku, "Oliv," lirihnya.

Aku membalas pelukannya, dia menangis, matanya sembab, dan suaranya parau, dia memelukku erat.

Tanpa kusadari aku juga menangis, "Tante, Louis kenapa?" tanyaku.

"Tadi pihak rumah sakit nelefon tante, apa kamu yang kasih?" tanya Johannah memastikan.

Aku mengangguk pasti, "Iya, Oliv yang kasih waktu itu,"

"Dia bilang tante harus segera kesini, dan mereka juga baru tahu kalau ada kebocoran di otak Louis di hari kedua dia dirawat disini, jadi--" Johannah berhenti dan menangis lagi.

Aku memeluknya lagi, mencoba menenangkannya. Padahal aku sendiri mencoba untuk menenangkan diri.

Louis? Kenapa harus Louis? Ya Tuhan.

Aku merasakan seseorang menepuk pundakku, "Oliv?" itu membuat aku melepaskan pelukanku dan berbalik.

Megan.

"Ya?" balasku, lemas.

"Gue mau ngomong sama lo,"

"Tapi gak disini," lanjutnya, lalu menarik tanganku.

Dia membawaku ke taman rumah sakit. Dan duduk di bangku taman itu.
"Ada apa?" tanyaku, begitu aku memposisikan tubuhku, duduk di bangku.

"Gue.." Megan terdengar menahan tangisnya.

Aku menggeser posisiku lebih dekat dengannya, dan melihat matanya, matanya berkaca-kaca. Dia menggigit bibir bawahnya.

"Hei.. Hei.. Lo kenapa?" tanyaku cemas.

Dia tiba-tiba memelukku, dan aku pikir apa salahnya jika aku balas memeluknya?

"Gue... Ini salah gue.. Liv," dia menangis sekarang, tidak, dia terisak.

"Apa? Nggak ini bukan salah lo," ucapku.

"Kalo gue gak selingkuh waktu itu, Louis gak bakal kecelakaan," lirihnya.

Sialan, aku malah ikut menangis.

Aku mengusap-usap punggungnya, "Nggak, ini udah takdir, lo gak salah, gak ada yang salah,"

"Tapi gu--" aku memotong ucapannya dengan cepat, dan melepas pelukan kami.

Aku memegang pundaknya, "Lo gak salah, oke?"

Aku mengusap air mataku, dan menarik nafas, "Ini takdir,"

"Gue khilaf Liv, sumpah,"

"Gue gak berfikir jernih waktu itu,"

"Gue.. Gue cemburu,"

Aku menautkan alisku, "Cemburu?"

Dia menatap lurus ke mataku, dan mengusap air matanya, "Dia cintanya sama lo,"

Jantungku berdegup cepat. Bahkan samar-samar dia mungkin bisa mendengarnya.

"Ma-maksud lo?"

Dia menarik nafas, dan menutup matanya, lalu menghembuskannya lagi.

"Gue cemburu, karena dia tuh sebenernya cuma cinta sama lo,"

"Dia sayangnya sama lo,"

"Dia sukanya sama lo,"

"Dan satu-satunya yang bakal selalu ada di hati dia ya cuma lo,"

Benarkah?

"Tapi dia jadiannya kan sama lo?" ucapku ragu.

"Iya, tapi,"

"Gue capek Liv, gue sakit hati,"

"Kenapa?" tanyaku lagi.

"Waktu hari pertama dia ngajak gue kenalan, dia ngomonginnya lo,"

"Waktu dia ngajak gue pulang, dia keliatan cemas, dia khawatirin lo,"

"Waktu lo pulang sama Luke, itu juga dia ngajak gue ngikutin lo,"

"Bahkan waktu hari pertama kita ngedate, dia malah ngomonginnya lo,"

"Waktu dia ulang tahun, dia ngeliatnya lo,"

"Wallpaper handphonenya aja foto lo sama dia, favorite contactnya juga lo, di kamarnya banyak foto lo, dimana pun, kapan pun, bahkan ngapain pun,"

"Selalu lo, Liv, selalu,"

Aku terdiam. Tidak ada satu katapun keluar dari mulutku.

"Lo bisa bayangin gimana sakitnya gue? Selalu di-nomor-duain, padahal dia pacarannya sama gue," dia tertawa miris.

"Dia cuma takut ngecewain lo, dia gak mau sampe dia nyakitin lo, dia.. dia.. lo.."

Dia mulai menangis lagi.

"Hei.. Udah, jangan nangis," ucapku.

"Gue cuma.. Gue gak tau, Liv,"

"Waktu itu gue cemburu banget, dan gue gak tau harus ngapain lagi, jadi gue lari ke Calum, cuma dia yang selalu ada buat gue, bahkan di saat gue udah jadian sama Louis,"

"Jujur, awalnya gue cuma main-main aja, gue pikir cowok playboy kaya dia juga pantes dimainin, tapi gue jadi sayang beneran,"

"Astaga, gue bener-bener gak tau harus ngomong apa, Megan, sorry," ucapku.

Dia mengusap air matanya dengan punggung tangannya, entah untuk yang keberapa kali.

"Takdir, Liv," lirihnya.

------

Cui!

Ngebosenin, ya? Sorry kalo feelnya gakpernah dapet dari awal wkwkwk, cerita guemah receh:')

Btw, maaf baru update lagi hehehe:) muah

Kalo gue bikin ff Niall ada yg mau baca kaga, ya?:')

Gue ngebacot sendiri terus ya:') Respon atuh mb:')

home » lwtTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang