Princess Rumah Tangga | 1. Buku Catatan Keramat

360 42 30
                                        

Selamat datang di cerita baruku! 

Setelah di cerita sebelumnya para karakter harus menghadapi kehidupan yang berat dan perih, kali ini aku kembali dengan cerita yang lebih ringan dan ceria. Semoga, teman-teman yang langganan membaca karyaku suka. Buat para pembaca baru, selamat datang dan selamat membaca semuanya! 

Kaki seorang perempuan berusia awal tiga puluhan menendang-nendang udara

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Kaki seorang perempuan berusia awal tiga puluhan menendang-nendang udara. Wajahnya memperlihatkan kekesalan. Hidungnya yang mancung sampai kembang-kempis. Bahkan, frustasinya berujung sebuah teriakan nyaring.

"Aargghh!" Perempuan itu sama sekali tidak peduli tingkahnya ini mengganggu orang lain di rumah di dalam rumah.

Tiba-tiba saja semua kehebohannya berhenti. Posisinya yang tadi mengamuk sambil berbaring di atas kasur berubah menjadi duduk bersila. Matanya yang punya sorot tajam mengerikan menatap ponsel yang kini sudah berhenti berdering. Ia ingin sekali mengumpat ketika ponselnya berkedip lagi. Kali ini, bukan panggilan telepon, tetapi satu pesan baru saja masuk.

Meski enggan meraih benda pipih persegi itu, ia tetap saja mengulurkan tangan. Telunjuknya menari di layar untuk membuat pola yang dapat membuka kunci layar di ponselnya. Deretan kata dibaca seksama manakala ia akhirnya membuka pesan yang baru saja masuk itu.

Kali ini, perempuan berambut ikal panjang itu berdecak. Tentu saja, ia masih kesal. Dihirupnya udara sangat dalam sebelum menghembuskannya pelan dan mulai mengetik balasan.

"Itu sudah bukan urusan saya. Pikirkan sendiri jalan keluar dari masalah pekerjaan itu. Semua sudah saya serah terima sebelumnya ke tim. Saya bukan lagi pegawai Anda, jadi jangan ganggu." Ia menyuarakan apa yang diketiknya.

Secara mendadak, suasana hati perempuan tersebut berubah. Ia terbahak hingga memegang perutnya. Tangannya direntangkan dan kepalanya mendongak, menatap langit-langit kamarnya. "I'm free!" teriaknya. Senang karena bisa membalas pesan seperti itu pada mantan bos.

Tingkah konyol ini jelas tidak mungkin dilewatkan oleh orang-orang rumahnya. Di balik pintu, yang sedikit terbuka, seorang lelaki yang lebih muda menggelengkan kepala. Di dekatnya ada wanita paruh baya yang mengernyit dalam, tampak khawatir.

"Mbak Kasih masih waras kan, Mas Adek?" Tanya wanita itu, sungguh prihatin.

Pemuda yang dipanggil Mas Adek menggelengkan kepala. "Stres berat sih, Bik. Kakas sekarang nggak bisa belanja tas sama sepatu lagi."

"Berarti, saya jadi lebih kaya dari Mbak Kasih, Mas?" Perempuan muda lain muncul sambil memegang sikat lantai. Ia baru saja keluar dari kamar mandi lantai dua rumah.

Si lelaki satu-satunya di tempat itu mengangguk. "Bisa dibilang begitu. Soalnya Kakas sekarang memang pengangguran."

Dua perempuan yang bekerja sebagai Pengurus Rumah Tangga itu menatap prihatin ke arah anak perempuan semata wayang majikannya. Sudah lebih dari sebulan memang perempuan bernama Kasih itu selalu berada di rumah. Tapi, setiap hari ia selalu punya proyek. Meski ujung-ujungnya berantakan dan akan dibereskan oleh para pengurus rumah.

Princess Rumah TanggaStories to obsess over. Discover now