"Kamu tidak ingin mencari kekasih?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tanpa aba-aba, memecah keheningan ruangan yang selama dua jam terakhir hanya diisi oleh suara pendingin udara dan gesekan kertas. Kala bertanya dengan nada sedatar orang yang menanyakan jam berapa saat ini.
Kirana, yang sedang duduk di balik meja kerja mahoninya yang besar, menghentikan gerakan tangannya. Ujung pulpen berhentik tepat di atas garis tanda tangan sebuah kontrak akuisisi lahan. Dia tahu pertanyaan itu bukan ditujukan kepadanya, namun tetap saja ada sesuatu yang sangat absurd ketika kalimat semacam itu keluar dari mulut Kala —adik bungsunya, pada siang yang terlalu penuh oleh urusan bisnis.
Di seberang ruangan, Wana yang sejak tadi rebahan di sofa kulit dengan satu map menutupi wajahnya, menurunkan map itu pelan-pelan. Wajah Wana kosong selama beberapa detik. Matanya mengerjap, menatap langit-langit sejenak sebelum menoleh ke arah adiknya.
"Aku?" tanya Wana. Suaranya serak, sisa dari empat puluh delapan jam tanpa tidur karena harus membersihkan rute logistik Wana Ekspor-Impor dari parasit-parasit kecil yang mencoba mencari celah.
Kala menatapnya datar dari kursi di sudut ruangan. Kaki kanannya disilangkan dengan santai. "Iya. Siapa lagi?"
Wana duduk tegak. Sofa berderit di bawah berat badannya. Naluri bertarungnya yang tak pernah benar-benar tidur kini berdesir, bukan karena ada ancaman fisik, melainkan karena kebingungan. "Kamu bertanya padaku?"
"Kirana sudah punya Genta." Kala menjawab tanpa beban, melempar nama Nagasastra seolah ia sedang menyebut nama tetangga sebelah rumah.
"Jangan bawa-bawa aku dalam masalah kalian," sergah Kirana cepat, lalu kembali menunduk ke berkasnya. Dia mencoba menulis lagi, memfokuskan matanya pada deretan pasal legal, tetapi pulpennya tidak langsung bergerak. Ada tawa yang mati-matian ia tahan di ujung tenggorokan.
Kala menyandarkan punggung ke kursinya dan meletakkan map di tangannya ke meja kaca di sebelahnya. "Yang waras di sini cuma kamu, Ki."
Kirana meliriknya tajam. "Itu bukan pujian kalau keluar dari mulutmu, Kal."
Wana masih belum selesai memproses. Dia menatap Kala lekat-lekat, memindai wajah adiknya seperti sedang memastikan Kala tidak sedang mabuk, tidak sedang berada di bawah pengaruh obat, atau tidak sedang merancang strategi baru untuk memancing amarahnya. Tetapi wajah Kala benar-benar tenang.
"Kamu menyuruhku mencari wanita?" ulang Wana. Nada suaranya mulai naik. "Di mana? Di medan perang?"
Kirana akhirnya tertawa. Tidak keras, tetapi cukup untuk membuat Wana menoleh padanya dengan tatapan tajam. Tawa itu bukan hanya karena kalimat Wana terdengar konyol, melainkan karena kenyataan yang terlalu akurat dan menyedihkan. Hampir seluruh hidup Wana memang habis di lapangan. Kepalanya hanya berisi strategi pertahanan, letak titik buta, rute evakuasi, dan memastikan tubuh-tubuh musuh tidak pernah bisa mendekati rumah utama Ludira.
Kala mendengus pelan. "Benar juga. Aku lupa kamu bahkan bukan manusia."
Wana berdiri. Gerakannya tidak mendadak, tidak ada gebrakan meja atau teriakan, tetapi cukup membuat udara di ruangan seketika berubah. Kirana tidak mengangkat wajahnya, dia hanya memindahkan berkas penting di depannya sedikit menjauh dari tepi meja, menjauh dari zona bahaya. Dia sudah terlalu sering melihat dua laki-laki dewasa ini berubah dari saudara yang saling melempar lelucon menjadi bencana rumah tangga dalam hitungan detik.
"Kamu mau mati, Kal?" desis Wana. Tubuhnya merendah, titik berat tubuhnya bersiap untuk melontarkan serangan.
Kala mendongak, menatap mata kakaknya dengan tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja membuat Wana bergerak. "Hanya mengingatkan kemyataan," jawab Kala ringan.
YOU ARE READING
Kembalinya Sang Kala
ActionMereka berhenti membunuh bukan karena mereka lemah. Keluarga Ludira mengunci masa lalu mereka yang kelam. Kala, Wana, dan Kirana membangun ulang klan mereka ke jalur yang bersih. Tapi di dunia bawah, meletakkan senjata sering kali disalahartikan seb...
