Thalassa Elowen hanyalah gadis kecil polos berusia sembilan tahun. Seumur hidupnya ia tinggal bersama Kakek dan Nenek di sebuah desa terpencil di pinggir hutan orang tuanya sudah lama tewas dibunuh sekelompok bandit saat pergi berjualan ke kota.
Sore itu, Lassa sedang berada di sungai dalam hutan mencari ikan. Meski masih kecil, ia sudah sangat mandiri; tak ingin membebani kakek dan neneknya yang sudah renta.
"Yeay! Lassa dapat banyak ikan!" serunya riang di bawah cahaya matahari yang mulai meredup. Tangan mungilnya mengangkat ember kecil berisi dua ekor ikan. Dengan wajah berseri, ia melangkah pulang menuju gubuk kecilnya diiringi jingga senja.
Tap...
Tap...
Tap...
Langkahnya terhenti tiba-tiba. Di kejauhan, langit sore yang indah perlahan berubah kelabu diselimuti asap hitam tebal.
Dor!
Dor!
Dor!
Srekk!
Dugh!
Lassa terpaku kaku. Desa kecilnya dilalap api raksasa yang menari liar menerangi langit senja, melahap satu per satu rumah gubuk warga.
"Kakek? Nenek?" Ia berlari kecil, matanya menyapu kegelapan di balik asap. "Kakek! Nenek!" teriaknya memecah kesunyian sore itu, berharap ada jawaban.
"Lassa! Lari! Pergi!" seru Kakek dari kejauhan, tubuhnya diseret paksa dengan kepala yang penuh darah.
Lassa menggeleng keras, ia justru berusaha mendekat-sampai suara tajam membelah udara.
CLAS!
Kepala Kakek terlepas dari tubuhnya, jatuh berdebam ke tanah sementara darah memancar kemana-mana, membasahi tanah.
"KAKEKKKKK!" Ember di tangannya jatuh berantakan. Air matanya tumpah seketika menyaksikan kematian mengerikan itu.
"KEJAR BOCAH ITU!" bentak salah satu pria berbadan besar sambil menunjuk ke arah Lassa.
Kaki kecil Lassa seketika berbalik, berlari sekuat tenaga masuk ke dalam kegelapan hutan yang mulai gelap, tanpa alas kaki.
"BUNUH SEMUA YANG ADA DI SINI! JANGAN ADA YANG SELAMAT!" Teror itu masih terdengar jelas di telinganya.
Ia terus berlari menerjang semak belukar yang tak bisa dilewati orang dewasa. Kakinya berkali-kali tergores ranting tajam hingga berdarah, namun rasa sakit itu tak ia hiraukan.
"Lassa... harus cari pertolongan..." gumamnya dengan suara bergetar hebat. Ia masih tak mengerti, mengapa mereka menghancurkan desanya dan merenggut nyawa Kakeknya? Bagaimanapun juga, ia hanyalah anak kecil yang belum tahu apa-apa tentang kejamnya dunia.
Langit semakin gelap, namun para pria berbadan besar itu tak kunjung berhenti mengejar Lassa.
Tanpa sengaja kakinya terpeleset. Tubuh mungilnya berguling jatuh dari tebing licin itu, hingga akhirnya para pria itu tak lagi sanggup menjangkaunya.
"Ughh..." Meski yakin mereka sudah berhenti mengejar tapi rasa takut membuatnya berusaha kembali berlari walaupun terpincang-pincang.
"S-sakit... hikss... Kakek..." desisnya menahan perih. Lengannya tergores dalam ranting tajam, darah segar mengalir tanpa henti.
Napasnya memburu, akhirnya ia jatuh terduduk di bawah pohon raksasa. Seluruh tubuhnya gemetar hebat.
Tap...
VOCÊ ESTÁ LENDO
THALASSA
AçãoThalassa Elowen hanyalah gadis polos berusia sembilan tahun, yang menghabiskan seluruh hidupnya didesa pinggir hutan bersama Kakek dan Nenek, tak pernah mengenal dunia luar. Sampai suatu hari, desa kecilnya dibakar rata oleh sekelompok Mafia. Jerita...
