We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

BAB 1: TWO WORLDS AND AN EMPTY CORE

9 0 0
                                        

Suara mesin hemo-monitor berbunyi konstan di latar belakang, beradu dengan gemuruh hujan deras yang menghantam jendela kaca lantai empat belas. Bau antiseptik yang tajam menusuk hidung Aruna Pradipta setiap kali ia menghela napas.

Di usianya yang baru dua puluh empat tahun, Aruna tahu betul bagaimana rasanya berada di batas antara hidup dan mati. Sebagai mantan atlet bela diri campuran yang beralih menjadi kreator konten extreme survival, tubuhnya adalah peta dari belasan bekas luka. Tulang rusuk patah, dislokasi bahu, hingga tebasan luka luar saat bertahan hidup di hutan hujan tropis-semuanya sudah pernah ia lewati.

Namun malam ini, musuhnya bukan lawan di dalam oktagon atau cuaca ekstrem di alam liar. Musuhnya adalah kegagalan organ internal akibat racun tanaman langka yang ia temukan dalam ekspedisi terakhirnya di pedalaman.

"Detak jantungnya menurun! Siapkan defibrilator!"

Suara panik dokter terngiang samar. Aruna mencoba membuka matanya, tetapi kelopak matanya terasa seberat timbal. Di dalam benaknya, ia tidak merasa takut. Yang ada hanyalah rasa jengkel yang luar biasa.

Mati karena racun tumbuhan konyol? Yang benar saja, umpatnya dalam hati. Aku bertahan dari serangan beruang dan arus jeram, tapi kalah oleh sebatang daun?

Sensasi dingin yang menggigit mendadak menjalar dari ujung kakinya menuju dada. Rasa sakit yang membelah dada terasa begitu nyata, hingga akhirnya-hening. Suara monitor menghilang. Suara hujan terputus. Gelap gulita menelan seluruh kesadarannya.

Tetapi kegelapan itu tidak bertahan lama.

Huuuaahh!

Aruna melonjak duduk, menghirup udara sebanyak-banyaknya seolah-olah paru-parunya baru saja divakum. Dada terasa sesak luar biasa, tetapi udara yang masuk ke tenggorokannya tidak berbau antiseptik rumah sakit.

Udara ini berbau mawar yang membusuk, lilin lebah, dan bau samar darah.

"Ugh... dahi..." Aruna memegang kepalanya yang berdenyut hebat. Namun, saat matanya mulai menyesuaikan dengan pencahayaan remang-remang, tangannya terhenti di depan wajah.

Itu bukan tangannya.

Tangan Aruna Pradipta memiliki kapalan tebal di area buku-buku jari akibat bertahun-tahun merawat tali climbing dan memukul sacking bag. Tangan yang sekarang ia lihat adalah tangan yang sangat putih, halus, lunak, dan jemarinya kurus bersilang. Kulitnya pucat seperti mayat, dan kuku-kukunya terawat rapi tanpa ada bekas luka sedikit pun.

"Apa-apaan..." Suara yang keluar dari tenggorokannya bukan suara bernada rendah dan tegas miliknya, melainkan suara seorang gadis muda yang nyaring, parau, dan bergetar.

Aruna menyapu pandangannya ke sekeliling.

Ia tidak lagi berada di ruang ICU yang serba putih dan steril. Ia terbaring di atas tempat tidur berkanopi raksasa dengan tiang kayu jati terukir rumit. Sprei sutra warna merah marun terbentang di bawah tubuhnya. Di samping tempat tidur, terdapat meja rias antik bersepuh emas dengan cermin kaca tebal. Udara dingin merembes masuk dari jendela melengkung berarsitektur gotik yang terbuka separuh.

Transmigrasi? Reinkarnasi? Isekai?

Sebagai orang modern, Aruna tentu tahu kiasan-kiasan cerita fiksi ilmiah dan fantasi. Namun sebagai seorang praktisi logis, otak tactical-thinker-nya langsung mengesampingkan rasa terkejut dan beralih ke mode identifikasi ancaman.

Aruna menyibakkan selimut tebalnya dan mencoba berdiri. Begitu kakinya menyentuh lantai marmer yang dingin, lututnya langsung lemas. Tubuh ini terlampau lemah! Tidak ada massa otot yang memadai, dan refleks fisiknya lambat bagaikan bergerak di dalam air.

The Mythic QueenStories to obsess over. Discover now