We've updated our Content Guidelines.
Review the latest guidelines to keep sharing stories safely.

01. Jatuh Benci

94 7 1
                                        

"Ngapain lo tadi?" Dahsyat bergerak mengambil ponsel dari seorang siswi dengan tegas.

Siswi itu berhasil mengamankan ponselnya di belakang punggung. "Ini buat bukti! Gue udah sering liat lo sama dia!" Siswi itu melirik Karamel yang kini menatapnya.

"Gak usah sok tahu," ucap Dahsyat semakin dingin dan kembali berusaha merebut.

"Gak!"

Dahsyat meringis mendapat pukulan di kakinya, lalu ia melihat gadis itu pergi dengan langkah lebarnya. "Woi!" Dahsyat berteriak.

Tak bisa dibiarkan. Dahsyat menyusul cewek itu. Tentu saja langsung ke kelas Runa. Sampai sana, Dahsyat terdiam mendapati siswi tadi sudah di samping Runa. Dan Runa sendiri sedang melihat foto yang ditunjukan siswi itu.

Dahsyat mendekat. "Run," ucapnya lirih pada pacarnya. "Jangan percaya." Dahsyat menatap Runa dan semua orang yang ada di kelas. Sorot mata Runa, satu-satunya yang paling kecewa.

"Putusin sekarang, Run!" suruh siswi di samping Runa, lalu ia tersenyum puas.

Namun, ekspresi Runa yang berubah tersenyum membuat mulut siswi itu tiba-tiba terbuka kecil.

"Dia udah ijin kok sama aku. Karamel sama Dahsyat cuma temenan. Nggak lebih."

Bahkan Dahsyat sendiri pun kaget dengan ucapan Runa. Mengapa Runa berkata seperti itu? Runa membelanya?

Suasana berubah seketika. Lebih tepatnya berubah lega. Bagi Dahsyat maupun beberapa orang di kelas. Tidak jadi ada cowok diputuskan ceweknya karena selingkuh.

"Udah, Sae. Balik ke geng lo aja."

Dahsyat merasa menang. Beberapa orang yang dikenalnya di kelas itu mengejek siswi yang masih berdiri di samping Runa. Salah satunya mempuk-puk pundak cewek itu sambil menahan tawa.

Siswi itu mengerang lalu meninggalkan kelas dengan langkah kesal.

***

Bisa-bisanya Runa memberi izin pacarnya bertemu cewek lain. Selain pintar dan baik, rupanya teman sekelasnya itu juga polos. Semakin tak pantas Runa dimiliki cowok---ah siapa itu namanya Dayat? Dahsyat?

Telinga Saesa sering menangkap rumor cowok itu dari mulut orang-orang. Dari yang bilang Dahsyat adalah kucing yang kelaparan sampai cewek bernama Karamel Ardiyani menjadi selingkuhannya.

"Sumpah, nggak banget." Di samping Saesa, Junee mengomentari cover dance Savila yang kaku. Namanya juga awal belajar.

Savila tak mengacuhkan ucapan Junee, terus melakukan gerakannya diiringi musik hiphop yang lagi populer dari ponselnya.

"Emang bener dia ditawarin agensi artis?" tanya Junee?

"Ngibul," jawab Saesa. Kayak enggak hafal saja sama watak temannya itu.

Bibir Junee langsung menjulid sempat percaya omongan Savila.

"Ada yang bawa cutter nggak?" tanya cewek yang tangannya sendari tadi sibuk menjahit jersey-nya yang sedikit bolong. Ah dia orang kaya. Mengapa enggak beli baru saja?

"Nih." Saesa melempar barang yang dimaksud.

"Terima kasih." Devaju meraihnya.

"Lo dapet jarum jahit dari mana sih?" Junee melemparkan pertanyaan.

"Dari nona sekretaris."

"Rasti?"

Terserah mereka mau mengobrol apa. Pikiran Saesa masih keingat kejadian beberapa saat lalu.

Kesal.

***

"Cat."

Teman sekelas yang biasa meminjam pulpen itu menghampiri tempat duduknya. Cewek itu memberikan pulpen yang ia pinjam dua hari yang lalu, tetapi Dahsyat mendorongnya kembali.

"Ambil aja."

Senyum cewek itu merekah. "Thank, Cat."

"Cat, gue mau juga. Pen gue juga abis nih!"

Dahsyat tidak berat hati mengambil satu pulpen dari kotak pensilnya untuk menyerahkan pada satu teman kelasnya itu meski tinggal dua.

"Yuhuu." Teman kelasnya itu menerima dengan cerah lalu kembali ke tempat duduknya di belakang.

"Cat, lucu banget ini." Teman ceweknya yang belum pergi itu mengelus-elus gantungan kunci piza di tasnya. "Mahal, ya?"

"Murah itu 2500."

"Serius?"

"Dapet promo gue." Dahsyat nyengir.

Lalu matanya menangkap seorang keluar kelas lebih dulu darinya. Julio---salah satu teman dekatnya. "Gue dulu ya." Dahsyat bergegas pergi menyusul cowok itu.

Selesai makan siang teman-teman Dahsyat bercanda seperti biasa. Suara mereka tumpang tindih dengan suara orang-orang di kantin.

"Nanti juga putus," cetus Julio mengomentari hubungan LDR Saffron dengan pacarnya. Saffron dan pacarnya bertemu di sosial media dan belum pernah bertemu langsung.

"Gak akan ada kata putus di antara kita." Saffron menunjukkan foto editan cowok itu dan pacarnya duduk bersebelahan yang sebelumnya pernah dipamerkan.

"Editan itu lagi." Julio tertawa disusul Mitchell yang menyemburkan pop corn-ya.

"Suatu saat jadi kenyataan."

"Ahaha."

Sementara teman-temannya mulai beralih obrolan ke hal lain, Dahsyat sendiri memandang sosok berambut panjang yang duduk cukup jauh dari posisinya. Di sebelahnya, Caviar tampak asik sendiri dengan ponselnya.

Bibir Dahsyat mencong keras melihat cewek yang cari gara-gara dengannya pagi tadi.

Benci sekali meskipun Dahsyat tidak mengenalnya.

***

1+1Stories to obsess over. Discover now