Prolog

7 1 0
                                        

Kampus itu selalu ramai, terlalu ramai untuk seseorang seperti Feona Naysila Widaningsih.



Suara motor bersahutan di parkiran fakultas ekonomi, suara tawa mahasiswa bercampur dengan bunyi notifikasi ponsel dan lagu-lagu indie yang bocor dari earphone orang-orang yang berjalan sambil terburu-buru mengejar kelas pagi. Di depan gedung fakultas, beberapa mahasiswa baru sibuk foto-foto memakai almamater kebanggaan mereka, sementara anak-anak semester atas duduk santai di tangga kampus sambil mengeluh soal dosen, tugas, dan hidup.



Feona melewati semuanya tanpa benar-benar melihat. Langkahnya tenang, earphone putih menggantung di leher, rambut panjang hitamnya diikat kuncir kuda rendah yang sudah menjadi ciri khasnya sejak semester satu. Outfit-nya selalu sederhana, tapi tetap terlihat mahal dengan cara yang aneh. Oversized shirt abu gelap, celana jeans hitam loose fit, sepatu converse kusam yang tetap bersih, dan totebag coklat tua berisi laptop serta setumpuk proposal kegiatan HIMA.



Semua tentang Feona terasa dingin.


Cara dia berjalan. Cara dia menatap. Cara dia menjawab orang.


Dan entah kenapa, semua orang di HIMA manajemen takut sama dia.


Padahal Feona tidak pernah marah.


Dia hanya terlalu diam.



"Feo!" seseorang memanggil dari kejauhan.


Feona berhenti.



Seorang laki-laki berlari kecil menghampirinya sambil membawa map kuning penuh kertas berantakan.



"Proposal sponsorship lu belum gue revisi, tadi ketiduran. Sorry banget anjir," ucapnya ngos-ngosan.


Feona menerima map itu tanpa ekspresi.



"Deadline jam dua."


"Iya tau, jangan diliatin gitu juga kali."


"Gue belum ngeliatin apa-apa."


"Nah itu dia masalahnya."



Cowok itu menghela napas dramatis sebelum pergi lagi.


Feona hanya menatap punggungnya beberapa detik sebelum kembali berjalan.



Fyi: Feona adalah wakil ketua HIMA



Langit Jakarta siang itu mendung.


Sama seperti isi kepala Feona.


Belakangan ini dirinya lebih sering merasa kosong daripada sedih.



Sedih itu melelahkan.


Kosong jauh lebih aman.


Feona hidup di rumah besar yang bahkan tidak pernah terasa seperti rumah.



Rumah dua lantai dengan taman luas, garasi penuh mobil, meja makan panjang, dan suara tawa yang tidak pernah benar-benar melibatkannya.



Kakaknya, Revan, adalah kebanggaan keluarga. Laki-laki sempurna yang sekarang bekerja meneruskan perusahaan periklanan milik kakek mereka. Pintar, tenang, dewasa, dan selalu berhasil membuat kedua orang tua mereka bangga.

Kita Hidup di Luka yang SamaStories to obsess over. Discover now