Prolog

459 36 4
                                        

"Ma, aku itu sudah punya pacar! Mama tahu aku sama Lay sudah lama bersama, kan?"

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Ma, aku itu sudah punya pacar! Mama tahu aku sama Lay sudah lama bersama, kan?"

Karina menggerutu, suaranya tertahan namun penuh penekanan. Ia menatap ayah dan ibunya bergantian dengan perasaan campur aduk. Sejak tadi, mereka hanya sibuk membicarakan teman kakeknya seolah-olah hidup Karina adalah barang yang bisa ditukarkan dalam sebuah transaksi bisnis.

Nadya, ibu Karina, menghela napas panjang lalu menggenggam lembut tangan putrinya. "Karina, kamu tahu keadaan Kakek sekarang, kan?"

Karina terdiam. Ia tahu betul jika penyakit Alzheimer kakeknya semakin parah, dan belakangan ini kakeknya sering mengigau tentang sahabatnya yang ditemui saat terapi. Sahabat kakeknya itu hanya memiliki seorang cucu laki-laki dan terus dihantui ketakutan, bagaimana jika cucunya hidup sebatang kara saat ia meninggal nanti?

Atas dasar itulah, dua pria renta itu membuat kesepakatan gila. Menjodohkan cucu mereka agar saat maut menjemput, tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.

Sesaat kemudian, langkah kaki terdengar mendekat. Seorang pria tua dengan tongkat kayu muncul, didampingi oleh pria muda yang berperawakan tinggi, gagah, dan sangat maskulin.

"Selamat malam," sapa pria muda itu dengan suara berat yang tenang.

Mata Karina seketika membola. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat siapa yang berdiri di depannya. "Marlo!"

"Kalian sudah saling mengenal? Bagus kalau begitu!" Dannis, ayah Karina, tersenyum lebar sambil menepuk pundak Marlo dengan bersahabat. "Kamu benar-benar pria yang gagah!"

"Dia ini baru saja pensiun dari dunia tinju profesional." sela Veloz, kakek Marlo, dengan nada bangga yang meledak-ledak. "Sekarang, dia sudah berjanji padaku untuk meneruskan perusahaan keluarga. Dia ini anak baik! Sejak kecil sangat mandiri. Kamu jangan khawatir, Dannis! Cucuku ini bisa masak, bersih-bersih rumah, dan uangnya banyak! Pokoknya sangat mapan!"

"Kakek!" Marlo meremas pelan tangan kakeknya, mencoba meredam semangat sang kakek yang menurutnya terlalu berlebihan.

Marlo mengalihkan pandangannya pada Karina. Matanya yang tajam sempat mendarat pada gadis itu sebelum ia berdeham dingin. "Tapi sepertinya perjodohan ini tidak bisa terjadi, Kek."

Karina mendengus lega, namun kalimat Marlo selanjutnya justru membuat suasana semakin mencekam.

"Pertama, Karina sudah punya kekasih, dan kekasihnya adalah sahabatku sendiri. Dan yang kedua, kami tidak saling mencintai," tegas Marlo.

"Kakek tidak mau tahu!" Veloz menyambar dengan nada keras, wajahnya mulai memerah.

"Kakek, mengertilah! Aku sudah menuruti semua keinginan Kakek untuk kembali ke perusahaan. Tapi untuk masalah ini, Kakek tidak bisa memaksa orang untuk menikah denganku!" Marlo mencoba memberi pengertian dengan nada suara yang tetap tenang namun tegas.

Namun, di tengah perdebatan itu, tubuh Veloz tiba-tiba limbung. Ia memegangi dadanya dengan tangan gemetar dan perlahan jatuh terduduk di lantai.

"Kakek!" Marlo dengan sigap menopang tubuh ringkih itu. Orangtua Karina pun langsung panik.

"Aku dan Charles sudah janji..." bisik Veloz lemah dengan nafas tersengal. "Cucu-cucu kita akan bersama. Pokoknya kalian harus bersama..."

Ketakutan menyelimuti wajah Marlo. Wajah dinginnya runtuh berganti dengan kecemasan yang nyata.

"Kita bawa ke rumah sakit sekarang!" seru Dannis sigap, membantu Marlo membopong tubuh pria tua itu menuju mobil.

Di tengah kekacauan itu, Karina hanya bisa terpaku. Ia menatap punggung Marlo yang membawa kakeknya pergi. Sepertinya janji dari kakek-kakek mereka adalah penjara yang tak akan bisa ia hindari.

****

Suasana rumah sakit yang dingin dan bau antiseptik yang menyengat terasa kian menyesakkan bagi Karina. Di dalam ruang perawatan yang sama, kedua kakek itu berbaring dengan sisa-sisa tenaga mereka, namun mata mereka memancarkan harapan yang begitu besar, harapan yang menjadi beban seumur hidup bagi Karina dan Marlo.

Charles, kakek Karina, menarik tangan cucunya dengan gemetar, lalu meraih tangan Marlo yang terasa kaku. Ia menyatukan kedua tangan itu di atas ranjang.

"Kalian harus terus bersama, berjanjilah pada Kakek!" bisik Charles dengan suara serak, menatap Karina dengan tatapan memohon yang tak sanggup ia tolak.

Karina merasakan telapak tangan Marlo yang lebar dan hangat, namun pria itu tidak memberikan tekanan apa pun, seolah ia pun sedang bergelut dengan nuraninya sendiri. Marlo hanya diam, rahangnya mengeras, menatap pemandangan pilu di depannya.

Veloz, kakek Marlo, mengulas senyum bahagia yang sangat kontras dengan wajah pucatnya. "Kamu harus jaga Karina, Marlo. Sekarang kamu sudah punya keluarga. Kakek sudah tidak khawatir lagi."

Kakek Veloz terbatuk sejenak, membuat Marlo refleks mendekat, namun sang kakek justru menggenggam lengan Marlo dengan kuat. "Besok, setelah kalian sah secara hukum, pakailah baju pengantin. Fotolah bersama kakek. Barangkali... ini adalah keinginan terakhir kami."

Mendengar kata keinginan terakhir, pertahanan Karina runtuh. Ia melirik Marlo yang kini menunduk dalam, menyembunyikan ekspresi di balik rambut gelapnya yang sedikit berantakan.

Malam itu juga, di lorong rumah sakit yang sepi, berkas-berkas pernikahan diurus secara darurat. Tidak ada pesta, tidak ada musik, hanya suara goresan pena di atas kertas bermaterai yang disaksikan oleh orang tua mereka yang juga tak berdaya melawan keinginan para tetua.

"Kita akan mendaftarkan ini besok pagi," ujar Dannis, ayah Karina, dengan suara pelan.

Setelah semua saksi menandatangani berkas, Marlo menarik Karina menjauh dari kerumunan keluarga. Mereka berdiri di sudut balkon rumah sakit yang gelap.

"Ini gila, Marlo," bisik Karina, air matanya mulai menggenang. "Lay... Lay itu sahabat kamu. Bagaimana mungkin kita melakukan ini?"

Marlo menatap ke arah lampu kota di kejauhan, wajahnya kembali dingin dan tak terbaca. "Kakekku sedang sekarat, Karina. Dan kakekmu juga. Kita tidak punya pilihan selain memberikan mereka ketenangan yang mereka mau."

Ia menoleh, menatap Karina tepat di mata. "Ingat satu hal. Di depan mereka, kita adalah suami istri. Di depan dunia dan di depan Lay... kita bukan siapa-siapa. Tidak akan ada yang tahu tentang malam ini."

"Mana bisa begitu?" Karina menjambak rambutnya sendiri, frustrasi yang memuncak membuatnya nyaris berteriak. "Kita ini menikah sungguhan, Marlo! Ada berkasnya, ada saksinya! Ini bukan main rumah-rumahan!"

Marlo tidak bergerak sedikit pun. Sosoknya yang tegap dan maskulin tampak seperti patung di bawah cahaya lampu jalan yang temaram. Ia kembali menoleh, menatap Karina dengan tatapan yang sangat datar, seolah emosinya sudah dicabut paksa demi logika.

"Kita cari cara buat cerai nanti. Yang penting, kakek-kakek kita bahagia dulu. Biarkan mereka tenang." suara Marlo terdengar rendah, mencoba menenangkan Karina meski kata-katanya justru menambah beban di dada gadis itu.

Karina akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah. Tubuhnya terasa lemas, seolah seluruh kekuatannya tersedot habis oleh keadaan. Ia menatap pria di hadapannya dengan gelisah. Marlo adalahsahabat kekasihnya sendiri, pria yang biasanya hanya ia temui saat sedang berkumpul bersama Lay—kini adalah suaminya.

Sungguh, menikah dengan Marlo tidak pernah terbayang dalam hidupnya. Sama sekali tidak pernah terlintas dalam mimpi terburuknya sekalipun bahwa ia akan mengkhianati Lay sedalam ini demi sebuah janji keluarga.

*****

Selamat Datang Dicerita baru

Claimed In Silence (On Going)Stories to obsess over. Discover now