bagian 5: mendebatkan hal yang itu-itu saja

26 6 0
                                        

TINGGALKAN JEJAK KALIAN DI SINI❤️
Happy reading!

***

Sebagai seleb yang saat ini sedang banyak jadwalnya, namun Juan tetap mengusahakan untuk olahraga di pagi hari, minimal selama setengah jam.

Seperti saat ini di waktu weekend sebelum ia memulai aktivitasnya, Juan menyempatkan untuk lari menggunakan treadmill di ruang gymnya.

Hanya menggunakan kaos tanpa lengan dan celana pendek setengah lutut, lelaki tampan itu mulai menjalankan rutinitasnya.

"Shit!"

Di tengah ia berlari tiba-tiba perbincangannya semalam dengan Svara kembali muncul diingatannya. Entah kenapa berita resign manajer sekaligus sahabatnya itu sangat membuatnya emosi.

Juan ingin egois. Ia ingin Svara-nya tetap ada di sampingnya sebagai manajernya. Namun jika ia paksa begitu apakah perempuan itu bisa bekerja dengan nyaman?

Sebenarnya masih jadi tanda tanya besar buat Juan mendengar berita Svara yang tiba-tiba memilih berhenti dari kerjanya. Ia berusaha mengingat kesalahannya namun sialnya ia merasa tidak punya salah apapun dengan Svara.

Ah, mungkin ada. Namun Juan sudah meminta maaf. Ia anggap masalah itu sudah clear. Lalu apa alasannya?

Memikirkan hal itu membuat tanpa sadar lari Juan semakin cepat.

***

Berbeda dengan Juan yang setiap pagi pasti olahraga, Svara yang memang ikut tinggal di rumah itu sejak awal Juan membelinya, rutinitas di pagi harinya yaitu memasak.

Ya, selain jadi manajer yang menyusun jadwal kerja Juan, ia juga merangkap sebagai asisten pribadi yang salah satu kerjanya yaitu buatin sarapan untuk Juan.

Selepas bangun tidur ia segera ke kamar mandi untuk cuci muka dan bersiap diri. Baru setelah itu bergegas ke lantai bawah menuju dapur, melihat isi kulkas dan persediaan bahan makanan yang ada di lemari penyimpanan.

Menu pagi ini ia akan membuat sandwich dengan bacon dan telor mata sapi. Itu menu kesukaan Juan.

Saat sedang sibuk mengolah semua bahan itu, tiba-tiba dari belakang ada yang berbisik tepat di telinganya, "Hm wanginya ...."

Svara agaknya tersentak. Dia pun mendelik pada si pelaku.

"Suka banget sih ngagetin orang. Kalo gue reflek mukul pake ini wajan emang lo mau?" Omel Svara.

Sementara Juan hanya mengedikkan bahunya santai.

"Pokoknya besok orang yang gantiin lo harus bisa juga buatin gue sarapan kaya gini. Tapi gue gak mau dia nginep di sini. Titik."

Svara pun menghela nafasnya panjang. "Calon pengganti gue dia gak bisa masak, Ju. Jadi nanti gue minta Bi Isum untuk bersih-bersih sekalian masakin lo dari pagi. Rumah Bi Isum kan deket dari sini jadi masih aman kalo harus buatin sarapan. Gue juga udah kasih rekomendasi kost yang ada di deket sini buat calon pengganti gue, biar dia gampang pulang-perginya. Gue tau lo banyak maunya."

"Bagus. Oh ya satu lagi, pokoknya lo gak boleh pergi sebelum gue approve dia buat kerja sama gue."

"Ya gak bisa gitu dong Ju!" Svara langsung protes. "Kalo gitu ceritanya bisa aja lo akal-akalin biar gue gak bisa resign. Nggak adil itu!"

"Biarin suk—"

"Nggak! Gue kasih waktu 2 minggu ini untuk dampingi dia. Setelah itu mau gak mau, bisa gak bisa, lo harus sama dia." Putus Svara.

Tiba-tiba Juan bangun dari duduknya sambil menatap Svara kesal. "Egois banget sih lo Ra. Terserah lo deh. Atur aja sesuka lo. Lo kan panitianya."

Setelah itu Juan pergi, meninggalkan pantry, bahkan sebelum meminum susu dan sarapan kesukaannya.

Notes from His ManagerTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang