"Woi, bangun! Udah bel istirahat nih."Suara Toni terdengar jelas di antara keheningan kelas yang mulai kosong. Ia menggoyangkan tubuh Charles yang sejak tadi tidak bergerak sama sekali.
Charles membuka matanya perlahan sambil menguap lebar. Pandangannya kabur beberapa detik sebelum ia sadar hanya ada dirinya dan Toni di kelas. Bangku-bangku lain sudah ditinggalkan, buku-buku sudah dimasukkan ke tas; suasana kelas bahkan terasa lebih dingin dibanding biasanya.
"Anjir, udah berapa jam gue tertidur?" tanyanya terkejut sambil duduk tegak.
"Lo udah tidur sejam setengah," jawab Toni santai, membuat Charles menggaruk kepala yang sama sekali tidak gatal.
"Wah... lama juga. Tadi pelajaran apa sih? Kok gue gak sadar sama sekali?" Charles bertanya lagi, mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum ia terlelap.
"Tadi I-P-A," jawab Toni sambil mendecak. "Tumben banget lo ketiduran. Biasanya lo yang bawel nyuruh gue bangun kalau gue ngantuk pas pelajaran."
Charles hanya nyengir kecil.
"Hehe... gue emang susah tidur semalam. Gara-gara kepikiran syetan film yang kita tonton," katanya sambil mengucek matanya.
Itu bohong—setengahnya.Yang sebenarnya terjadi: Henry, kakaknya, memarahinya karena pulang terlalu malam. Charles dihukum tidur di luar rumah. Di halaman. Dengan nyamuk sebanyak jamaah shalat Jumat.
Ibunya? Tidak tahu. Kalau ibunya masih terbangun, Henry pasti tidak akan setega itu. Tapi Charles tetap tidur di luar dalam dinginnya malam, sampai akhirnya pukul empat pagi Henry menyiramnya dengan air agar ia bangun dan siap sekolah.
Aneh? Keterlaluan? Memang. Itulah Henry belakangan ini—seakan tidak lagi punya sisi lembut yang dulu selalu melindungi adiknya.
"Oh yaudah. Lo gak ke kantin?" tanya Toni kemudian.
Charles sempat teringat Roy—pengendara motor yang ia lihat kemarin malam. Toni menduga itu Roy, dan entah kenapa Roy tidak masuk sekolah hari ini. Tetapi ia menepis pikiran itu.
"Yaudah, ayo," jawab Charles sambil berdiri. Mereka menuju kantin. Namun sesampainya di sana...
"Anjir rame banget. Kita terlambat." Mata Charles melebar. Kantin dipenuhi suara riuh, siswa lalu-lalang, antrian mengular sampai pintu.
Charles segera menyusun strategi seperti seorang jenderal perang.
"Dengerin, Ton. Lo cari tempat duduk buat kita. Gue yang beli makanan. Deal?"
Toni terkekeh melihat keseriusan itu lalu mengangguk. "Boleh. Semoga lo selamat."
"SIAP! Kaya biasa ya. Gue berangkat!"
Charles melesat pergi setelah menerima uang dari Toni. Sementara itu, Toni mulai menjalankan tugasnya. Ia mengelilingi kantin yang penuh sesak sebelum akhirnya menemukan satu meja kosong di sudut. Ia duduk sambil menghela napas lega.
"Oke... tinggal nunggu tuh anak," gumamnya.
Lima menit...
Sepuluh menit...
Toni mulai gelisah.
"Kemana dia?" pikirnya sambil berdiri.
Ia menatap kerumunan, namun Charles tak terlihat. Lalu sebuah suara gaduh terdengar dari arah antrian. Toni langsung menoleh. Nalurinya sebagai teman langsung membuat langkahnya cepat menuju sumber keributan itu.
Saat ia tiba, matanya terbelalak.
Di tengah kerumunan, Charles berdiri berhadapan dengan seorang kakak senior berbadan besar, rambut berantakan seperti preman, lengkap dengan kalung silver. Andhika.
"Apa salah saya, Bang?" Charles mengeraskan suara, wajahnya memerah karena sebuah pukulan sebelumnya.
Andhika tertawa meremehkan.
"Lo berani-beraninya bentak gue? Lo kenal gak siapa gue?"
Para murid berbisik—Andhika memang terkenal kasar dan suka menyerobot antrian.
"Tadi lo bikin kesalahan sama gue. Jadi lo harus tanggung akibatnya," katanya dengan tatapan tajam.
"Hah? Salah apa? Bukannya abang yang nyerobot antrian? Harusnya abang itu antri!" balas Charles sambil memegangi wajahnya.
Andhika terkekeh kecil sebelum mendekat.
"Hahaha... antri? Maaf ya, gue sibuk. Gak ada waktu ngalah sama bocah kayak lo."
Ia menunjuk wajah Charles. Namun bukannya takut... Charles malah tertawa keras.
"Hahaha! Abang yang kek bocah! Udah gede tapi masih nyerobot antrian? Kayak anak SD!"Kerumunan langsung terdiam. Andhika memucat—lalu memanas.Dengan cepat ia memukul Charles lagi hingga Charles jatuh tersungkur. Beberapa siswa memekik kecil. Tidak ada yang berani mendekat.
Andhika kemudian menendang tubuh Charles. Suasana kantin berubah mencekam, namun semua orang hanya menonton. Hingga seseorang mendorong kerumunan dan maju ke depan—dan langsung melayangkan pukulan ke wajah Andhika.
BUGH
"ANJING! APA-APAN LO?!" teriak Andhika sambil menyentuh pipinya.
Toni berdiri tegak, napasnya naik turun, tatapannya tajam seperti orang yang kehilangan kesabaran.
"Sorry, Bang. Dia temen gue. Dan dia gak bohong. Abang beneran kek anak SD."
Geram, Andhika mengepalkan tangan. "Berani juga lo, ya. Siapa nama lo?!"
Toni mengangkat dagunya sedikit.
"Nama saya? Anda gak perlu tahu."
Pukulan Andhika datang cepat. Mengenai pelipis Toni. Namun Toni membalas lebih cepat—pukulan ke dada, lalu rahang. Andhika terjatuh, kepalanya membentur sudut meja.
Suara benturannya cukup keras membuat beberapa siswa menjerit pelan.
Andhika menahan kepalanya sambil meringis kesakitan. Sementara Toni berlutut di samping Charles.
"Charl, lo gak apa-apa? Ayo gue antar ke UKS," ucapnya khawatir.
Charles menatap Toni sambil tersenyum kecil, meski wajahnya lebam. Ia berdiri dengan bantuan Toni, sempat melirik Andhika yang masih mengerang.
"Haha... emang kek bocah," batinnya puas.
Toni menarik tangan Charles menjauh dari kerumunan yang masih heboh. Toni tidak suka menjadi pusat perhatian—ia hanya bergerak karena Charles diperlakukan tidak adil.
Zea dan Evi melihat kejadian itu dari kejauhan. Wajah Zea terlihat khawatir, dan ia memutuskan untuk mengikuti mereka. Evi pun ikut mengekor di belakang.
Sementara itu, Andhika bangkit dengan mata merah penuh amarah.
"Awas aja... gue bakal cari lo. Gue bakal balas dendam," gumamnya sambil berjalan pergi, memegangi kepalanya yang mengucurkan darah.
Tak ada yang peduli. Semua hanya menatapnya dari jauh dan kantin kembali ramai, namun dengan bisikan-bisikan tentang satu hal:
Toni—si anak pendiam—baru saja menjatuhkan preman sekolah.
~~~
-Wih, gila keren banget kan si Toni? kasih tepuk tangannya buat Toni! Krik krik krik....
-Oke, Segitu dulu untuk kali ini.... jangan lupa vote dan coment jika kalian suka.....
-See you again guys... Good bye^^
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello Friends
Teen FictionKetika Pertemanan di uji oleh berbagai masalah. Charles Savirno, cowok beragama non muslim yang suka bercanda dan selalu bersikap ceria di hadapan siapa saja tetapi jangan tetipu! karena itu hanya topeng untuk menutupi semua luka-luka nya dan kera...
