20. Dunia yang Rusak
•••
Bangunan megah didepannya terasa lebih mencengkam, Caylee menggendong Liam, ia melangkah masuk setelah menghilangkan keraguannya. Kaia dan Akira mengikuti dari belakang, memikirkan alasan logis untuk melarikan diri dari amarah Aetheria.
Thalion, Asher, Caleb dan Rayan sudah duduk manis di ruang keluarga dengan beberapa dokter dibelakangnya. Benar-benar menunggu kedatangan mereka.
"Obati anak itu dan mereka bertiga," titah Thalion pada dokter dibelakangnya.
"Baik, tuan."
"Kalian duduklah."
Caylee, Akira dan Kaia duduk berdempetan, berusaha menenangkan degup jantung yang semakin menggila. Tolong, ini menakutkan.
Akira dan Kaia selesai diobati, mereka berdua hanya memiliki luka lebam di wajah. Sedangkan luka goresan pada lengan Caylee masih diobati dengan sangat hati-hati, dapat ia rasakan tangan dokter yang gemetar hebat karena tiga monster Aetheria itu terus menerus menatapnya.
"Ayah bangga atas tindakan kalian malam ini, tapi ayah tidak membenarkan kalian yang keluar diam-diam," ujar Thalion lembut. Ia mana mungkin memarahi putrinya.
"Maaf, ayah."
"Maaf, om."
"Kalian memang ada-ada saja jika sudah berkumpul seperti ini," heran Caleb.
"Tidak bisa kah bermain yang normal saja?" tanya Asher
"Rata-rata remaja perempuan seperti kalian itu main di mall, pajamas party, bukannya masuk ke pelelangan ilegal," sambung Rayan.
"Itu kan rata-rata kak, kalau kami beda. Kami itu diatas rata-rata," balas Akira.
Caylee dan Kaia sontak melotot, ia menyenggol pelan lengan Akira, "diam, bodoh!"
Akira tersenyum canggung saat mendapati tatapan tajam dari Asher, Caleb dan Rayan, "peace, kak."
"Sudah cukup," lerai Thalion. Ia menatap Caylee, "jadi, anak itu siapa?"
"Sebelum penyerangan di depan EHS waktu itu, Fae menyelamatkannya saat hampir tertabrak mobil. Namanya Liam, Fae tidak tau kenapa anak itu bisa ada di pelelangan," jawab Caylee.
"Kami tidak bisa menerima perbudakan, jadi kami menghancurkan pelelangan itu," lanjut Kaia.
Akira mengangguk setuju, "aku rasa mental anak itu terguncang."
"Jadi aku ing—"
"JANGAN MENDEKAT!"
Teriakan itu sukses membuat mereka terkejut, Caylee tidak lagi melanjutkan ucapannya, ia langsung berlari ke kamar dimana Liam berada.
Prangg
"Jangan sentuh aku ..."
"Aku takut ..."
Suaranya melirih, Liam menggenggam erat pecahan kaca ditangannya. Caylee mendekat, berusaha melepaskan genggaman Liam.
"Hei, Liam. Jangan takut, disini ada kakak."
Tangisannya kian mengeras, begitu terdengar pilu. Kaia dan Akira tak kuasa mendengarnya, mereka memilih keluar.
"Jelaskan kondisinya," titah Asher.
"Anak itu mengalami trauma, tuan. Sebaiknya diperiksa langsung oleh psikiater. Untuk luka luarnya tidak ada yang serius."
"Baiklah, kau boleh pergi."
YOU ARE READING
In Altera Vita [ On-Going ]
Teen Fiction'Two souls, one heart, one destiny.' Hujan deras mulai tenang, berganti dengan aroma petrichor yang menguar. Mereka yang dipertemukan kala hujan, menciptakan memori yang hangat dan menenangkan. Sesaat setelah netra indah itu saling menatap, mereka t...
![In Altera Vita [ On-Going ]](https://img.wattpad.com/cover/404956590-64-k568225.jpg)