Laut saat itu tampak tenang dari kejauhan, berkilau di bawah cahaya bulan penuh yang menggantung pucat di antara awan-awan. Terlihat terlalu... damai.
Ombak kecil memukul lambung kapal pesiar mewah milik keluarga Abraham—salah satu mafia besar Rusia yang namanya cukup terkemuka dan disegani. Benda raksasa itu melaju dengan anggun. Dindingnya putih berkilat, lampu-lampu dek memantul di permukaan air layaknya garis emas. Dari luar, kapal itu seperti surga yang terapung. Sedangkan bagian dalamnya... hanya mereka yang ada di atas sanalah yang tahu.
Empat orang muncul di sisi kapal. Satu per satu, nyaris tanpa suara.
"Kontak visual. CCTV aktif," bisik seorang perempuan melalui earpiece hitam yang terpasang di telinganya.
Sierra. Jenius teknologi, penyusup elektronik, dan juga sniper cadangan. Rambutnya yang kecoklatan disembunyikan di balik hoodie hitam, matanya yang berwarna coklat terang fokus menatap tablet tipis di tangan. Tangannya bergerak lincah menari di atas layar, memainkan teknologi yang aktif di dalam kapal. Satu kamera mati, dua, tiga, begitu seterusnya.
Di bawahnya, Alpha memanjat dengan cepat. Otot lengannya bekerja dengan sangat baik. Pisau keramik kesayangannya terselip di dada, pistol berperedam ditempatkan di paha kanan. Wajahnya dingin, napasnya stabil, matanya menatap tajam ke arah langit.
"Sepuluh detik," katanya.
Sierra menggeram tipis. "Terlalu singkat. Beri aku waktu satu menit," balasnya.
Alpha hanya diam tak menanggapi. Di sisi lain, Van tersenyum miring. "Biasanya kamu hanya perlu paling lama 30 detik," katanya sarkas. lelaki yang satu ini ahli dalam taktik, observasi, dan negosiasi. Meski kepribadiannya lembut dan tenang, ia sangat licik dan kejam jika berhadapan dengan musuh.
Sierra menatap tajam ke arah Van, mendengus malas sebelum akhirnya kembali melanjutkan pekerjaannya.
Yang terakhir naik adalah Gale. Ahli dalam menyelinap, penyamaran, dan pelarian. Gerakannya ringan, seperti bayangan yang memiliki bentuk manusia.
Mereka mendarat bersamaan di dek servis.
alpha mengangkat kepalan tangan, tanda berhenti.
Langkah kaki terdengar dari balik pintu logam. Dua penjaga yang berbicara santai dalam bahasa Rusia, tidak tahu kalau ada bahaya yang mengintai di balik kegelapan.
gale bergerak lebih dulu.
Pintu terbuka setengah. Dalam satu tarikan napas, gale menarik penjaga pertama masuk, menghantamkan sikunya ke tenggorokan mangsa. Penjaga kedua sempat terkejut. Cukup lama untuk van menutup jarak dan menghantamkan kepalan tangannya ke rahang penjaga itu. Dua tubuh jatuh tanpa suara.
"Bersih?" tanya van.
Sierra mengangguk, lalu menatap layar. "Target bergerak ke lounge VIP lantai atas. Ada dua bodyguard elit yang menggunakan senjata berat."
Target mereka dalam misi kali ini adalah Orlando G. Mantan intelijen yang kini adalah buronan internasional. Alasannya cukup klise.
Otak di balik perdagangan manusia dan senjata ilegal.
Selama ini, ia bersembunyi di balik ketiak Klan Abraham, hingga tak ada satupun yang berani mengusiknya secara terang-terangan.
Dunia hanya berteriak-teriak, menetapkan statusnya sebagai buronan internasional. Tapi tak ada pergerakan berarti. Sebagian karena takut menghadapi kekuatan di balik orang ini, sebagian lagi karena mendapatkan manfaat dibalik bisnis yang dijalankannya.
Sayangnya, keempat orang ini tak termasuk dalam kelompok-kelompok pecundang itu.
alpha menyeringai tipis.
YOU ARE READING
Codename : Alpha
Action[BUDAYAKAN MENINGGALKAN JEJAK SEPERTI VOTE DAN KOMEN AGAR AUTHOR TETAP SEMANGAT DAN PERCAYA DIRI] [SETIAP ORGANISASI, LEMBAGA, TOKOH, SENJATA, DAN JUGA KEJADIAN YANG MUNCUL DI NOVEL INI TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN KENYATAAN] [Cerita ini murni karangan...
