𝙒𝙚𝙡𝙘𝙤𝙢𝙚🎉
Bandung pukul 06.45 WIB. Udara dingin yang biasanya menyelimuti kota ini seolah minggir saat motor sport membelah jalanan menuju SMA Garuda Bangsa. 𝙉𝙖𝙯𝙚𝙖 𝘼𝙡𝙫𝙚𝙧𝙖 𝙈𝙖𝙝𝙚𝙨𝙬𝙖𝙧𝙞, atau lebih di kenal dengan nama Zea, memarkirkan motor sport hitam-merah kesayangannya tepat di depan gerbang sekolah bukan di parkiran siswa. Ia melepas helm full face nya, membiarkan rambut panjangnya tergerai berantakan.
"Zea! Woi, anak pungut! Turun nggak lo!"
Zea menoleh, mendapati seoarang cowok jangkung dengan seragam yang sengaja tidak dimasukkan berdiri di lantai dua koridor. Itu 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙣𝙯𝙖 𝙈𝙖𝙝𝙚𝙨𝙬𝙖𝙧𝙞, abangnya.
"Bacot, Ken! Urusin aja tuh upil lo!" teriak Zea tanpa beban, membuat satpam yang ingin menegurnya mengurungkan niatnya.
Zea melangkah santai menuju kelas Xl IPA 3. Belum juga pantatnya menyentuh kursi, aroma parfum mahal kecium dari jarak sepuluh meter sudah menyambutnya. Itu tandanya, tiga makhluk paling berisik di SMA Garuda Bangsa sudah Standby.
"Zee! Oh my Good, lo liat kaca nggak sih? Rambut lo udah kayak singa!, abis tawuran dimana lo?" semprot 𝘾𝙡𝙖𝙧𝙞𝙨𝙨𝙖 𝙑𝙖𝙡𝙚𝙯𝙠𝙖, atau valez. cewek itu langsung berdiri, mengambil sisir dari tasnya dan memaksa Zea diam sementara dia merapikan rambut sahabatnya.
"Gue heran, lo cantik, tapi kelakuan kayak preman terminal. Mubazir tau"
"Bacot banget, penting nyampe sekolah nggak telat" sahut Zea malas.
"Telat dikit mah gapapa, asal tetap slay" timpal 𝘽𝙚𝙫𝙚𝙧𝙡𝙮 𝘾𝙖𝙡𝙡𝙧𝙞𝙨𝙩𝙖 yang sibuk mengoleskan hand cream beraroma vanila. "Eh, guys, lo tau ngga? Pak Kumis si guru BK itu katanya baru beli mobil baru hasil kredit. terus ya, di gosipnya dia selingkuh sama ibu kantin gedung B. gila nggak sih?"
"Mulut lo gosip mulu yang di bahas, Bev. Mending lo pikirin gimana cara ngerjain tugas Fisika yang mau di kumpulin jam pertama" celetuk 𝙁𝙚𝙡𝙞𝙘𝙮𝙖 𝘼𝙧𝙞𝙨𝙩𝙝𝙖 sambil asik mengunyah permen karet.
Zea baru mau mengatakan sesuatu saat sebuah tas sekolah mendarat di atas mejanya 𝘉𝘙𝘈𝘒!
Kenza sudah berdiri di sana dengan cengiran tanpa dosa. "Makan nih. Nyokap tau lo cuma minum susu tadi pagi. Kalo lo pingsan, gue yang repot!"
Kenza mengeluarkan kotak bekal dan susu kotak. Ia duduk dengan santai di kursi depan meja Zea, sama sekali nggak peduli kalau kelas itu mulai ramai.
"Kak Kenza! Kok makin ganteng sih?" goda Beverly, yang memang sejak dulu naksir berat sama Kenzo.
"Ganteng dari lahir, Bev. Baru sadar lo? balas Kenza dengan pede nya, Kenza diam sejenak lalu beralih menatap Zea dan berbisik. "Gue denger Evan bikin taruhan di klubnya semalam. Dia mau lo, Zee. bukan cuma mau balapan, tapi buat jadi mainan dia. Jangan lewat jalan kayak biasanya kalo balik nanti. Paham?"
Zea mendengus remeh "Evan? siapa dia? Gue nggak takut."
"Ini bukan soal takut atau nggak, Nazea! dia udah gila sama lo!" Kenza sedikit membentak, membuat seisi kelas senyap.
Lalu matanya menatap tajam ke arah tiga teman Zea, mengisyaratkan mereka untuk memberi ruang. Valez, Beverly, dan Feli yang paham kode itu langsung pura-pura sibuk ke pojok lain.
"Nezea, dengerin gue!" Kenza mencengkram lengan Zea, tidak sakit, tapi tegas. "Gue nggak mau lo jaminan buat urusan yang lagi ngincer celah buat narik lo masuk ke masalah mereka. Gue nggak mau lo jadi jaminan buat urusan yang bukan porsi lo?"
YOU ARE READING
ENDESSLY || NAZEA
Teen Fiction"Nyerah aja, Zee! Lo bakal lebih cantik di tempat tidur gue daripada jatuh di aspal!" teriak Evan. Zea melirik sekilas, matanya berkilat penuh amarah. Ia justru menambah kecepatan di titik yang harusnya ia rem. "Mimpi lo ketinggian, Evan! Gue nggak...
