Saat dunia menutup wajah aslinya, tiada kenyataan yang melekat. Semua itu hanyalah tipu daya, penuh kepalsuan. Kebohongan seolah lebih mudah diucapkan. Di dunia yang penuh ilusi ini, ia berusaha menutup mata seolah semua tidak ada yang nyata. Empati dan simpati hanya sebagai penunjang sesaat....
Ia membuka matanya, setelah sekian lama memejamkan mata. Wajahnya tengah dirias oleh penata rias.
"Oke sudah beres." Sang penata rias kini mengangkat cermin. Wajah yang usai dirias itu tampak memanjakan mata dengan blush-on di sekitar pipi ketika terpantul dari cermin. "Jadi gimana ada yang kurang enggak?"
Fanny yang tengah memandang wajahnya sendiri, tersenyum lebar. "Kayaknya sudah cukup sih."
"Oke kalau gitu, pembayarannya sudah lunas, jangan lupa tag instagramku ya," ucap penata rias itu dengan menutup seluruh peralatan riasan. Memasukkannya satu per satu ke dalam tas.
"Kak, aku permisi dulu ya, mau memersiapkan kostumku dan lain-lain."
"Baiklah, sekali lagi makasih ya kak."
Fanny berdiri membawa goodie bag yang berisikan satu paket kostum Elaina si penyihir dan rambut palsu. Belakangan karakter anime itu sedang naik daun. Jadinya Fanny pun ingin meng-cosplay-kan karakter Elaina.
Ia pergi menuju toilet perempuan, bagian dalam toilet dipenuhi dengan cosplayer lain. Fanny pun terpaksa mengantri bersama cosplayer lain. Selang beberapa menit, ia kini bisa memasuki toilet, segera berganti pakaian.
Pakaian Elaina yang cukup sederhana. Mengenakan kemeja berwarna putih dan rok ungu pendek di atas lutut. Lalu ia memasangkan jubah panjang berwarna ungu dengan topi lebar penyihir berwarna serupa. Ia keluar dari bilik toilet, melangkah menuju wastafel. Pantulan dirinya dari kaca cermin mirip dengan tokoh Elaina.
"Oke." Fanny segera menarik napas panjang sebelum benar-benar keluar dari toilet. Saat pintu itu terbuka, ia akan buang jauh-jauh semua kenyataan karena yang ada di hadapannya adalah kebohongan dan ilusi. Fanny menarik pintu toilet, langkahnya memijak keluar.
Fanny yang berperan sebagai Elaina itu pun memasuki venue, melewati pemeriksaan barang dan pemasangan tiket bersamaan pengunjung serta cosplayer lain. Suasana tampak begitu ramai dipenuhi oleh lautan manusia. Mungkin ini bukan pertama kalinya bagi Fanny berada di event Jejepangan, namun ini adalah pertama kalinya ia ber-cosplay menjadi Elaina. Kebetulan ia baru saja menamatkan animenya sebulan yang lalu untuk memahami sifat Elaina yang cenderung egois atau lebih tepatnya sok sombong. Mungkin saja.
Baru saja melewati gerbang pemasangan tiket, seorang fotografer menghampiri Fanny. Tidak hanya satu atau dua saja, melainkan tiga orang. Kesan pertama yang berhasil dibangun olehnya. Para fotografer itu mengambil beberapa pose yang langsung dilakukan oleh Fanny. Beberapa orang di sekitar takjub dengan role play-nya. Setelah mereka mengambil foto, mereka menyakan akun instagram. Fanny langsung menunjukkan akunnya. Para fotografer itu cepat-cepat mencatat akun di ponsel, ada pula yang langsung mencarinya di pencarian.
Belum juga beranjak, pengunjung biasa ada yang mampir ingin mengambil foto dengannya. Menanyakan akun instagram. Hal yang wajar terjadi di event-event. Fanny pernah melakukannya, tetapi itu dulu. Sekarang ia menjadi karakter anime yang diidamkan oleh para otaku.
Selang beberapa saat setelah berkeliling, kaki Fanny terasa pegal, berdiri di dekat gerbang pintu keluar. Ia mengeluarkan ponsel, menunggu balasan. Akan tetapi, saat menyalakan ponsel, sinyal di exhibition hall mendadak hilang.
"Bagus sekali," decaknya dengan kesal. Sinyal hilang dalam Exhibition hall merupakan hal yang lumrah. Pengunjung berlalu-lalang di hadapan Fanny.
Tepat di depan Fanny, dua booth tengah berdiri. Booth itu masih kosong dengan dua meja berada di dekat kaca-kaca. Tidak jauh darinya, terdengar cek cok antara panitia dan seorang fotografer. Fanny hanya memandangnya dari kejauhan. Kadang para fotografer itu egois, memasang light stand di tengah jalan. Jujur saja agak mengganggu kalau mereka jumlahnya sangat banyak.
"Sepertinya enggak lama lagi bakal ada gorengan." Seseorang muncul di samping Fanny sembari membawa kamera.
"Gorengan?" tanya Fanny sekali lagi pada lelaki yang ada di sebelahnya.
Lelaki itu menganggukkan kepala. "Kamu kira apa, Fanny?"
Lantas wajah Fanny menunjukkan tatapan datar pada lelaki itu, Nathan. Amarahnya mulai bergejolak dalam hati. Nathan baru menoleh pun perlahan mundur memandang tatapan datar tanpa ekspresi itu.
"Fanny, kamu enggak apa-apa kan?" Nathan masih terus melangkah mundur. Tahu-tahu Fanny sudah mengangkat tongkat sihirnya.
"Kenapa... kamu...."
"A-aku bisa jelaskan," ucap Nathan dengan bibir gemetar.
"Terlambat...?!" lanjutnya dengan nada tinggi, kali ini amarahnya benar-benar meledak. Ia terus-menerus memukul bahu Nathan dengan tongkat sihirnya.
Meski tidak terlalu keras, tetapi rasanya benar-benar sakit bagi Nathan. "Aku sudah bilang kan kalau telat. Kenapa sih?"
"Habis, aku takut. Tadi beberapa fotografer ada yang mengerubungi, terus ada laki-laki yang ingin mengambil foto denganku," keluh Fanny dengan pipi mengembang.
"Tapi bukannya itu juga keinginanmu?" Nathan bertanya sembari mengambil flash dari dalam tas yang diselempangkan. Memasangkannya di atas kamera Nikon D5100.
"Iya sih, tapi kalau kenapa-kenapa masa kamu enggak khawatir?" Fanny bertanya balik sembari melancarkan pukulan pelan di bahu Nathan. "Sekarang lagi musim-musimnya pelecehan di dunia cosplay."
"Itu juga sudah dari dulu, btw."
Fanny hanya membalas gumaman. "Yang lain ke mana?"
"Masih belum datang, yang satu masih ngurusi weddingan, yang satu masih ngurusi perkudaan, sisanya enggak jelas," balas Nathan menutup tempat baterai pada flash. "Di rooftop ada tempat bagus sih. Mau take foto di sana?"
"Boleh sih."
Nathan pun berbalik, disusul oleh Fanny di belakang. Mereka berdua keluar dari venue, menaiki eskalator. Lalu, menaiki dua tangga. Napas keduanya terengah-engah sampai di atas.
"Kenapa eskalatornya hanya sampai satu lantai atas saja?" keluh Nathan dengan perlahan.
Dari balik kaca jendela, beberapa cosplayer dan fotografer berhamburan ke berbagai sisi.
"Semoga saja tidak ada satpam," ucap Nathan membuat Fanny menaikkan satu alis.
"Kalau diusir?"
"Kita turun saja, lagi pula sudah makan sehari-hari main kucing-kucingan dengan satpam di Tunjungan Plaza." Nathan menyeringai.
Fanny hanya membalas sembari menggeleng kepala.
Saat membuka pintu, udara segar menerpa mereka. Fanny dan Nathan bernapas lega sesaat. Mereka berjalan ke tengah yang merupakan area parkir mobil. Banyak mobil yang berjejer. Bangunan-bangunan menjulang tinggi dengan langit berawan tampak begitu memanjakan mata.
"Aku baru tahu tempat ini," kata Fanny dengan mata berbinar.
"Sudah kubilang kan, ada tempat bagus di sini." Nathan menyunggingkan bibir. "Setidaknya sampai satpam datang."
Baru saja melangkah keluar, berjalan ke sekeliling dan belum mengambil gambar. Tiba-tiba dari kejauhan seorang satpam datang. "Hei, dilarang foto di sini!"
"Kelihatannya gawat, ayo kita turun!" ajak Nathan sembari menarik tangan Fanny. Para fotografer yang lain pun turut bubar. Mereka semua terpaksa turun dari rooftop.
YOU ARE READING
Convention
General FictionSaat kabar buruk mengenai skandal di komunitas cosplay Eclipse tersebar, semua anggota terkena dampaknya termasuk Fanny. Terpaksa, ia harus mencari pelaku yang menyebabkan nama komunitasnya buruk di mata publik. Dibantu dengan Nathan, Fanny berusaha...
