TW (⚠️🔞 Only 18+ 🔞⚠️): Dubcon, kekerasan seksual, psikologi manipulatif. Konten Seksual yang Kuat. Ini menunjukkan adanya adegan atau dialog yang bersifat seksual, yang mungkin eksplisit atau implisit.
Dulu, Bae Irene hanya mengenal Choi Suho seba...
TW (⚠️🔞 Only 18+ 🔞⚠️): Dubcon, kekerasan seksual, psikologi manipulatif.
Konten Seksual yang Kuat. Ini menunjukkan adanya adegan atau dialog yang bersifat seksual, yang mungkin eksplisit atau implisit.
Contains Adult , Mature , Smut genres, is considered NSFW.
๑۩۞۩๑
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Jendela itu telah menggariskan hubungan antara aku dan Bae Irene sejak lama. Di balik lantai dua yang sunyi, aku, Choi Suho, menyimpan dunianya sendiri. Ruangan di mana aku bisa memandangi siluet Bae Irene, tetanggaku, idolaku, sekaligus objek rasa kepemilikan yang menyimpang.
Dari sanalah segalanya berawal. Dari tirai yang memproyeksikan bayangannya, menggambar bentuk tubuhnya saat ia melepas seragam, menggulung baju, dan lalu-lalang dalam kamar. Aku sadar betul ini melampaui batas. Aku tahu aku seharusnya tidak membiarkan pikiran ini menggerogoti kesadaran. Namun, di usia yang masih remaja ini, hasrat paling gelap kerap kali lebih kuat dari nalar. Ia mengambil alih, merasuk, dan pada akhirnya mengendalikan.
Apakah harus ada alasan sejak kapan hal semacam ini bermula? Aku tidak butuh alasan!
Seperti malam-malam sebelumnya, bayangannya yang samar tercetak pada tirai, siluet yang sedang melepas kamisol membuat pikiranku tumpul dan pandanganku buta akan segalanya, kecuali dirinya. Dalam kesunyian, di balik jendela ini, aku sadar betul bahwa diriku pelan-pelan tengah digerogoti kegilaan.
Tubuh ini memanas, membayangkan Bae Irene ada di sini, merangkak di bawahku. Aku tidak tahu cara menghentikannya. Keinginan itu menggeliat di bagian paling bawah, berdenyut-denyut tak tertahankan, mengusik setiap sudut kesadaranku. Semua ini tak bisa lagi kupendam. Aku menjadi gelisah, dirongrong oleh hasrat yang sama sekali tak lagi bisa dibendung.
Bahkan setelah segalanya berakhir, setelah tetes terakhir itu berceceran, napasku masih tersengal-sengal di dalam dada. Rasa malu yang menghunjam membuatku membeku di tempat duduk. Bagaimana jika Irene tahu? Bagaimana jika ia menyadari betapa kotor dan menjijikkannya diriku ini?
Aku tidak sanggup membayangkan raut jijik di wajahnya. Pemandangan itu, dalam bayanganku saja, sudah terasa seperti racun yang menggerogoti sisa-sisa harga diriku. Sementara itu, di tengah kehancuran yang aku ciptakan untuk diriku sendiri, sebuah pengakuan palsu terangkai dalam benak, "Aku menyukaimu, Bae Irene."
๑۩۞۩๑
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Musim dingin bukanlah musim favoritku. Tapi Bae Irene menyukainya. Ia memuja cara salju menumpuk lembut di trotoar, menyelimuti dunia dalam kesunyian yang putih.
Dari belakang, langkahku mengikuti iramanya. Andai aku punya lebih banyak nyali, aku ingin menyapanya, bukan sekadar sebagai tetangga yang kebetulan, tentu saja sebagai seorang teman, sebagai pemuja, atau apa pun yang bisa mendekatkanku padanya. Aku ingin berada di sisinya, merasakan kehangatan yang memancar dari tubuhnya di tengah hawa yang membeku ini.
Namun, di depan punggungnya yang kecil itu, aku cuma bisa terdiam. Aku tetap menjadi seorang pecundang yang tak berdaya. Irene terus bersinar, bahkan ketika udara pagi yang dingin ini hampir membekukan segala sesuatu, kecuali cahayanya.
Saat Bae Irene tersenyum pagi itu, waktu terasa mengalir lebih lambat. Dunia seakan berhenti berputar, hanya untuk memperpanjang momen tersebut. Di dalam hatiku, hanya ada satu keinginan sederhana yang mendesak yaitu agar dia tetap di sana, abadi dalam bingkai kehidupanku yang suram.
Lebih dari itu, ada dorongan yang lebih dalam dan gelap, ingin merasakan hangat kulitnya di ujung jari, ingin membisikkan kata-kata untuknya, kata-kata yang selama ini mengendap dan menggenang dalam pikiran.
Akan tetapi, semua orang tahu, bahkan aku sendiri sadar, bahwa seorang pemuda suram dan kutu buku sepertiku tidak bakal bisa berjalan beriringan dengannya. Dunia kami terpisah oleh kenyataan. Maka, cukuplah bagiku menjadi sekadar tetangga. Cukuplah puas dengan memandangnya dari balik tirai, meski yang aku dambakan setiap malam hanyalah bayang-bayang semu tentangnya.
Namun, satu momen tak terduga memberikanku secercah harapan, meski aku sama sekali tidak berusaha. Saat aku melintas di tepi lapangan, sebuah bola terbang dan mendarat tepat di kepalaku dengan suara gedebuk yang menggema seketika dunia berputar. Aku terhuyung, dan dalam kebingungan itu, kulihat siluetnya, bayangan yang selama ini kukenal, akhirnya berlari mendekatiku.
Dalam situasi itu, aku berusaha terduduk di tanah, diselimuti dengungan keras yang membuatku pada akhirnya kehilangan kesadaran. Aku hanya mampu menatapnya, tak mampu menangkap sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya yang bergerak mengatakan sesuatu.
"Choi Suho, apa kamu baik-baik saja?"
Sentuhan lembut tangannya di pundakku justru membuat pandanganku kian kabur, dipenuhi rasa pusing dan getaran aneh yang merambat di sekujur tubuhku.
"Choi Suho!"
Bae Irene yang terdengar panik adalah hal terakhir yang kudengar sebelum kesadaranku memudar.
Berselang beberapa saat, aku sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Saat itu, aku membuka mata. Cahaya sore yang temaram menyoroti sosok yang duduk di sampingku, Bae Irene. Dia terlihat lelah, matanya sayu.
"Bae Irene," Suaraku keluar dengan susah payah untuk memanggilnya.
Irene tersentak, matanya membesar. "Astaga, Suho! Akhirnya kamu siuman. Kamu pingsan karena terkena bola tadi. Kepalamu masih pusing?"
Aku menggeleng pelan, mataku tak lepas darinya. "Sudah jauh lebih baik," ucapku. Lebih baik karena dia ada di sini, meski aku tidak bakal pernah berani mengatakan semuanya pada Irene. "Maaf, sudah merepotkanmu."
Rasa malu membara menyelimutiku. Betapa lemahnya diriku ini, hingga hanya karena sebuah tendangan bola, aku harus tak sadarkan diri hingga sekolah usai.
Namun, dari insiden memalukan itu, tercipta sebuah koneksi yang tak kuduga, kami pun pulang bersama untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Hubungan kami di bangku SMA memang sudah tak lagi sedekat saat kami masih anak-anak, terpisah oleh masa remaja.
๑۩۞۩๑
BERSAMBUNG
CATATAN:
Meskipun sudah ada warning di atas cerita, aku tetap mau kasih warning lagi ke kalian. Cerita ini terinspirasi dari Manhwa The Affairs of the Orchard/과수원의 사정. Semoga ada versi drama Korea, meskipun tampaknya bakal banyak sensornya lol. Ceritanya nggak bakal mirip, aku cuma ambil sisi Childhood dan bertetangga, hanya saja terpisah karena masa remaja. Sempat berdiskusi ide sama Lautankelam buat apakah cerita FWB ini bakal bagus enggaknya dibuat Surene.
Btw, aku terbiasa bikin fanfic anime yang spicy, dan belum terbiasa bikin ke K-pop, karena selama ini aku suka EXO ga berpikir buat bikin fanfik mereka, karena mereka manusia 😂. Bagi kalian yang tidak suka dengan tema-tema Smut, hindari saja, ya.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.