Den Ayu Cinta Sarasvati tidak pernah menuntut, kecuali pada satu hal. Perjodohan sang adik yang paling ia sayangi dengan seorang pria arogan yang ia tak suka, Pangeran Jiwa Koentjoro.
"Kalau kamu niatnya cuma main-main, jangan sama Kirana. Aku nggak...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Pangeran Cinta — Dewa
🥀🪞🥀
Jakarta, 2025
Selepas pulang dari kantor, Cinta bertekad untuk tidak akan menunjukkan rasa penat yang menempel padanya setelah seharian melamar pekerjaan. Karena pada hari ini, adiknya, satu-satunya orang di dunia ini yang mengasihinya, sedang berbahagia. Kirana akan dikenalkan dengan seorang pria dari kalangan kelas yang sama. Seorang pria yang setara dengan status yang sama, hak waris yang sama, dan pendidikan yang sama. Sesuatu yang sejak awal bukanlah milik Cinta walau sebenarnya ia adalah putri sulung Sjailendra.
Senyum di wajah Cinta mengembang saat membaca pesan dari Kirana.
Kirana Mbak, sumpah...Mas ini tipe aku banget deh. Mbak di mana?
Cinta Aku jadi penasaran, kayak apa sih orangnya? Tunggu aku On my way
Ah, membayangkan sang adik yang kini sedang menahan rona merah pipi karena mau dijodohkan dengan pria idaman adiknya saja sudah memberikan alasan bagi Cinta untuk melupakan letihnya sedari pagi tadi. Dengan tumpukan berkas lamaran yang terhimpit antara lengan dan pinggangnya, rambut yang tertiup angin, kemeja putih kusut, dan sepatu Mary Jane lusuh yang hampir tampak seperti melompat-lompat, Cinta bergegas menuju restoran tempat keluarganya mengadakan pertemuan dengan keluarga calon suami adiknya.
Sayangnya, senyum itu tidak bertahan lama. Saat ia melihat sosok Mas yang Kirana terus bicarakan dari pesan, bukan hanya senyumnya yang turun—jantungnya pun ikut merosot sampai dasar perut.
"Kalau Mas niatnya cuma main-main, jangan sama Kirana. Aku nggak bakal diem aja ngebiarin orang kayak kamu nikah sama adik aku," kepalan kedua tangan di samping tubuh Cinta sudah siap dilayangkan kapan pun.
Sekilas tak ada yang berubah di wajah Pangeran, ketenangan itu tetap utuh. Kalimat Cinta barusan tidak diberikan ruang sedikit pun untuk berakar di benaknya. Setelah jeda singkat, senyum tipis terpatri di wajah Pangeran, sebelum akhirnya ia membalas, "Memangnya saya orang yang seperti apa, Cinta?"
"Kayaknya Mas sendiri yang lebih tahu kalau Kirana bisa dapat suami yang lebih baik. Suami yang layak untuk dia, bukan pria brengsek yang suka ngerendahin perempuan kayak kamu."
"Terus...," Pangeran memiringkan kepalanya sedikit, membiarkan kalimat itu menggantung untuk beberapa saat, "orang brengsek seperti saya ini pantasnya untuk orang seperti siapa?"
Sorotnya melekat pada netra Cinta, terlalu menusuk sampai Cinta mulai merasakan ketidaknyamanan yang merayap pelan.
"Kamu?"
"Aku?" tawa kecil Cinta memecah ketegangan di sudut lorong itu.
"Lebih baik aku sendiri seumur hidup daripada punya laki-laki kayak kamu. Lagian, aku udah punya pasangan yang jauh lebih baik dari kamu. Setelah ini, jangan harap aku bakal biarin kamu untuk nikah sama Kirana," Cinta berbalik badan setelah melayangkan peringatan pertamanya. Ia berniat pergi dari sana sebelum sebuah tangan menarik tubuhnya berputar menuju si pemilik tangan.
"Kalau saya bilang saya tertarik sama adik kamu, gimana? Kamu mau apa?" tubuhnya yang menjulang tinggi membuat Pangeran harus menundukkan kepalanya agar lebih dekat dengan wajah si lawan bicara. Sorot ramah palsu Pangeran yang sebelumnya muncul telah tergantikan dengan mata tajam penuh keyakinan.
"Jangan bercan—," ucapan Cinta terhenti begitu saja oleh Pangeran yang melepaskan tangannya dan melengos pergi meninggalkannya. Cinta menatap jengkel punggung pria yang semakin lama semakin hilang dari pandangannya. Decakan halus lolos dari bibir Cinta, benar-benar masih arogan seperti 2 tahun lalu.
🥀🪞🥀
Sampai di penghujung makan malam, akhirnya pertanyaan itu datang juga.
"Menurut, Pangeran, Kirana bagaimana?"
Pangeran menatap Kirana di hadapannya, di detik selanjutnya, pandangannya berpindah pada sosok sang kakak yang dibalas dengan tatapan tajam.
"Saya tertarik untuk berkenalan dengan Kirana lebih jauh."
Selama 34 tahun hidup Pangeran, tak pernah ia merasa setertantang ini. Pangeran siap saja untuk menjalin hubungan baru dengan Cinta, hubungan keluarga sebagai ipar. Juga, Cinta yang siap untuk memberikan 1000 alasan kepada Kirana agar menolak perjodohan ini. Keduanya terlalu percaya diri untuk bisa mematahkan ego satu sama lain.
Sayang, mereka lupa dengan bisikan lama, there is a thin line between love and hate. Kini, siapa yang lebih dulu menjejaki batas tersebut—dan mungkin, tanpa sadar melampauinya?
To be continued
Hi, gue Kunti Melati. Panggil aja, Mbak Kun, Kunti, atau Setan sekalian juga boleh. Kebetulan, gue baru terjun di dunia tulis menulis ini, jadi kedepannya minta maaf ya kalo newbie ini masih salah-salah. Gue sangat terbuka dengan segala kritik dan saran dari kalian sepanjang cerita ini. Please be nice ya kalo gamau gue gentayangin. Baru prolog nih, harus baca karena gue udah sematin pelet tiap part, semoga nagih. See you di Chapter 1! Hihiw 👻🕯️💅🏻
Sebelum itu, kasih tau gue dong kalian nemu cerita ini dari mana?