a Romance Novel | On Going
Avenoir; Desire To See Memories
Suatu peristiwa yang terjadi lima tahun lalu membuat Althea kehilangan nyaris segalanya. Mimpinya menjadi penari balet, juga sebagian besar ingatannya. Termasuk memori tentang Jayden, seoran...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Avenoir (n.)
Sebuah kata benda yang diambil dari Dictionary of Obscure Sorrows, sebuah kamus yang menggambarkan pengalaman emosional kompleks yang tidak memiliki istilah tepat dalam bahasa Inggris.
Istilah "Avenoir" sendiri digunakan ketika ingin mendeskripsikan suatu keinginan untuk melihat memori dengan kejelasan yang sama seperti kita dapat merasakan waktu saat ini.
Mungkin kita bisa bersama-sama menyelam menuju palung paling dalam dari kisah ini. Siapkan hati sekuat mungkin. Mari bertaruh, siapa yang akan dapat bertahan menuju akhir kisah?
CHAPTER ZERO POINT FIVE: Interlude
࿔‧ ֶָ֢˚˖𐦍˖˚ֶָ֢ ‧࿔
Lima tahun yang lalu.
Jantung berpacu dengan cepat, hormon adrenalin terus meningkat, dinginnya ruangan yang menusuk justru membuat Althea semakin terpacu untuk melajutkan gerakannya.
Kontras dengan suhu ruangan yang serasa membeku, justru perempuan itu berkeringat dingin. Setiap gerakannya seolah-olah membawa tekanan tak kasat mata. Menuntutnya untuk selalu tampil sempurna walaupun tak ada sepasang mata yang melihat.
Tidak masalah. Althea memang sengaja berlatih begitu keras. Tiga jam. Empat jam. Atau entah sudah berapa lama ia memaksakan tubuhnya untuk menari tanpa henti.
"Kalau begitu, mari saling berhenti mengenal satu sama lain."
Gerakan Althea sontak terhenti ketika teringat kalimat sialan yang entah dilontarkan oleh siapa. Antara dirinya sendiri atau dia.
Althea menghembuskan napas kasar. Entah seberusaha apa pun dirinya mengenyahkan ingatan menyedihkan tersebut, perempuan itu terus mengingatnya seperti kaset rusak yang terputar tanpa henti di kepalanya.
Althea menggelengkan kepalanya beberapa kali. Tidak, ia sama sekali tidak boleh memikirkan apa pun selain fokus berlatih tarian balet yang memiliki kemungkinan besar menjadi titik terang karirnya sebagai seorang ballerina.
Minggu depan adalah waktu di mana ia akan bersinar sebagai bintang utama. Di tempat yang sama kini ia berdiri untuk berlatih, hall opera ternama yang berlokasikan di Paris. Ini akan menjadi penampilan perdana Althea sebagai penari balet. Tentu ia tidak boleh mengacaukan kesempatan sebesar ini. Sama sekali.
Entah sudah berapa hari ia kesulitan tidur memikirkan rentetan masalah yang menghujaninya tanpa henti akhir-akhir ini. Kepalanya sudah pening, bahkan pandangannya terasa berkunang-kunang, dan telinganya berdenging.