6. Itu Apa?

45 6 4
                                        

─Differential Diagnosis.

─Differential Diagnosis

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

•••

"Ini."

Aina yang masih mematung akhirnya langsung menyadari Sabil sudah berjalan mendekati. Di tangan dokter spesialis bedah itu ada sebuah buku saku tipis yang seketika dikenali Aina.

Sabil sudah melunturkan senyum tiba-tibanya, menyisakan raut wajah serius yang membuat Aina meneguk ludah lalu mengangkat wajah.

"Punya kamu, kan?"

Aina mengerjapkan mata.

"Hah?"

"Ketinggalan di ruang baca radiologi waktu itu. Saya juga lupa kembalikan," sambung Sabil.

Aina buru-buru menerima buku tadi, sesekali melirik Nadya yang menatap penuh makna.

Dua hari.

Hampir dua hari dia dan Sabil tak berpapasan sejak Aina resmi berpindah ke stase Penyakit Dalam. Entah kenapa, pertemuan sesederhana ini justru membuatnya merasa agak canggung.

"I-Iya, terima kasih, Dokter."

"Dan ini." Sabil menyodorkan beberapa lembar kertas yang dijepit menjadi satu lagi. "Kemarin kamu bilang mau baca lebih lanjut soal trauma kepala, kan? Ini beberapa referensinya."

Aina menurunkan pandangan menatap kertas yang diberikan tadi dengan dada terasa hangat. Secepat kilat, dia kembali mengambilnya.

Dia tersenyum lembut. Bukan karena isi kertas itu. Melainkan karena Sabil ternyata ingat percakapan kecil yang bahkan Aina sendiri sudah hampir lupa pernah mengatakannya.

"Terima kasih lagi ... Dokter."

"Sama-sama." Sabil sempat melirik jam tangan sebelum kembali menatap Aina. "Tapi jangan dibaca sekarang kalau kamu sedang ada tugas. Prioritaskan pasien dulu."

Aina mengangguk cepat. "Baik."

Sabil kemudian hendak berbalik, tetapi berhenti sejenak. "Oh, iya."

Aina kembali mengangkat kepala.

"Selamat datang di Penyakit Dalam."

Senyum tipis itu pun kembali muncul sebelum Sabil akhirnya melangkah pergi dari sana. Aina hanya berdiri di tempat, masih memegang lembaran referensi yang diberikan kepadanya.

Dia memandangi kertas-kertas itu lama sampai tak menyadari Nadya terus menahan senyum di sebelah. Temannya itu tidak merasa menjadi obat nyamuk sama sekali, justru Nadya melirik ke kanan-kiri sebelum lekas menyikut lengan Aina dengan ekspresi menggoda.

"Wih, Dokter Sabil perhatian juga, ya?"

Aina mengerjap dan menoleh. "Apaan sih."

"Ih kenapa?" Nadya menahan tawa. "Aku cuma baru tahu, kalau dokter spesialis bisa sampai nyiapin buku referensi khusus buat anak koas."

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Sep 04 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Simetri LukaStories to obsess over. Discover now