Bertemu Kembali

29 0 0
                                        

Orang biasanya memperhatikan Viktor sebelum mereka benar-benar menyadari kenapa.

Wajahnya memiliki garis yang tegas, seperti dipahat dengan terlalu banyak kesabaran. Rahangnya tajam dan kuat, memberi kesan seseorang yang jarang ragu dengan keputusannya. Rambut hitamnya disisir ke belakang, sedikit bergelombang, seolah selalu rapi tanpa benar-benar berusaha terlihat sempurna.

Alisnya tebal dan lurus, membingkai sepasang mata cokelat gelap yang sulit ditebak. Tatapan Viktor bukan jenis yang hangat—lebih seperti seseorang yang melihat lebih banyak dari yang ia katakan. Ada sesuatu dalam matanya yang membuat orang lain merasa sedang diperhatikan terlalu lama, bahkan ketika dia hanya diam.

Tulang pipinya tinggi dan jelas terlihat ketika cahaya menyentuh wajahnya dari samping. Hidungnya lurus, memberikan keseimbangan pada wajah yang nyaris terlalu simetris. Di sepanjang rahangnya tumbuh janggut tipis yang terawat rapi, cukup untuk membuatnya terlihat lebih dewasa, tapi tidak cukup untuk menyembunyikan ekspresi dingin yang hampir selalu ada di wajahnya.

Bibirnya penuh, namun jarang tersenyum sepenuhnya. Jika pun tersenyum, biasanya hanya sedikit terangkat di satu sisi—senyum kecil yang terasa lebih seperti rahasia daripada keramahan.

Viktor adalah tipe pria yang tidak perlu mengatakan banyak hal untuk menarik perhatian.
Ia hanya perlu berada di ruangan yang sama... dan orang-orang akan menyadarinya.


Di lantai atas sebuah gedung perkantoran modern di Paris, lampu masih menyala meskipun sebagian besar ruangan sudah kosong. Dari jendela kaca besar, cahaya kota Paris berkilauan—lampu jalan, kendaraan yang bergerak perlahan, serta bangunan-bangunan tua yang berdiri elegan di antara arsitektur modern.

Di salah satu meja kerja yang masih aktif, Viktor duduk menatap layar komputernya yang dipenuhi rancangan bangunan.

Seorang rekan kerjanya berdiri di dekat pintu sambil mengenakan jaket.

"Tu comptes rester au bureau jusqu'à quand, Vik ?"
(Mau sampai kapan kamu di kantor, Vik?)

Viktor tidak langsung menoleh. Tangannya masih menggeser garis-garis desain di layar.

"Encore une heure."
(Satu jam lagi.)

"D'accord, je rentre d'abord."
(Baiklah, aku pulang duluan.)

"Fais attention sur la route."
(Hati-hati di jalan.)

Temannya berjalan beberapa langkah sebelum berhenti, lalu menoleh dengan senyum jahil.

"N'oublie pas, Elle t'attend."
(Jangan lupa, Elle nungguin kamu.)

Viktor berdecak pelan.

"Tais-toi."
(Diam kau.)

Temannya tertawa kecil sambil melambaikan tangan.

"À demain !"
(Sampai besok!)

Langkah kaki itu menjauh menyusuri koridor hingga suara pintu lift tertutup. Ruangan kerja yang luas itu kembali sunyi.

Viktor sudah cukup lama bekerja di perusahaan arsitektur bergengsi yang berlokasi di pusat Paris itu. Di antara para staf muda, namanya cukup dikenal. Bukan hanya karena wajahnya yang mudah menarik perhatian, tapi juga karena kemampuannya merancang dan mempresentasikan ide dengan cara yang tegas dan meyakinkan.

Namun ada satu hal yang juga tidak bisa dihindarinya sejak pertama kali bergabung di perusahaan itu.

Elle.

Seorang wanita dua tahun lebih tua darinya. Ambisius, percaya diri, dan selalu tahu apa yang dia inginkan.

Sejak awal Viktor menyadari bahwa wanita itu menaruh perhatian lebih kepadanya. Awalnya hanya berupa perhatian kecil—mengajaknya makan siang, menemaninya lembur, atau sekadar mengobrol setelah jam kerja.

VIKTOR (Tamat)Onde histórias criam vida. Descubra agora