Saturday, August 17, 2024, 13:53
Aku lupa kapan tepatnya, sepertinya sudah satu tahun yang lalu.
Langit mulai gerimis ketika aku memutuskan untuk meneduh di warteg pinggir jalan sore itu. Masih mengenakan jas almamater kampus yang berwarna senada dengan daun-daun kenanga. Aku menurunkan tas kecilku, meraih ponsel, dan mendapati waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Meski bukan untuk pertama kalinya aku ke sini, tapi tetap saja asing adalah kata pertama yang menyelusup dalam pikiranku ketika aku melewati pintu coklat usang itu.
Aku duduk di kursi panjang sebelah kiri dekat pintu, menarik napas sedalam-dalamnya dan mengamati sekitar. Tata letaknya masih sama seperti terakhir kali aku ke sini. Berjajar tiga meja berukuran sedang dan masing-masing dengan dua kursi kayu yang sudah termakan usia. Sekitar lima belas menit menunggu, ibu pemilik warteg belum juga muncul. Aku jadi gelisah sendiri.
Sempat terlintas di pikiranku untuk pergi saja karena punggungku sudah merindukan hempasan kasur empuk di kos kecilku. Namun, gerimis yang manis itu sudah menjelma hujan lebat, menutup rapat udara di antara rintiknya.
Pintu utama sedikit terbanting, membuatnya terbuka lebar untuk kedua kalinya. Awalnya aku mengira itu terpaan angin. Ternyata seorang laki-laki muda—yang kelihatannya—sepantaranku, hanya saja ia terlihat lebih tinggi sepuluh sentimeter. Sepertinya ia hampir terpeleset dan secara refleks tangannya memegang pintu untuk menopang berat tubuhnya.
Ketika aku bilang ‘berat tubuhnya’, ia memang sedikit berisi. Bukan tipeku.
Ia duduk tak jauh dariku—hanya berjarak satu meja, membuatku bisa menatapnya dengan leluasa. Ia menyugar rambut ikalnya yang lepek dan menepuk-nepuk baju batik dan celana navynya yang sedikit basah. Ia tidak terlihat semenyedihkan orang yang baru terserang banjir, tetapi tetap saja ia akan masuk angin jika tidak segera berganti baju.
Dilihat dari model baju batiknya, sepertinya seragam SMA. Ah, berondong, masih bukan tipeku.
Lalu, ia melihat kearahku, mengangguk dan tersenyum. Hmm, boleh juga.
Belum sempat sapaannya aku balas, ia melanjutkan. “Dari tadi kak?” Wow, ‘kak’, nih? Apa dia sudah memprediksi bahwa aku lebih tua darinya atau memang wajahku saja yang sudah menua tanpa kusadari?Lalu aku teringat kalau aku masih memakai jas almamater kampusku.
Huh, wajar saja!
Aku mengangguk canggung. Padahal aku juga baru lulus dua tahun lalu, tetapi entah mengapa aneh rasanya mengobrol dengan anak SMA. “Ini tadi ibunya belum keluar, kak?” tanyanya lagi. Aku menggeleng.
Sungguh, aneh sekali.
Ia mengangguk canggung, “tunggu aja, kayaknya masih sholat.”
Sok tahu juga dia, padahal bisa juga ibunya ketiduran, kan?
Layaknya sihir, beberapa saat kemudian si ibu muncul tergopoh-gopoh dengan masih mengenakan mukena. “Eee, ya ampun le, kok ndak manggil to?” ucap si ibu sambil menjinjingkan mukenanya.
Anak SMA itu menjelaskan keadaannya. Barulah si ibu yang tadinya tidak menyadari kehadiranku, mulai meminta maaf berulang kali. Ia menyadari telah melakukan kesalahan karena melupakan kehadiranku dan justru larut dalam temu kangen dengan anak laki-laki itu. Aku hanya tersenyum canggung sebelum akhirnya memesan makanan.
Si ibu kembali ke belakang menyiapkan nasi yang masih dimasaknya. Menyadari kondisi ini akan lama, aku menghela napas tanpa sadar. Dan sialnya, itu di dengar oleh anak SMA itu.
“Semester berapa kak?”
Seharusnya ini pertanyaan yang mudah dijawab, tetapi otakku memilih jalan yang lebih rumit. Yup, kebohongan. Entah mengapa aku melakukan ini. Aku benar-benar lupa bahwa satu kebohongan akan membawa kebohongan yang lain.
YOU ARE READING
Kamu, Hujan, dan Percakapan Sore Itu
Short StorySiapa pun yang terlibat dengan hujan, yakinlah: kita tak akan pernah benar-benar selesai dengan kenangan di dalamnya. Dari aku, Musim Kemaraumu.
