Chapter 1

19 4 0
                                        

Rumah bergaya kolonial itu berdiri megah di tengah kota, memancarkan wibawa masa lalu yang sulit diabaikan. Namun di balik keanggunannya, malam terasa lebih sunyi dari biasanya. Jam dinding berdentang pelan, menandai pukul sepuluh malam ketika suara ketukan lembut memecah keheningan.

"Nona Mina, Tuan Besar memanggil Anda ke ruang kerja."

Suara pelayan dari balik pintu terdengar sopan namun tegas.

Mina menutup buku yang sedari tadi menemaninya, menarik napas pelan, lalu bangkit dari tempat tidur. Dalam diam, ia berjalan menyusuri koridor yang diterangi cahaya temaram lampu gantung.

Di balik pintu ruang kerja, duduk pria tua dengan rambut perak dan mata yang masih tajam-Tuan Han, kakeknya sekaligus kepala keluarga ini. Sosok yang telah membesarkannya sejak kecil, setelah dunia yang dikenalnya runtuh dalam sekejap.

"Saya datang, Kakek," suara Mina tenang, tubuhnya tegak di hadapan lelaki itu.

Tuan Han meletakkan cangkir kopi yang masih menguap.

"Barusan Yuno menghubungi Mori. Meminta pakaian ganti. Ia akan menginap di kampus malam ini."

Mina hanya mengangguk kecil. Tidak heran, mengingat besok adalah hari festival kampus diadakan dan Yuno adalah salah seorang panitianya.

Tapi rasa ingin tahunya muncul-kenapa Tuan Han memberitahukan ini padanya langsung?

"Mori," panggil Tuan Han, nadanya mengandung perintah yang tak bisa ditawar.

Pria paruh baya berkacamata yang berdiri tak jauh di belakangnya-Mori, kepala pengurus rumah ini-terlihat ragu. "Tapi, Tuan..."

"Kamu keberatan menuruti perintahku?" Nada Tuan Han tak meninggi, tapi cukup untuk menyesakkan udara di ruangan.

Mori segera menunduk. "Maafkan saya, Tuan."

Ia melangkah maju, menyerahkan sebuah paper bag pada Mina. "Ini pakaian bersih dan barang-barang yang diminta Tuan Muda."

Mina menerimanya dengan kedua tangan. Sekilas, ia bisa menebak arah pembicaraan ini.

"Saya akan mengantarkannya pada Yuno," ujarnya datar.

Tuan Han mengangguk pelan, matanya menatap tajam seolah menimbang-nimbang sesuatu. "Kamu selalu bisa membaca maksudku bahkan sebelum aku menyampaikan."

Mina menunduk sopan, walau hatinya terasa berat.

"Bagus," lanjut Tuan Han. "Itu membuktikan bahwa aku tidak salah memilihmu menjadi pasangan hidup cucuku."

Kalimat itu membuat napas Mina tercekat. Bukan karena ia baru mendengarnya-melainkan karena untuk pertama kalinya, Tuan Han menyampaikannya sebagai pujian.

"Terima kasih, Kakek."

Namun dalam hatinya, rasa terima kasih itu terasa hampa. Karena seperti biasa, pilihannya tak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Ia melangkah keluar dengan tenang, paper bag itu tergenggam erat di tangannya. Tak ada perintah untuk pergi sendiri, tapi ia tahu-ini bukan kali pertama ia membaca maksud yang tak diucapkan.

---

Langit malam diguyur angin dingin saat mobil keluarga melaju menuju kampus. Di dalamnya, Mina duduk diam, memandang keluar jendela. Bangunan dan lampu kota lewat begitu saja, seperti potongan waktu yang tak bisa ia genggam.

Pikirannya menelusuri masa lalu.

Lima belas tahun lalu, ia hanyalah anak enam tahun yang tiba-tiba kehilangan segalanya. Kedua orang tuanya meninggal dalam kecelakaan. Ia tidak memiliki siapa pun.

Strings AttachedWhere stories live. Discover now