Di usia sembilan tahun, Kelly kecil sering kali merengek kepada ibunya.
"Bu, kapan aku bisa punya adik?" tanyanya dengan polos-sebuah permintaan sederhana yang lahir dari kesepian yang diam-diam menemani hari-harinya.
Sang ibu hanya tersenyum lebar melihat tingkah Kelly yang begitu tulus, meski matanya sempat menerawang sejenak. Lalu dengan lembut ia menjawab, "Nak, kalau kamu sungguh ingin punya adik, berdoalah kepada Allah. Minta dengan sungguh-sungguh, agar permintaanmu di kabulkan olehnya".
Kelly terdiam. Ia mengangguk pelan, paham dengan apa yang dikatakan ibunya. Tapi kemudian, dengan suara kecil ia berkata, "Tapi Bu... aku sudah lama sekali berdoa kepada Allah, tapi nggak ada yang berubah. Aku harus apa, Bu?"
Angin malam berhembus perlahan, membawa suasana yang tenang namun menyisakan kegelisahan di hati. Perkataan Kelly beberapa saat lalu masih terngiang di benak ibunya, membuat dadanya terasa sesak.
Ia ingin menangis, tapi menahannya demi tetap terlihat kuat. Ia tak tega melihat anaknya terus mempertanyakan hal yang sama. Kelly memang sulit ditebak-kadang ia tampak sangat gembira saat sendiri, namun di lain waktu, ada kesepian yang diam-diam menyelimutinya.
Menanggapi pertanyaan Kelly yang terakhir, sang ibu pun menjawab: "Kunci dari permohonan itu adalah sabar, Kelly. Barang siapa yang bersabar maka permohonannya akan dikabulkan. Teruslah jadi anak yang penyabar, ya? Ibu tahu kamu kepengen banget punya adik kecil, tapi Allah nggak bisa ngabulin langsung Sayang. ingat, ya?" ujarnya.
Kelly hanya bisa diam, bahkan membantah ucapan ibunya pun ia tak berani.
~~~
Di pagi yang cerah, dengan dedaunan yang tampak segar dan udara yang sejuk, Kelly menjalani aktivitas seperti biasa: bersekolah. Ia selalu bersemangat setiap kali hendak pergi ke sekolah.
Sebelum berangkat, ibunya sempat berpesan, "Bekalnya dihabiskan ya, Kelly. Jangan ada sisa sedikit pun!".
Kelly pun menjawab dengan semangat, "Iya, Bu. Aku habiskan, kok!" setelah itu, Kelly berpamitan dan berangkat ke sekolah dengan penuh semangat, membawa bekal kesayangannya.
---
Di sekolah, ia menghabiskan waktu istirahat dengan bermain dan tertawa bebas bersama teman-temannya. Bahkan ketika istirahat usai, canda tawa mereka masih menggema di sudut-sudut halaman sekolah.
Bel pulang pun berbunyi. Semua anak berlarian menuju gerbang, tapi Kelly berjalan santai sambil tersenyum. Teman-temannya berpamitan satu per satu setelah dijemput orang tua mereka.
Kelly membuka ponselnya dan mengirim pesan kepada ayahnya agar segera menjemput. Ia menatap jalanan di depan gerbang dengan tenang, menyembunyikan sedikit cemas yang muncul setiap kali harus menunggu sendiri.
Setelah beberapa menit menunggu, Kelly akhirnya melihat mobil ayahnya berhenti di depan gerbang. Ia segera masuk, meletakkan tas di pangkuan, dan tersenyum kecil- hari ini berjalan menyenangkan.
---
Sesampainya di rumah, seperti biasa, suara ibunya menyambut penuh hangat dari dalam: "Gimana sekolah tadi? Seru?" , "Jajan apa aja, Sayang?" , "Uang sakunya masih sisa?" Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu selalu membuat hati Kelly hangat.
YOU ARE READING
Jadi Anak Pertama, Susah Ya? [On Going]
Non-Fiction"Kak... maafin Ethan, udah bikin Kak Kelly terpojok." "Gapapa, Than... ini semua takdir dari Tuhan. Jangan terlalu kamu pikirkan. Kakak baik-baik aja kok," "Kak... tolong bertahan, demi Ayah... demi aku juga. Aku baru sadar kalau sifat Ibu ternyata...
![Jadi Anak Pertama, Susah Ya? [On Going]](https://img.wattpad.com/cover/396728412-64-k409982.jpg)