BAB 1 — Pertemuan yang Menjengkelkan
.
.
.
.
---
Udara sore hari yang menyusup perlahan ke kulit terasa begitu sangat dingin.
Terlihat gadis remaja berseragam putih biru itu sedang berjalan menyusuri trotoar yang sedikit basah terkena hujan.
Rambutnya tertiup angin, tas berat menggantung di punggung, dan matanya sibuk mencari ojek pangkalan di sekitar jalan itu.
"hmm, ni serius kagak ada ojek sama sekali?" kesal gadis itu sambil memeluk tiang listrik yang ada di sampingnya.
"HUAAAAAA CAPEEE KALO JALANNN, NI HP JUGA BUTUT HUUUAA..... JELEK MALAH LOBET" Teriak ia sambil menggigit hp nya itu.
Gadis itu bernama Aqella Gracilla Frlanda gadis yang di kenal dengan tingkah nya yang luar biasa stresnya. Dia anak yang ceria, penuh senyum dan tawa.
“BRRuuuuMMM—”
Aqella meloncat ke arah samping dengan teriakan nya "HUAAA TOLOLLL, GUA GA MAU MATI!!!".
Aqella melepas pelukannya dari tiang listrik dan meloncat ke arah tempat yang cukup aman. Aqella menutup wajahnya dengan kedua kelopak tangan seolah ia memang kaget atas kejadian barusan.
Motor itu berhenti mendadak beberapa meter di depannya. Pengendara motor itu menoleh melihat gadis yang dramatis itu.
Pemuda itu membuka penutup kaca helmnya. Hanya sedikit. Namun dapat melihat kan tatapan tajam tanpa bersalah.
Aqella memberanikan diri untuk menurunkan tangannya. Ia menatap marah ke arah remaja laki-laki itu. Bukan rasa takut yang di rasa oleh Aqella. Melainkan rasa amat teramat kesal yang ingin sekali meledak-ledak.
“Lain kali meluk manusia jangan tiang listrik” Nada datarnya terdengar sangat amat menjengkelkan di kuping Aqella.
Aqella terpaku sejenak, tak percaya dengan apa yang baru ia dengar. Angin sore berhenti terasa hangat, udara panas yang terganti menyelimuti nya sekarang.
Laki-laki itu turun dari motor sport nya dengan bahu lebar dan tubuh yang tegap, dan jangan lupakan wajahnya yang sangat dingin seperti ingin mengajak tauran sekarang juga.
“Kenapa? marah? lu yang ngalangin jalan” lanjutnya sambil menyandarkan helm di tangannya.
Aqella yang mendengar itu hanya dapet terdiam menahan amarah yang ingin sekali ia luap kan. Tangan nya sudah mengepal di bawah sana. Bukan terlihat otot. Melainkan hanya terlihat merah yang mengebu-ngebu seperti tomat yang siap di lempar ke dalam cabai.
“HEH MAKSUD LU APA YA??” Suara lantang Aqella yang sudah tak tahan melihat muka menyebalkan pemuda di hadapannya ini. "Jelas-jelas lu yang hampir nyerempet kaki gua. Lu yang bawa motor ngebut-ngebut. Lu yang bawa motor keluar dari trotoar. "
Arvino Leonza Azam nama yang belum Aqella ketahui saat itu menaikkan satu alisnya.
Arvino hanya tersenyum tipis. Bukan tersenyum ramah melaikan senyum yang menantang. Arvino hanya diam melihat gadis kecil di hadapannya yang sedang memprotes kan kesalahan nya.
“Kalo lu ga meluk tiang listrik gua ga bakal hampir nabrak lu. Lagian di hatle ada kursi tunggu. Mata lu ga buta bukan? kenapa malah diam berdiri di dekat jalan sambil meluk tiang listrik?. Kelamaan jomblo? sampe pengen banget ngerasain getaran cinta." Ujar Arvino semakin menyebalkan. Ia ingin tetap melihat bagaimana reaksi gadis kecil ini saat ia tetap tidak ingin mengakui kesalahannya.
Aqella mendengus. Tatapannya naik dari sepatu lelaki itu hingga tepat ke arah mata nya. Aqella semakin menatap tajam ke arah pemuda itu.
Arvino semakin tersenyum kecil melihat keberanian gadis SMP di hadapannya.
“Emang masalah kalo gua meluk-meluk tiang? ga kan. Lu aja yang bawa motor kayak dikejar dunia mau kiamat. Apa kata lu kelamaan jomblo? hellow tupai kriminal. Ga usah belaga deh kak, sementang lu udah SMA. Lu kira gua bakal geter oleh ucapan lu yang ga bermakna. Gua akuin gua emang jones dari lahir. Tapi gua ga ngebet pengen ngerasain geteran cinta kaya yang lu maksud.” Ungkap Aqella tak mau kalah.
Kini jarak mereka hanya menyisakan jarak yang sangat kecil. Tatapan saling beradu. Walau Aqella harus menatap ke atas dan arvino menatap kebawah menyesuaikan tinggi mereka masing-masing.
Jarak tinggi mereka cukup jauh. Aqella hanya dapat mengenai dada Arvino saja.
DEGG~
Arvino memalingkan wajah sedikit, seolah malas berdebat. Tapi napasnya turun perlahan tanda jantung nya sedang tidak stabil.
Ia memasang helmnya lagi. Dan melangkah sedikit jauh.
Sebelum naik ke motor, matanya turun pada sepatu putih Aqella yang terlihat kotor terkena cipratan pasir jalan.
Ekspresinya berubah sepersekian detik. Sangat singkat, seperti ia sadar kalau memang dirinya yang nyaris mencelakai gadis itu.
Pelan. nyaris tak terdengar, ia berkata “Mungkin memang gua yang salah hampir nyelakain dia.”
Setelah itu motornya melaju pergi. Meninggalkan Aqella yang masih terdiam di posisi yang sama. Kini perasaan nya cukup campur aduk. Antara bingung dan kesal.
Pertemuan pertama mereka sama sekali tidak manis. Jauh dari kata baik, bahkan menjengkelkan.
Tapi justru dari situlah semuanya akan di mulai.
-----
🧀🧀🧀
~ VOTE NYA JANGAN LUPA!!!!
YOU ARE READING
Traces of our meeting
Romance Pertemuan pertama memang dapat di lupakan, tetapi perasaan pertama? itu sangat sulit. Aqella Gracilla Frlanda dan Arvino Leonza Azam bertemu dengan cara yang unik dengan kecelakaan kecil yang berakhir saling adu argumen mulut. Mereka kira m...
