Prolog

268 22 37
                                        


————

"Gue enggak tau di mana Hani, Jar!"

Sandy yang tengah duduk termenung di kursi tunggu halte itu menoleh ketika mendengar suara teriakan dari sebelah kanan. Tiga siswa SMA sedang menarik dan menahan satu siswa yang mungkin saja akan berjalan ke arah Sandy, lebih tepatnya ke Halte. Sandy mengernyit ketika melihat raut wajah siswa bertubuh jangkung itu menarik kasar kerah seragam temannya yang ia tahan itu.

"Gue tau semalam lo ketemu Hani, kan?! Ngaku deh lo! Lo kira gue enggak tau?!"

Terdengar laki-laki itu berdecak dan menepis cepat tangan yang mencengkeram kuat kerah seragamnya sehingga Sandy tanpa sadar tersenyum miring. "Semalem gue emang ketemu sama Hani, tapi bukan berarti gue ngajak dia keluar jalan. Gue ketemu dia di depan lorong sekolah, masih pakai seragam sekolah. Dia minta gue untuk nganterin dia pulang, itu doang."

"Bohong lu!"

"Anjing! Enggak usah tanya-tanya gue kalau kalian enggak percaya, tai."

Tanpa menunggu jawaban apapun lagi, laki-laki yang sudah jengah itu kembali melangkah ke arah Halte tanpa melirik ke belakang sedikit pun. Namun, dengan cepat pula salah satu dari tiga laki-laki yang berdiri di belakangnya itu menariknya lalu menghantam kuat wajah laki-laki yang Sandy tidak tahu namanya siapa sehingga terjatuh.

Sontak saja Sandy berdiri, melepaskan AirPods yang terpasang di telinganya sejak tadi dan mendekati keempat siswa SMA tersebut.

Baru saja ingin menambah pukulan pada laki-laki yang terkapar itu, Sandy langsung menyingkirkan kuat tangan itu sehingga ia hampir ikut terjatuh ke belakang jika saja kedua temannya tidak menahan tubuh laki-laki itu.

"Pergi." Sandy menatap dingin ketiga siswa itu.

"Siapa lo?!" Mata Sandy menyipit mendengar keberanian siswa itu padanya. "Kita enggak ada urusan sama lo."

"Lo ganggu ketenangan gue di sini. Lo yang langkahin kaki lo sendiri pergi dari sini atau gue patahin kaki lo terus gue buang di tong sampah samping lo itu, pilih sekarang."

Dengan tatapan amarah, ketiga siswa itu pun berlalu dan sesekali melirik ke arah laki-laki yang Sandy bantu untuk berdiri di sampingnya sekarang. Sandy menatap kepergian tiga siswa itu dan menoleh ke arah laki-laki yang ada di sampingnya, tinggi tubuh laki-laki itu hampir sama dengannya namun Sandy sedikit agak menunduk untuk menatapnya.

"Udah aman."

Sandy melirik ke arah nametage yang tertempel rapi di baju seragam laki-laki itu. Reza. Nama siswa itu Reza.

"Makasih, Bang."

Tidak ada jawaban, Sandy hanya menaikan satu alisnya dan menyungging senyum miring lalu menepuk beberapa kali pundak siswa bernama Reza itu. Sandy pun berjalan kembali ke arah Halte, duduk dan kembali memakai AirPods yang sempat ia lepas tadi.

Reza pun melakukan hal yang sama, duduk di kursi tunggu itu dan hanya berjarak dua kursi kosong dari tempat di mana Sandy duduk. Ia menyandarkan punggungnya, sesekali memegang pipi kanannya yang masih terasa keram karena pukulan tadi.

"Lo masih inget enggak sama gue?"

Lama. Sandy sama sekali tidak menunjukan gerak gerik untuk merespon ucapan Reza, tapi akhirnya ia menoleh dan saling beradu tatap dengan Reza. "Lo Sandy, 'kan?"

"Dari mana lo kenal nama gue?" tanya Sandy.

"Enggak mungkin lo enggak inget gue."

Lagi-lagi Sandy hanya diam dan menatap Reza. Suara kendaraan berlalu lalang sama sekali tak bisa mengalihkan perhatian Sandy dari tatapan Reza yang juga menatapnya.

Sedetik kemudian Sandy mengerjap. Detak jantungnya seakan-akan berhenti ketika mengingat wajah Reza pertama kali saat itu. Benar saja, Reza adalah siswa SMA yang tiba-tiba saja memberikan Sandy sebuah undangan pernikahan tepat saat Sandy keluar dari pengadilan agama dua tahun lalu itu.

Undangan pernikahan yang bertulisan nama perempuan yang masih menempati tempat paling khusus dalam hatinya.

Dengan cepat Sandy mengalihkan pandangannya ketika senyuman perempuan mungil itu melintas dalam benaknya. Perempuan cantik dan penuh dengan cinta untuk Sandy, sampai detik ini.

Sandy berdiri, memakai pelindung kepala dari jaketnya dan berdecih pelan serta sedikit tertawa remeh sembari menatap Reza yang masih duduk mendongak menatapnya.

"Sok kenal lo gembel."

Hanya itu. Sandy berlalu tanpa menoleh lagi ke belakang. Sedangkan Reza mengernyit mendengar ucapan Sandy barusan.

Apa itu laki-laki yang benar-benar mencuri hati Kakaknya?

.
.
.
.
.
.
.
.

Cerita ini murni karya saya. Kasih tau saya ya kalau kalian nemuin cerita yang persis dengan ini, saya enggak terima.

Anjay.

Hilang 2Where stories live. Discover now