PROLOG

1.4K 109 101
                                        

WELCOME TO THIS STORY GUYS!
Call me Chaca, or Cha~
Ramein ceritaku yuk! Jangan jadi silent readers ya manis-manis ku🤍.

WELCOME TO THIS STORY GUYS!Call me Chaca, or Cha~Ramein ceritaku yuk! Jangan jadi silent readers ya manis-manis ku🤍

¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.

[PROLOG]
_______________•· · ─ ·𖥸· ─ · ·•_______________

TING!

Suara notifikasi terdengar dari handphone milik seorang gadis. Hazel Azellia-namanya.

Saat ini gadis yang kerap di panggil Hazel sedang berada di kelas bersama teman-teman nya.

"Siapa tuh Zel?" tanya Jeslyn-temannya yang biasa dipanggil Jes atau Lynn.

Hazel mengambil ponsel nya yang ada di atas meja. Temannya Jeslyn dan Aluna ikut mengintip siapa yang mengirim pesan.

Ray♡

Temuin gue di rooftop.
Sekarang!

Mereka tercengang melihatnya, biasanya Rayzen akan datang sendiri ke kelas Hazel, karena memang mereka berbeda kelas. Dan apalagi ini? Rayzen memanggilnya dengan sebutan 'Gue-Lo?' Ada apa dengan lelaki itu?

"Tumben banget cowok lo manggil lo kayak gitu, bukan nya biasanya 'aku-kamu?' tanya Aluna. Jeslyn pun mengangguk menyetujui.

Entahlah Hazel juga bingung.

"Yaudah lo mending temuin dia gih, nanti marah lohh" ujar Jeslyn.

Perasaan Hazel mendadak tak enak. Ia akhirnya mengangguk ragu

"Yaudah, gue ke rooftop dulu" pamit nya. Kedua temannya mengangguk. Hazel pun pergi meninggalkan kelas.

"GOOD LUCK HAZEL!!" teriak Aluna.

•· · ─ ·𖥸· ─ · ·•

Disinilah Hazel berada, ia membuka pintu rooftop, dan angin yang berhembus langsung menerpa wajahnya. Matanya bergerak mencari keberadaan. Lalu ...

Itu dia!

Hazel berlari kecil ke arah Rayzen yang kini sedang memunggunginya—tepatnya tengah melihat pemandangan di bawah sana.

Bruk!

Hazel memeluk Rayzen dari belakang.

"Kenapa Ray? Tumben kamu nyuruh aku kesini?" tanya Hazel.

Rayzen hanya terdiam. Lalu melepaskan pelukan Hazel darinya.

Kini mata Rayzen tertuju pada gadis yang menjadi kekasihnya itu. Tatapannya berubah menjadi sendu.

Hazel juga bingung, apa yang terjadi sebenarnya.

"Ray, kamu kenapa?" Hazel bertanya lagi.

"Hazel."

"Hm?"

"Kita ... udahan aja ya?" ucapan Rayzen membuat Hazel tersentak.

"Maksud kamu apa?!" Hazel menatapnya tak percaya.

"Gue mau kita putus."

Deg!

Benar benar mengejutkan. Hazel tidak percaya itu semua.

Lalu ia tertawa kecil karena menganggap itu semua candaan

"Halah, nggak mungkin Ray, aku tau kamu berc-"

"Gue serius" Rayzen mengulang kalimatnya. Hazel terdiam. Bahasanya benar-benar berubah.

"Gue ..."

"Kenapa? Kenapa kamu minta putus? Aku ada salah apa sama kamu?!"

Matanya menatap kearah Rayzen meminta penjelasan. Air matanya menetes begitu saja.

Cowok itu memalingkan wajahnya, cukup sesak sebenarnya.

"Kamu kenapa sih Ray?!" Hazel mulai terisak. Tapi berusaha untuk tegar.

"Oh, jangan-jangan kamu selingkuh dari aku? Iya?" Kini matanya menatap tajam ke arahnya.

Rayzen juga kembali menatap wajahnya. Lalu mengangguk begitu saja, membuat mata Hazel melebar seketika.

"A-apa?"

"Ya, gue selingkuh, puas?"

Plak!

Tangan Hazel kini menampar wajahnya hingga tertoleh kesamping. Rasa panas menjalar di kulit pipi lelaki itu.

"BRENGSEK LO RAY!" bentaknya, ia mengubah cara bicaranya.

Air matanya mengalir deras. Nafasnya memburu. Dadanya begitu sesak mendengar penuturan lelaki itu.
Rayzen juga sama. Ia memalingkan wajahnya, tak mau melihat gadis itu menangis.

Hening seketika. Hanya ada suara isakan dan nafas yang memburu menatap nyalang ke arah lelaki itu.

"Oke, kita putus sekarang!" final gadis itu membuat Rayzen menatapnya kembali. Sedikit tidak rela padahal ia yang mengajak terlebih dahulu.

"Kita akhiri hubungan kita hari ini!" tegasnya.

Hening.

"Dengerin perkataan gue kali ini" Hazel kembali bersuara.

Lalu tangannya menunjuk tepat di depan wajah cowok itu.

"LO ... COWOK TERBRENGSEK YANG PERNAH GUE TEMUI RAYZEN AXELANDRA!!"

Rayzen bungkam seketika.

Gadis itu kini berbalik dan berlari sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.
Sesak? Tentu saja. Hubungannya yang ia bangun bahkan melebihi lima bulan itu kandas begitu saja.

Rayzen terdiam, masih dengan memandangi punggung gadis itu, hingga ia menghilang dari pandangannya.

Tangannya bergetar ...

Bugh!

Ia memukul penyangga rooftop hingga tangannya memerah.

"ARGHHHHHH"

Rayzen mengacak rambutnya frustasi. Air matanya menitik. Sungguh ... dia terpaksa.

Matanya kini beralih pada tangan kanannya.. menatap sendu jari-jari itu. Lemah, tapi tak bisa digerakkan.

•· · ─ ·𖥸· ─ · ·•

Untuk prolog segitu dulu ya guys..
Nanti kalo ada ide aku up lagii..
Sorry kalo ceritanya cringe, pemula😇🙌🏻
...
See you in the next chapter👋🏻💗

DEAR, RAYZEN (COMPLETED)✓Historias para obsesionarse. Descúbrelo ahora