prolog

4.5K 130 5
                                        

"Makanya kalo maghrib pulang!"

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

"Makanya kalo maghrib pulang!"

Hanami, gadis berwajah cantik dengan mata sipit dan kulit putih itu terkejut mendengar bentakan sang ibu.

"Mau jadi apa kamu keluyuran maghrib-maghrib! Kalo abis les langsung pulang! Jadi ngga diganggu setan! Dibilangin ngeyel terus!" sang ibu terus mengomel setelah mendengar ceritanya mengenai motornya oleng di tengah perjalanan pulang.

"Untung ngga jatuh! Coba kalo jatuh, penyok tuh motor, mau tanggung jawab kamu?"

"Kan karna ibu juga yang suruh cepet-cepet pulang, kalo ngga disuruh cepet kan bisa pelan-pelan terus bareng temen-temen," sebuah cubitan berakhir di lengannya setelah bicara, siapa lagi kalau bukan dari ibu.

Walau penuh kasih sayang dalam merawat, cubitan dan siraman gayung tetaplah beraksi dalam menghadapi anak bandel seperti Hanami.

"Jangan-jangan hantu itu masuk ke aku Bu, aku diikuti, aku kesurupan, Bu gimana dong," Sang Ibu menatap malas anaknya yang gelisah.

"Kucing Pak Rusdi namanya siapa?"

"Halimah."

"Adikmu kelas berapa?"

"Sembilan."

"Tumbler kamu mana?"

"Ketinggal--" Hanami mengerjap, sepertinya ia keceplosan.

"Bagus, ngga sekalian motormu kamu tinggal?" Hanami meringis menyadari kebodohannya.

"Kan tadi buru-buru jadi ngga sempat ngecek barang bawaan."

"Alasan! Cepet sana mandi!! Habis itu kita ke samping, begitu tuh kalau orang tuanya cuek sama pergaulan anak, ngga memberikan edukasi buat anak, sudah laki-lakinya belum kerja lagi, mau dikasih apa bayinya nanti."

Ibunya bicara seperti itu dengan matanya yang seperti menyimpan kesedihan dan terlihat seperti habis menangis.

Tanya pun ia sudah tau jawabannya.

Hanami juga merasa kasian terhadap sepupunya yang mengalami kejadian seperti ini. Namun, itu adalah hasil dari perbuatannya yang tak menggunakan akal sehat dan hanya memikirkan hawa napsu mereka. Sanksi pastilah ada untuk mereka, salah satunya sanksi sosial yang menyakitkan terutama bagi pihak perempuan.

Hanami segera mandi dan berganti baju, saat sedang menggosok sabun ke badan ia menyadari sebuah luka ada di atas dada kirinya, jika dilihat-lihat itu sangat rapi tidak seperti luka pada umumnya.

Bentuknya garis vertikal polos yang sangat lurus dengan panjang sekitar 5 cm.

"Luka? Kok bagus? Tato? Sejak kapan? Apa coretan, tapi ngga bisa hilang."

Brak! Brak! Brak!

"Heh China! Buruan mandinya!"

Hanami berdecak, itu suara Haidar, adik satu-satunya yang ia punya, si lelaki paling menyebalkan dalam sejarah hidupnya.

"Mau mandi lo? Ngga salah?! Biasa juga pakai pasir!"

"Gue matiin nih lampunya!" Ancam sang adik mengetahui kelemahannya pada kegelapan.

"Iya-iya!" Hanami segera menyelesaikan mandinya.

Ia kesal pada sang adik, selalu memanggilnya China hanya karena wajahnya yang ke seperti Cici-Cici Chindo, padahal orang tua atau keluarga besar ini tidak ada yang berdarah China sama sekali.

Sering dikira anak angkat namun Hanami tak peduli, selama ini ayahnya yang seorang ketua RW dan juragan di kampung serta ibunya yang senang menonton Warkop DKI sangat menyayangi dan mencintai dirinya, sewajarnya seperti orang tua pada anak.

Ia juga heran kenapa mereka berdua memberi nama HANAMI untuknya, tidak seperti nama China tapi nama Jepang! Hal ini justru makin membuatnya makin-makin disangka anak pungut.

.....

Rumah sepupunya berada tepat di sebelah kanannya, rumahnya bagus tapi lebih kecil dari pada rumah miliknya yang memiliki halaman luas dan garasi mobil untuk mobil istimewa milik ayah.

Mobil tanpa atap, Hanami tertawa memikirkannya, mobil itu biasa dipakai untuk mengangkut hasil panen ayahnya yang begitu segar dimata Hanami.

"Kasian Bu Hani sama Pak Harto ya, anak satu-satunya lho padahal, tapi nasibnya jadi begini."

"Yang laki-laki ternyata anak kampung sebelah."

"Ya pantes aja berani begituan, udah pacaran 4 tahun mereka."

Bisik-bisik Hanami dengar dari ibu-ibu yang baru lewat depan rumahnya, sepertinya mereka habis dari rumah sepupunya. Ia sangat khawatir dengan psikis Kiran sekarang yang semestinya sangat terguncang.

Apakah gadis itu sudah cukup tenang setelah tadi dia dengar gadis itu menangis keras.

Saat masuk, ada keluarga pihak perempuan dan pihak laki-laki serta Ketua RW, Ketua RT dan Pak Ustadz yang tengah membicarakan jalan keluar.

Menikah, itu yang mereka sepakati, dengan usia dua anak itu belum genap 18 tahun.

Yang paling tidak setuju adalah Ibu dari Kiran, wanita itu sampai pingsan dan tak bertenaga menghadapi takdir anaknya, ia tak tega pada anak satu-satunya yang ia punya harus menikah dan merawat bayi di umurnya yang masih kecil. Dan setelah ditenangkan akhirnya beliau bisa diajak bicara dan akhirnya menyetujui.

Mata Hanami tak sengaja bersitatap dengan Kiran. Gadis dengan mata sembab berkaca-kaca itu menatapnya nanar, membuat hatinya berdetak kencang tiba-tiba.

Ada apa dengannya.

Akhirnya pukul 10 lewat seperempat ia sudah bisa balik ke rumah dan akan tidur karena merasa sangat lelah hari ini.

"Hanami, jaga diri kamu ya," Hanami terngiang-ngiang dengan ucapan Kiran tadi.

Tadi malam perempuan itu hanya bicara satu kali padanya, walau mereka seumuran mereka tak terlalu dekat sebab beda sekolah dan tongkrongan.

Ibunya pun selalu melarang ia main saat malam walau hanya di depan rumah. Saat sore pun ia tak di rumah karena harus mengikuti berbagai les seperti Bahasa Inggris, Matematika dan Piano di dekat sekolah.

.....

Thank's udah mau baca☺️

SWEET INNOCENCEWhere stories live. Discover now