Happy reading yaaa....
•
•
•
•
•
"MALIK!"
Teriakan nyaring itu langsung membuat sang empunya nama menoleh. Teman-teman yang berjalan di sampingnya ikut menghentikan langkah dan memandang ke arah sumber suara.
"Mampus lo, Mal. Kan gue udah bilang apa?" celetuk salah satu temannya sambil terkekeh.
Dari ujung koridor, seorang guru perempuan berkacamata berjalan cepat menghampiri mereka. Sepatu pantofelnya beradu dengan lantai keramik, menciptakan bunyi yang cukup keras untuk menarik perhatian beberapa siswa lain.
"Ikut ke ruangan saya sekarang, Malik!"
"Baik, Bu," jawab Malik santai. "Tumben ibu yang manggil saya. Biasanya Pak Tomo."
Bu Desi langsung menoleh sinis. "Nggak usah basa-basi kamu! Pak Tomo udah nggak sanggup menghadapi masalah kamu!"
Teman-teman Malik langsung menahan tawa. Sementara Malik hanya mengangguk tanpa membalas.
Joy yang berdiri di sampingnya menepuk bahunya pelan. "Berdoa deh lo, Mal. Siapa tahu keberuntungan berpihak sama lo."
Malik terkekeh kecil. "Santai aja."
Tanpa banyak bicara, ia mengikuti langkah Bu Desi menuju ruang BK.
⸻
Sesampainya di sana, Malik langsung duduk di kursi yang berada di hadapan Bu Desi.
Ruangan BK terasa sunyi. Hanya suara kipas angin tua yang berputar pelan di sudut ruangan. Beberapa map berwarna cokelat tersusun rapi di atas lemari arsip. Di dinding terpajang berbagai poster motivasi yang hampir tidak pernah dibaca siswa.
Bu Desi menggelengkan kepala sambil menyerahkan selembar surat panggilan orang tua.
"Saya tuh heran sama kamu, Malik. Nilai matematika kamu bagus, fisika oke, bahasa Inggris juga bagus."
Beliau menarik napas panjang. "Tapi kenapa kamu selalu bikin masalah terus di sekolah?"
Malik menundukkan kepala sebentar. "Di luar sekolah, Bu. Cuma kebetulan saya keciduk aja."
Bu Desi memijat pangkal hidungnya. "Kamu yang keciduk aja udah bikin masalah terus. Apalagi yang nggak ketahuan pihak sekolah?"
Malik diam.
"Kamu baru naik kelas sebelas, Malik. Tapi poin pelanggaran kamu udah lima puluh persen." Bu Desi menunjukkan buku catatan pelanggaran siswa yang sudah berisi cukup banyak catatan atas namanya.
"Kamu mau lulus, kan?"
"Mau, Bu."
"Kamu mau kuliah?"
"Mau banget, Bu."
"Kamu mau bikin bangga orang tua kamu, kan?"
Pertanyaan itu membuat Malik terdiam cukup lama. Untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan, senyum santainya menghilang.
Rahangnya mengeras sebelum akhirnya menjawab pelan. "Mau, Bu."
Bu Desi memperhatikannya beberapa detik sebelum mengangguk. "Nah, kalau begitu berubah jadi pribadi yang lebih baik. Nilai bagus aja nggak cukup untuk masa depan kamu."
"Iya, Bu."
"Kamu boleh kembali ke kelas."
"Terima kasih, Bu."
Malik berdiri lalu keluar dari ruangan BK. Begitu berada di luar, ia langsung melipat surat panggilan itu dan memasukkannya ke saku celana abu-abunya.
Koridor sekolah sudah jauh lebih sepi dibanding sebelumnya. Dari balik pintu-pintu kelas terdengar suara guru yang sedang menjelaskan materi pelajaran.
Jam pelajaran sebenarnya sudah dimulai sejak tiga puluh menit yang lalu. Namun bukannya menuju kelas, Malik malah berjalan santai ke gedung belakang sekolah. Tepat di belakang gudang tua yang sudah lama tidak digunakan, ia mengeluarkan sebatang rokok dari saku lalu menyalakannya.
Asap tipis keluar dari bibirnya. Tempat itu sudah menjadi salah satu lokasi favoritnya untuk menghilang saat bosan berada di kelas.
Saat sedang membungkuk mengikat tali sepatu, seseorang tiba-tiba menabraknya.
"Eh, Kak! Sorry!"
Malik mengangkat kepala. Di hadapannya berdiri seorang gadis berseragam putih abu-abu. Napas gadis itu terlihat sedikit terengah seolah sudah cukup lama berkeliling.
Wajahnya langsung berubah panik saat melihat rokok yang terselip di bibir Malik. Refleks, Malik menutup mulut gadis itu dengan satu tangan.
Gadis itu membelalakkan mata. Malik buru-buru mematikan rokoknya lalu menginjak puntungnya.
"Heh! Lo ngapain ke sini? Stalking gue, ya?"
Gadis itu langsung menepis tangan Malik. "Sorry ya, gue nggak ada niatan stalking lo!"
Malik memperhatikannya dari atas sampai bawah. Pandangannya berhenti pada bordir nama yang terpasang rapi di seragam gadis itu.
Biandara Nazella.
"Terus lo ngapain ke sini kalau bukan stalking gue?"
Biandara mengembuskan napas kesal. "Gue lagi nyari kelas, malah nyasar! Lagian ya, lo bukannya masuk kelas malah bolos. Ngerokok pula."
"Bukan urusan lo." Malik menyilangkan tangan di dada. "Emang lo mau ke mana sampai nyasar?"
"Sepuluh IPA Satu."
"Oh." Malik mengangguk pelan sebelum berbalik badan. "Ikut gue."
Biandara mengernyit. "Lah, kenapa harus ikut lo?"
"Soalnya cuma gue yang tahu jalan tercepat dari sini." Malik mulai melangkah tanpa menunggu jawaban.
Biandara mendecih pelan, tetapi tetap mengikutinya. Saat itu, Biandara hanya menganggap Malik sebagai siswa bermasalah yang kebetulan menunjukkan jalan.
*****
next? jangan lupa vote yaa
KAMU SEDANG MEMBACA
Malik
RomanceMalik Zeonaldo Sagatha tak pernah percaya pada cinta. Baginya, hidup hanyalah tentang kebebasan, balapan, dan menjalani hari tanpa peduli siapa yang datang maupun pergi. Hubungan datang dan pergi, tapi tak pernah ada satu pun yang benar-benar mampu...
