Part 01 : Butterfly Effect

30 9 23
                                        

Part 01 : Butterfly Effect

Seberapa sering seseorang mengeluhkan hidupnya dalam sehari? Satu kali? Dua sampai lima, mungkin? Atau ... justru tidak pernah? Sering kali konflik hadir saat belum ada kesiapan, sehingga terkadang sulit untuk menerima tantangan dari semesta.

Itulah yang dirasakan remaja lelaki yang duduk di bibir kasur sembari memandang daun-daun yang hendak terpetik oleh angin di balik kaca jendelanya. Tidak adil, daun-daun tidak bersalah itu dipaksa gugur sebelum waktunya. Dia berpikir, untuk apa memberinya lara yang lebih awal?

"Sayang, makan malam sepuluh menit lagi, cepatlah turun!"

Lamunannya memburam, teriakan sang ibu seolah menyetrumnya. Dengan nada sedikit tinggi, dia membalas, "Baik, Ibu!"

Dia pun bangkit, melewati poster film aksi favoritnya yang menempel di dinding. Ada banyak hal yang dia gemari, tetapi yang paling disukainya adalah berpetualang. Remaja lelaki yang memakai kaus putih dengan celana jin selutut pun turun ke bawah untuk hadir di meja makan, tidak memedulikan kamarnya yang berantakan bak habis diledakkan bom.

Saat berada di anak tangga, mata cokelatnya dapat melihat dengan jelas apa makanan yang akan dia santap, tidak lain adalah berbagai jenis sayuran yang tidak dia sukai. Embusan berat menyertai langkahnya menuju anak tangga terakhir.

"Sayur lagi? Ibu tahu, kan, aku benci sayur? Aku tidak mau makan! Pesan saja pizza sekarang," keluhnya sambil melipat tangan di depan dada.

"Sayang, ayahmu yang menyarankan ibu memasak sayur, dia ingin kau mendapatkan vitamin yang cukup. Jangan mengeluh kali ini, ya, Sayang? Itu akan membuat ayahmu kecewa," tutur sang ibu. Nada bicaranya selalu lembut, membuat putra semata wayangnya kerap kali merasa tidak tega membalas.

Remaja lelaki itu duduk di kursi dengan wajah lesu, lalu memainkan gelas dengan garpu seperti stik drum. "Sebenarnya bukan kecewa, tapi marah. Sifat ayah sudah seperti itu sejak dulu, 'kan, Ibu? Ayah hidup seperti diktator yang membuat peraturan sesukanya. Tidak ada kebebasan!"

"Oh, jadi itu yang kau pikirkan, Anak Muda?"

Suara bariton itu mengejutkannya sampai-sampai garpu yang dipegang jatuh. Dia menengok ke pintu utama, ternyata ayahnya pulang lebih cepat dari kantor.

Sang ayah mendekatinya, lalu ikut bergabung di meja makan. "Akash, belajarlah dewasa, Nak! Ayah mendapat telepon dari Nyonya Niya, dia mengatakan kau bolos les lagi. Kali ini apa alasannya?"

Akash menunduk ketakutan, tetapi kedua tangan yang disembunyikan di bawah meja makan telah mengepal kuat. "A-ayah, teman-temanku memaksa untuk ikut membolos, mereka membawaku ke lapangan untuk bermain skateboard."

Hela napas berat keluar dari mulut sang ayah. Dia memijit pelipis dengan satu tangan, kemudian berujar, "Itu bukan pemaksaan, jika kau sendiri menikmatinya. Mulai sekarang tekunlah belajar, Nak. Ayah akan memberimu satu kesempatan lagi. Jika kau ulangi, ayah akan menjual skateboard-mu! Kau paham?"

Akash mengangguk beberapa kali.

"Sekarang sudah bersihkan kamarmu?" Pertanyaan sang ayah membuat Akash berkeringat dingin. "Jawab dengan jujur!"

"A-ayah, be-lum," jawabnya sambil memejam.

Pria yang masih memakai kemeja yang dibaluti jas itu menggebrak meja sedikit keras. "Ayah lelah dengan sikapmu, Nak! Kapan kau akan bertanggung jawab? Kau sudah 15 tahun! Bersikaplah sesuai umur! Apa ibumu yang akan terus membersihkan kamarmu? Tidak. Jadi, sekarang bersihkan kamarmu dulu, baru kau bisa makan!"

"Mandhar, apa yang kau katakan?" Ibu Akash akhirnya turun tangan. Perannya kali ini bukan sebagai pembela, karena dalam keluarganya, hanya ibu Akash yang bisa berpikir tenang saat ada pertengkaran sekaligus yang tertua. "Kau mau biarkan anakmu kelaparan, telat makan yang membuatnya sakit?"

"Mahika, jika kau terus memanjakannya, dia tidak akan berubah. Cobalah sedikit tegas padanya!" balas Mandhar sambil menatap kedua mata istrinya yang cemas.

"Aku tidak ingin berubah, Ayah! Aku tidak ingin menjadi orang kaku seperti Ayah!" pekik Akash tiba-tiba. Semua unek-unek yang dipendam selama ini telah keluar.

Tatapan Mandhar berpindah pada anaknya. Terlihat jelas Akash menatap balik ayahnya dengan tajam. "Beraninya kau berbicara seperti itu pada ayahmu sendiri! Seorang anak sepatutnya menghormati orang tuanya!"

"Dan, sebagai seorang ayah juga seharusnya memahami anaknya! Didikan Ayah yang ketat membuatku tidak bisa bernapas! Selalu saja tercekik!" balas Akash tidak kalah sengitnya.

"Akash! Tenang, Sayang! Jangan melawan ayahmu hanya karena masalah sepele!" Sang ibu mencoba melerai, sebagai penengah juga tidak mudah.

"Cukup sampai di sini!" Mandhar mengambil napas dalam-dalam guna mengendalikan emosi. "Jangan membantah lagi! Cepat bereskan kamarmu dan renungkan kesalahan yang telah kau perbuat, sekarang! Ini peringatan terakhirmu!"

Akash bangkit dari kursi, tatapannya masih tertuju pada sang ayah. Namun, pada akhirnya dia berlari ke kamar sampai suara saat menaiki anak tangga menggema ke seluruh rumah.

Tangannya sudah menggapai gagang pintu kamar, tetapi dia belum kunjung membukanya. Akash berbalik, menatap ayahnya yang masih berdiri di ruang makan. "Ya, aku anak nakal! Aku belum dewasa! Aku belum sempat membersihkan kamarku karena aku pulang 15 menit sebelum Ayah datang! Apa pun yang aku lakukan serba salah di mata Ayah!" Setelahnya, Akash masuk dan menutup pintu dengan keras.

Keheningan mengambil alih sementara. Makanan yang sudah tersaji dari tadi mulai mendingin, piring-piring yang sudah disiapkan pun masih kosong.

"Mau sampai kapan kau akan keras padanya? Sesekali tunjukkan cintamu padanya." Mahika mengelus bahu suaminya yang masih memandangi kamar anaknya dengan nanar.

"Sampai dia tahu apa perannya di rumah dan keluarga ini. Dia harus tahu bahwa ayahnya melakukan semua ini untuk menjadikannya mandiri. Dia juga harus tahu bahwa ibunya tidak akan selalu mendukung atau membantunya setiap saat. Aku hanya berdoa semoga dia dapat mengerti," balas Mandhar sambil tersenyum kecut.

***

Akash masih bersandar pada pintu kamar, menatap seisi kamar yang berantakan. Selimut yang menggumpal di antara bantal-bantal, kertas-kertas yang diremas berada di samping tempat sampah, seragam sekolahnya pun ada di lantai yang ditutupi karpet.

Kemarahannya belum reda, justru makin membesar. Bukannya membereskan, Akash malah makin memberantakkannya, seolah tengah mengeluarkan kekesalan terhadap ayahnya.

"Aku benci hidupku! Aku sangat benci!"

Usai menuntaskan pelampiasan, Akash kembali duduk di bibir kasur, memandang pohon yang berada di balik jendelanya. Masih ada beberapa daun yang bertahan, tetapi tidak mengubah peran angin yang kejam.

Pikiran Akash kosong. Mata cokelatnya kemudian melihat ransel berukuran besar yang berada di bawah meja. Dengan kekacauan yang ada, kesalahan fatal akan terbuat.

~o0o~

Before He Knew Stories to obsess over. Discover now