Dengan langkah yang gontai, wanita itu memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Aw!" pekiknya dengan suara yang nyaring.
Darah mengalir dari telapak kakinya yang putih. Ia memandangi kamar mandi yang keliatan sangat kacau. Terbukti dengan serpihan cermin pecah yang berserakan di lantai, alih-alih berada di keranjang sabun dan shampo, kedua benda itu malah berada di lantai kamar mandi.
Enggan membuang waktu, wanita itu berjongkok dan mengambil serpihan cermin untuk dibuang.
"Aw!"
Belum cukup telapak kaki yang terluka, kini jemarinya pun ikut terluka karena ujung serpihan cermin yang pecah.
Paginya benar-benar buruk. Oh tidak, bukan pagi yang buruk tapi hidupnya yang buruk.
🕊️🕊️🕊️
"Mau ke mana?" tanya wanita paruh baya yang melihat anak laki-lakinya sudah rapi dengan penampilan yang casual.
"Mau ke kantor ma, hari ini aku mau ketemu sama salah satu penulis," ujarnya sambil menyalami tangan sang ibu.
"Hati-hati ya, jangan ngebut kalau bawa kendaraan," tutur sang ibu memperingati.
Ia mengangguk, kemudian dengan Range Rover Velar nya pria itu membelah jalanan Jakarta yang sudah ramai. Langit Jakarta sedang sangat cantik hari ini, sama seperti suasana hatinya yang selalu cerah ketika menjalani hari.
Drrt..
Drrrt...
Konsentrasinya pecah ketika getaran ponsel disaku celana mengagetkan dirinya.
Dirga is calling
Pria itu menepikan mobilnya di pinggir jalan untuk mengangkat telepon.
"Lo dimana?" tanya seseorang di seberang sana, Dirga.
"Lagi di jalan menuju kantor."
"Lo beneran mau?"
"Iya. Emang kenapa sih?"
"Gak papa, cepet ke sini."
"Iya, bawel banget lo."
Kemudian, sambungan telepon terputus. Dirga, sahabat dekatnya sejak di Sekolah Menengah Pertama. Dirga adalah orang yang selalu mengerti isi hatinya tanpa perlu ia jelaskan. Saking dekatnya, beberapa teman mereka ketika di Sekolah Menengah Atas mengira bahwa mereka saling menyukai sesama jenis.
Pemikiran yang sangat konyol, mana mungkin dia penyuka sesama jenis. Dia masih sangat normal, lagi pula pria juga membutuhkan teman dekat yang bisa diajak berbagi cerita tentang masalah hidup.
🕊️🕊️🕊️
"Arunika, udah lama nunggu?" tanya seorang pria dengan kemeja cokelat dan celana kain berwarna hitam.
Menatap sebentar ke arah lawan bicaranya, Arunika berkata, "Nggak juga, Pak Dirga."
Dirga bekerja di bagian departemen pemasaran di penerbit yang menaungi Arunika sebagai penulis. Arunika sudah menandatangani kontrak dengan penerbit ini selama lima tahun. Ini adalah tahun kedua Arunika bekerja sebagai penulis di penerbit ini.
Tiba-tiba seseorang datang dan duduk di samping Dirga.
"Sorry lama, tadi kejebak macet," kata orang itu.
Arunika mengangkat pandangannya yang sejak tadi merunduk menatap buku-buku yang yang sudah ia terbitkan selama dua tahun ini.
Pria itu balas menatapnya. Ia mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
YOU ARE READING
IMPERFECT
General FictionArunika berteriak, "Lo nggak akan ngerti, karena lo gak berada di posisi gue!" "Gue gak akan paham kalo lo sendiri gak mau cerita. Gue bukan cenayang yang bisa tahu isi hati dan pikiran orang lain," balas Alister setelah menghela napas sebelumnya. A...
