Kehilangan seorang kekasih menjadi hal terberat bagi seorang Andhira. Rasa trauma yang mendalam membuat Andhira pasrah akan kendali kehidupan atas dirinya.
Disaat yang sama, Andhira kembali menemukan sahabatnya yang sudah lama menghilang.
Hilangnya...
Di ruang tamu yang cukup besar, dengan cat kamar yang dominan berwarna biru tua, terdapat seseorang wanita cantik berumur 25 tahun yang berusaha mengetuk pintu kamar sang suami berkali-kali sedari tadi. Wanita itu sadar, baru saja ia telah memaki suaminya dengan terlalu berlebihan perkara masalah dapur. Tetapi dengan kepala yang tegar, dia berusaha meminta maaf kepada suami tercintanya itu.
"Assalamu'alaikum Sayang, boleh Andhira masuk?"
Andhira yang sedari tadi berdiri hampir lima menit mengetuk pintu, kini sudah mulai hilang kesabaran. "Sayang, udah gak lucu ah main ngambek-ngambeknya! Kaki aku pegal tau. Lima menit ngetuk pintu, suaranya kagak ada! Jangan sampai aku dobrak pintu ini ya! Harusnya aku tau yang ngambek! Kamu--"
Wanita itu mendecak sebal, setelah menyadari pintu tidak dikunci sedari tadi. "Ngapain aku dari tadi lima menit, dasar cowok nyebelin!"
Derit engsel pintu kamar pun terbuka dengan terdengar sedikit ngilu, seiring langkah kaki Andhira memasuki kamar. "Sayang? Udah yaa--"
"AAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!"
Andhira tiba-tiba berteriak histeris. Tubuhnya mematung tak bergerak.
Apa, siapa dan bagaimana ini terjadi...?
Mengapa semua terjadi begitu cepat.
Siapa yang menyelinap masuk...?
Sungguh, antara percaya dan tidak percaya yang dilihat dihadapannya saat ini.
Fikirannya tiba-tiba hilang tanpa arah dan tujuan ketika melihat beberapa pisau dapur telah tepat tertusuk di leher dan dada suaminya.
Dengan cepat Andhira berusaha meraih ponsel dan menelfon siapapun yang ada di kontaknya untuk meminta bantuan. Setelah itu dia berusaha menekan luka suaminya disekitar pisau itu dengan kedua tangannya sekuat tenaga, membuat lengan Andhira dipenuhi dengan bercak-bercak darah suaminya.
BRAKKK!
Andhira tersentak saat mendengar jendela kamar disekitarnya sudah ambruk dan mulai berjatuhan dari lantai dua.
"KURANG AJAR SIAPAPUN KALIAN!!!" Andhira seketika berteriak kencang, ia menangis seraya memberanikan diri untuk bangkit dan mencoba melompat dari atas jendela untuk mengejar pelaku-pelaku yang diyakininya bertanggung jawab atas penusukan suaminya.
BRAKKK!
"ANGKAT TANGAN!!! JANGAN BERUSAHA KABUR ANDA!!!!" tiba-tiba teriakan kencang beberapa polisi memenuhi seisi ruangan. Dengan cepat Andhira berbalik arah dan mengurungkan niatnya untuk mengejar pelaku. "Saya melihat pelakunya kabur lewat jendela ini, Pak! Mereka belum terlalu jauh! Segera tangkap mereka Pak!!!!"
"Alahhh, saya sudah melihat ribuan reka adegan penipuan seperti anda! Anda tak perlu mengelak, sudah jelas kamu sudah posisi mau kabur dari kami! Sudah, bahas semua pembelaan anda di pengadilan!"
Seketika sorot-sorot lampu kamar mulai hidup-padam, ia tak percaya yang didengarnya sekarang. Air mata dimatanya kini semakin deras melewati pipinya.
Sungguh, ia ketakutan sekarang.
Dengan cepat ia memeluk suaminya dengan erat. "Aku istrinya...tak mungkin aku membunuhnya, Pak! Apakah kau tidak punya otak, ha!!!"
"Sayang...pergi dari sini..." tiba-tiba lirih sang kekasih dipangkuannya terdengar jelas ditelinga Andhira. Suara sang kekasih membuat Andhira tersenyum dan bernafas lega karenanya "Ali...Kau sudah sadar, sayang...hiks..Aku kira--"
"Lari...sayang. Dia yang mencoba membunuhku! Sembunyi..." ucapan lelaki itu kini merubah senyum Andhira menjadi padam. Ia masih mencoba mencernea ucapan Ali barusan. "Ha...Bagaimana?!"
"Tidak ada waktu lagi...sayang! Pergi!" pekik lelaki itu.
"Tidak akan, Ali!"
Tanpa fikir panjang, Ali mencoba mendorong tubuh Andhira dengan seluruh kekuatan yang dia punya, memaksa wanita itu segera pergi.
"BERHENTI!!!" teriak polisi.
Dengan kondisi jendela yang terbuka lebar, dan tempat pedaratan rerumputan yang tinggi, dengan cepat Andhira berusaha melompat kearah jendela untuk kabur.
DOR! DOR!
Dua buah letusan senjata terdengar kencang dari dalam rumahnya Andhira.
Kekasihnya sekarang benar-benar sudah tidak bernyawa lagi setelah dua tembakan polisi kepada Andhira ditahan sekuat tenaga oleh Ali.
"SEMUANYA!!!! TANGKAP PELAKU PEMBUNUHAN ITU!!!!
¡Ay! Esta imagen no sigue nuestras pautas de contenido. Para continuar la publicación, intente quitarla o subir otra.
Wanita itu mulai mempercepat langkahnya menuju sungai kecil di ujung gang belakang rumahnya. Ia berusaha berlari sekuat tenaga disertai tangis yang tak henti-hentinya mengalir diwajahnya.
Sesampainya disana, tanpa fikir panjang ia langsung terjun kedalam sungai itu untuk menghilangkan jejaknya.
***
Kaki kecil wanita itu mulai melangkah menyusuri gang dengan jalanan yang kotor pada malam itu. Udara dingin tak berefek apapun dibanding dengan kondisi hati dan mentalnya sekarang.
Dari jauh wanita itu bisa melihat, begitu ramai warga-warga yang ikut menuduhnya sebagai pelaku kriminal. Wanita itu mendesah samar, menduga jika sebentar lagi ada polisi yang menuju ke lokasinya. Ia menarik napas berusaha tenang, lalu perlahan melanjutkan langkahnya ke area yang lebih aman.
"HEI!"
Bagaikan diri yang sudah tidak berdaya, kini nafas wanita itu sudah tak menderu tak beraturan. Baru saja ia berfikir berbalik badan untuk mencari tempat yang aman, sialnya seseorang telah menemukan dia dijalanan yang sempit itu. Ia tidak tahu siapa yang memanggilnya, tetapi dia mencoba mengangkat tangan untuk menyerah. "Hei aku bukan polisi, kocak! Kau tak ingat suaraku, Andhira?"
"Ghea...?"
***
Stay tuned dan jangan lupa meninggalkan jejak berupa vote dan komen ya teman-teman.
Jangan lupa dishare ke teman-teman yang lain. Aku harap teman-teman suka ceritanya.