Kejanggalan kematian seorang siswi di SMA Wismagama
membuat Arsen mencurigai ada yang tidak beres di sekolahnya.
Belum lagi ia menemukan ada dua siswa sebelumnya yang diduga bunuh diri dengan tidak wajar bahkan hal tersebut tidak dipermasalahkan o...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Tap
Tap
Deru larian seorang cewek ke rooftop sekolah, keringat bercucuran mengalir didahinya. Napas yang terengah-engah membuatnya akan segera tiada. Kini ia telah sampai di rooftop sekolah, angin malam hari membuat bulu kuduknya berdiri.
Tlap
Suara langkah seseorang yang memakai sapu tangan hitam, berjalan menuju ke cewek dengan rambut teruai panjang berwarna hitam, seragam putih abu yang berantakkan serta sepatu putihnya yang kotor, terengah-engah memegangi dadanya yang terasa diremas.
"J-jangan, kenapa begini?" ucap cewek rambut hitam itu dengan mengangkat satu tangannya berharap menghentikan orang itu.
"Karena semua ini demi dia!" teriaknya bersamaan dengan deru angin malam.
...
.
.
Seorang cowok dengan tubuh malasnya, raut wajah yang frustasi serta gaya rambut yang tidak terurus menuju ke ruang OSIS, hendak ia mendudukkan dirinya di sofa khusus ruang OSIS, dari pintu ada seseorang yang memanggilnya.
''Ar, lo nggak ke sana? Gue kira lo bakal bolos hari ini buat ke rumah dia!'' sontak seorang cewek bertopi melipat kedua tangannya di dada bersandar pada tiang pintu.
''Dilarang sama ortu, padahal gue ingin banget ke sana... sial!'' keluh Arsen mengusap kasar wajahnya.
''Sabar, kita sekelas. Bentar lagi juga pengumuman buat melayat ke rumahnya! Gue ke kelas dulu ya!'' ujar Nata melambai pada Arsen lalu pergi dari ruang OSIS.
Ya, tepat pukul 3 dini hari. Ada kejadian di sekolah itu. seorang siswi bunuh diri dengan loncat dari rooftop sekolah. Pihak sekolah langsung mengurusnya sendiri dengan membawa siswi itu ke rumah sakit dan ternyata dinyatakan tidak selamat pukul 5 pagi.
Tak dipungkiri berita itu tersebar keseluruh sekolah, Arsen sebagai pacar dari siswi itu yang bernama Ratu Margantara ingin sekali ke sana tapi dilarang telak oleh orang tuanya. Sedangkan ia anak yang penurut.
***
.
.
"Gosip terbaru gess! Salah satu siswi di sekolah kita ada yang bunuh diri lagi... Hampir sama lagi kejadiannya!" celetuk seorang cowok menonggol dalam gerombolan ghibahan para siswi.
"Udah tahu kali! Eh, tapi kita baru naik kelas 11 lima bulan ini loh. Berarti dalam satu tahun setengah, ada tiga?"
"Nah, ini yang bikin gue penasaran... Semuanya... Angkatan kita, walaupun bukan satu kelas sama kita sih. Tapi seangkatan dan ini termasuk salah satu yang paling menyeramkan dalam sejarah kelam sekolah ini. Menurut gue ya, angkatan kita ini pembawa sial!"
"Ngaco lo, berarti lo anggap diri lo itu sial?!"
"Nyatanya!"
"Gila lu, jujur amat jadi bocah!"
"Dih, gue bujang!"
"Ck! Serah lu!"
"Aduh, kapan gue punya temen buat diajak obrolan seru! Lo pada emang anjing, penurut banget!"
"Terus lo apa? Setan! Banyak ngelanggar aturan."
"Ha ha ha!"
Putra cowok yang tadinya sangat antusias untuk membeberkan rumor ini malah ditolak mentah-mentah oleh segerombolan siswi tadi. Ia masuk kembali masuk kelasnya beberapa temannya mengejeknya karena mencoba untuk bergabung dengan para cewek karena modus ingin dekat dan terkenal di kalangan cewek.
"Put, lo bener-bener kejar kepopuleran lo diantara cewek itu ya!"
"Tanpa caper gue emang udah populer kali, nggak kayak kalian!"
"Yaelah, nyatanya lo ditolak mentah-mentah tuh sama para cewek!"
"Itu bukan ditolak tapi di usir secara kasar!" sanggah Putra berkacak pingang.
"Sama aja kali!"
"Eh tapi lo pada nggak penasaran apa kenapa di Angkatan kita tuh banyak yang bunuh diri?"
"Lo harusnya bisa mikir sendiri Put! Lo tahu kan sistem pendidikan di sekolah ini kayak apa? Ada pake pembagian kelas terbaik, sistem rangkingan disetiap mata pelajaran, kini pun PR harus ada setiap hari dikarenakan UN ditiadakan, kurikulum yang pelajarannya harus kita pelajari sendiri...'' cowok dengan gaya rambut undercut itu mendengus.
''... Gimana nggak mau bunuh diri kayak gitu! Cuma orang dengan mental kuat yang masih bertahan sampai kini!"
Mereka menatap Zidan sebagai ketua kelas, terperangai oleh perkataan Zidan yang mewakili perasaan semua siswa di kelas itu.
"Harusnya lo ngomong sama Kepala Sekolah, bukan kita!" sewot Putra berkacak pinggang.
"Ogah!"
"Lah gimana, Pak ketu!" Putra mengejar Zidan dengan merayunya untuk mau, anak kelas geleng-geleng maupun tertawa melihat tingkah dari si pembuat onar di kelas, Putra.
...
.
.
Mala dan Kezia berniat untuk ke kantin lalu dari belakang Selly yang sejak tadi merenung akhirnya menghampiri dua sahabat itu.
"Gue ikut boleh nggak? Gue juga laper nih!" pinta Selly memegang perutnya.
"Ayo, ada yang mau ikut juga nggak?" ajak Mala, ia tahu ada beberapa siswa di kelasnya yang pemalu ingin meminta ditemani ke kantin. Tapi menahan lapar karena tidak ada yang mau diajak.
"Gue!" saut Putra yang sedang tengkurap di lantai lalu perlahan duduk agar bisa dilihat Mala. "... Gue minta dibeliin, es teh ya!"
"Oh berarti nggak ada yang ikut lagi ya, oke!" ucap Mala pergi menghiraukan Putra.
"Woi, mak lampir... Gue.... " ledek Putra tapi Mala sudah pergi.
Mereka bertiga jalan bersama ke kantin, Kezia berada di tengah dengan menggenggam tangan Mala. Melewati lorong kelas 11 lalu menuruni tangga hingga sampai di kantin. Menuju ke kantin itu bak jalan marathon, jadi tidak heran setelah lulus nantinya mereka akan kurus.
"Oh ya, kalian berdua sahabatnya almarhum Ratu kan? Kalian berdua bakalan ikut layat?" tanya Selly dan dijawab anggukan Mala lalu Kezia.
''Padahal kita niatnya mau ke sana tadi, eh, malah katanya nggak boleh!'' keluh Mala.
"Hm, gue ngerasa aneh deh! Kenapa nggak dibolehin ke sana dulu dan nggak ada polisi ya?" heran Selly.
"Tidak ada, Bener Kan? Gue juga heran, walaupun itu bunuh diri tapi setidaknya diselidiki dulu kan?" saut Mala yang juga merasa aneh akan hal itu, apalagi Ratu adalah sahabatnya.