Aku bersenandung ria sembari tersenyum cerah selama perjalanan menuju kelas ku. Beberapa kali aku bertegur sapa dan melambai pada siswa dan siswi lain yang menyapa diriku.
"Amaraa~" suara halus seseorang yang ku kenal menyapa indera pendengaraanku.
Diriku berhenti melangkah dan berbalik, seketika netraku mendapati sosok seorang gadis cantik dengan kulit putih dan rambut sepunggung yang berlari kearah ku dengan menggenggam tali dari tas ranselnya.
"Habedee sayangku~ mat sweet seventeen yee ciee udah 17 tahun nihh" ucapnya ketika sudah berhenti didepan ku
"Wkwk, iya dongg udah bisa bikin ktp hehe" cengir ku sok malu
"Haha, yok ke kelas" ajak Vanila, lalu setelahnya kita berjalan beriringan menuju kelas sambil mengobrol seputar trend terkini, film yng akan tayang, apakah crush ku akan mengucapkan selamat ulang tahun pada ku dan sebagainya.
"Oh ya btw, lo sama Anjani udah baikan kan?" Tanya ku pada Vanila.
Bisa ku lihat seketika Vanila terdiam dan bungkam. Bibirnya yang tadi menampilkan senyum manis kini memudar. Ia engan menjawab.
Baiklah, aku paham, mungkin mereka masih belum bisa mengerti, atau mungkin Vanila masih gengsi untuk mengucapkan maaf pada Anjani, mengingat sifat sahabatku yang satu ini sedikit arogan dan sangat menjunjung harga diri juga gengsi setinggi langit.
"Hahh, yaudah deh... kira-kira Anjani udah hampir seminggu ga masuk kenapa ya?" Tanyaku yang sedikitt mengalihkan topik
"Gak tau... orangnya ga masuk tanpa keterangan" jawab Vanila acuh.
Tak ada percakapan lagi sampai kita memasuki kelas. Saat dikelas hal yang pertama menyambutku adalah segerombolan siswi-siswi yang terlihat sibuk bergosip.
Tak seperti biasanya, karna kali ini entah kerasukan apa siswa laki-laki juga banyak yang bergabung pada gosip yang dibahas.
Terlihat salah satu siswi entah kenapa secara tiba-tiba menunjukku atau lebih tepatnya kami. Aku dan Vanila
"Eh Mara! Vani!! Kok Anjani bisa meninggal??!"
Deg
Entah mengapa dadaku tiba-tiba sesak tubuhku tersentak kaget. Perasaan mengganjal hinggap padaku. Apa maksudnya? Meninggal? Anjani?? Sahabatku?
"maksudnya apa? Kalau bercanda ga usah kelewatan gitu" jawab Vanila kesal dan judes, tapi jika didengar baik-baik suaranya terdengar sedikit ragu dan khawatir.
"Gw ga bercanda! Emang kalian ga tau kalau sahabat kalian menghilang sejak seminggu yang lalu? Dirumahnya banyak darah Kering berceceran!"
" Maksudnya apaan sih? Ga usah ngaco deh lo!!" Vanila membentak
"Anjani ga mungkin meninggal! Lagi pula itu belum pasti kan kata pihak kepolisian" sahut Rifa salah satu teman sekelas kami
Anjani?? Meninggal?? Sahabatku menghilang?? Tidak mungkin!! Beberapa hari yang lalu anjani berjanji untuk memberikan hadiah spesial untuk ku?
Apa ini hadiahnya??
Aku terdiam mencerna perkataan mereka. Tidak mungkin!! Mereka itu hanya bercanda!! Tapi kenapa bercanda mereka sangat keterlaluan?
Apa ini adalah salah satu rencana kejutan hari ulang tahun ku? Kenapa rasanya sesak? Samar-samar ku dengar suara Vanila yang berteriak marah pada teman sekelas ku. Entah apa yang diucapkan aku tidak dapat mendengarnya dengan baik.
Entah apa yang terjadi, kepala ku sangat pusing. Jantungku sakit seperti di tusuk tusuk ribuan jarum tak kasat mata.
Dan kegelapan menghampiriku.
•
•
•
•
•
•
•
•
450 kata
To be continued
Haii gaiss, welcome to my second story!!
Jadi kali ini Ran bakal bawain cerita fiksi normal (bukan fantasy). Tentang seorang sahabat yang mencari keadilan untuk kematian dan hilangnya sahabatnya!!
Penasaran?? Ikutin terus yaa cerita ini!! InshaAllah ga ngebosenin kokk. Klo ada saran dan kritik diungkapin aja yaa! Ran bakal selalu nerima kok,.asal ya jangan negative banget hehe.
Untuk prolog emang singkat ya gais, jd cuma ratusan kata doang. Tapi tenang, untuk chapter selanjutnya bakal kayak cerita aku yang lain yaitu lebih dari 1000 kata
Jangan lupa vote, coment, share dan juga follow akun wp aku yaa!!! itu semua asupan aku buat semangat update!!!
Makasii yang udah mampir!! Semoga suka ya sama cerita ke dua aku
Publised– 5 February 2024
YOU ARE READING
PLOT TWIST
RandomAmara tak menyangka dihari ulang tahun ke 17 yang ia nanti-nantikan menjadi hari terburuk untuknya sendiri. Alih-alih mendapat hadiah indah dari sahabat nya, ia malah mendapatkan kabar hilangnya sang sahabat dan berbagai hipotesis orang-orang bahwa...
