Bab 1
BEM
* * *
POV Larasvati Zoyandra
Aku seketika ingat betul bahwa rasa sakit itu hadir ketika tubuhmu memberikan ruang untuk mereka berkembang di sana. Di lubuk hatimu. Kerap kali yang aku tekankan dalam hidupku adalah seperti apa yang akan terbentuk saat aku seperti ini, melewati yang tidak pernah aku tahu sebelumnya, atau melewati yang berulang kali aku alami. Sehingga aku merasakan bahwa kesulitan itu jadi bukan hal spesial dan baru. Aku seringkali disapanya.
"Zoya," Sebutan untukku yang hanya seorang dari banyaknya yang mengenalku di kampus ini. Tidak pernah aku duga bahwa sudah lebih dari satu dekade dia berteman denganku.
Maksudku, kamu mengertikan bahwasanya ada satu sikap buruk yang ada padamu tidak dipahami dan disalahartikan oleh orang lain. "Bales dong, diem aja, kumat nih cueknya."
Hana mengenyampingkan tas model shoulder bag itu, "Bawa apa aja sih? Berat banget." Dia mendengus sembari mengomel meletakan tas itu di meja. Lalu tangan kanannya dengan cekatan mengambil ponselku lalu memesan makanan.
Kampus ini terbilang sudah mengikuti modernisasi dalam bidang kuliner. Seperti untuk memesan makanan saja sudah menggunakan aplikasi buatan Tim IT ternama di sini. Hingga memudahkan transaksi dan efisiensi waktu.
"Aku mau mie ayam, kayak biasa kan kamu?"
Sebenarnya hari ini aku sedang tidak selerasa makan. Aku terpikirkan satu hal yang sama sekali belum aku pecahkan teka-tekinya. Ya, solusinya masih membeku di kepalaku. Aku butuh sesuatu untuk mencairkannya, biasanya dengan berdiam diri di rumah.
"Aku nggak deh, tolong pesankan jus alpukat aja." Hana mendelik dan memberikan tatapan tidak senang. Seakan di matanya tersorot, "Bisa-bisanya dia nggak pesan makan?!"
"Kenapa?" Segeraku kembali menatap layar laptop setelah meliriknya sebentar. Aku tahu sebentar lagi akan ada banyak kecaman dari mulutnya itu. Sampai berbusa dia bisa saja menghabiskan tenaga untuk mengomeliku.
"Ck, nggak jadi. Moodku lagi bagus. Zoy, kamu tahu nggak sih Pak Arkhana. Yang wajahnya modelan aktor Turki, entah kenapa hari ini dia punya hati."
Sudahku duga, kalau tidak mengomeliku dia akan bercerita panjang lebar tentang pria itu. Kerap kali yang keluar dari mulutnya itu makian, tidak lama dari itu keluar pujian. Persentasenya nggak terlalu jauh kok, bisa dibilang sama, karena Hana tipikal benci tapi juga senang dengan seseorang itu.
"Tumbenan ya," aku merespon sembari melirik notifikasi di ponselku. Ada pesan yang muncul dari seseorang yang aku perhatikan nomor itu tidak aku simpan.
Segeraku alihkan jari-jemari ini yang semula bergemulai bergerak di atas keyboard, langsung mengambil ponsel yang tergeletak terbuka di samping lengan kiriku. Perlahan sembari berpikir apa yang akan terjadi. Aku tidak merasa aman dengan ini. Aku rasa hanya segelintir orang yang berani mengabariku.
Lagi-lagi aku tekankan, bahwa tidak banyak orang yang menyukaiku. Mereka terlalu sempit dalam menilai dan melihat.
"Barangkali beliau lagi senang gitu, kamu tahu kan kayak anak muda, walau usianya nggak jauh dari kita, tapi pesonanya itu lho ....."
Aku masih memerhatikan angka nomor itu, seperti pernah aku hubungi nomor ini. Lalu aku menekan info kontak, barangkali pernah berkirim pesan atau menghubungi via telepon, nihil, aku tidak tahu ini nomor siapa.
YOU ARE READING
Love Scene | Soonhoshine x LenLima
Romance#collabsoonhoshinelenlima | @soonhoshine x @renyuzuru Aku terjebak dalam sebuah kisah bersama seorang gadis yang kerap kali membingungkan. Momen-momen bersamanya berkamuflase menjadi kaset yang kerap kali aku putar untuk menilik sejauh mana kita aka...
