Bab 1. Kedai Es Krim

27 6 1
                                        

HAPPY READING!

.

.

.

.

Di bawah guyuran hujan deras, Ira berteduh di warung makan pecel lele pinggir jalan, memandang kosong ke arah bangku berwarna putih di tengah taman, terdapat jajaran bunga warna-warni yang mengarah ke danau buatan di tengahnya.

Adira Nafila begitulah nama lengkapnya, seorang remaja yang menurut orang-orang biasa saja karena dia memang seperti remaja pada umumnya, bukan anak geng motor, bukan anak tunggal kaya raya, bukan ratu bully bukan juga anak kesayangan keluarga, mungkin nilai lebihnya adalah dia anaknya cukup cerdas tapi sayangnya menyimpan banyak sekali tanda tanya besar di benaknya. Ia sering kali menatap kosong, mencoba mengingat apa yang pernah terjadi di bangku taman itu yang membuat dirinya ingin selalu berada di sana juga kejadian di masa kecilnya.

Mengenang, kata itu cukup menggambarkan dirinya saat ini. Ira tak pernah sedikitpun mengingat apa yang terjadi di masa lalunya, jika saja mama dan papanya tidak memberitahu bahwa gadis itu adalah putri mereka, Ira mungkin tidak tahu siapa dirinya.

Hujan belum juga reda, Sudah hampir pukul tiga sore, itu berarti sudah dua jam Ira tak beranjak sedikit pun dari tempat duduknya di dalam tenda warung makan itu.

"Kayaknya lo kedinginan, ini minum dulu." Salah satu pengunjung menyodorkan segelas teh hangat.

"Tidak, terimakasih," jawabnya dihiasi senyum manis nan ramah.

Pikirannya sore ini sangat kacau. memang benar mama dan papanya sudah menceritakan tentang masa kecilnya tapi tetap saja sulit untuk Ira mengingat semuanya. Rasanya sangat sakit ketika ia berusaha keras memunculkan memori lama itu dan membuat kepalanya terasa berdenyut hebat. Sakit sekali.

Dilihatnya hujan yang mulai mereda, gadis itu Bersiap membuka payung yang dia bawa di dalam tasnya dan beranjak keluar dari tempat itu.

"Hey tung-," panggil laki-laki tadi pada Ira.

Laki – laki itu menatap punggung Ira yang semakin menjauh. Sorot matanya menyiratkan kegelisahan amat dalam.

Dengan rasa bersalah yang amat besar, laki-laki itu selalu mengulang kata maaf dari mulutnya, sementara sorot matanya dengan jelas menggambarkan rasa bersalah yang mendalam

Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Dengan rasa bersalah yang amat besar, laki-laki itu selalu mengulang kata maaf dari mulutnya, sementara sorot matanya dengan jelas menggambarkan rasa bersalah yang mendalam.

***

"Ayo dong kita pesan sekarang, yaa mau icip – icip nii," dengan mata puppy eyes itu Fara tak pernah ditolak permintaannya, terlihat lucu dengan pipi gembulnya dan matanya yang bening tapi kadang dia suka tak percaya diri dibanding teman – teman yang lain. Istilah body shamming sepertinya masih terngiang di kepala gadis itu.

Asik menikmati waktu, tak ada yang mengira bahwa seseorang sedang memperhatikan Ira dengan intens tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun. Sampai pada saat Fara beranjak untuk ke toilet dia menyadari seseorang itu sedang memperhatikan temannya, Ira.

Diantara BayangWhere stories live. Discover now